Bingung. . .
Alam raya seluas itu
Tapi mauku cuma kamu
~Wahyu
Hari ketiga mpls semua panitia terlihat lebih sibuk dari hari kemarin, hari ini kegiatan kelas sepuluh adventure atau jelajah sma dan pensi, setelah adventure menjelajahi setiap isi sma prada kelas sepuluh diberi waktu setengah jam untuk menampilkan pensi per kelas mereka karena pensi ini bukan hanya teman-teman mereka yang kelas sepuluh saja yang akan menonton namun juga kakak kelas mereka dari kelas sebelas dan dua belas juga guru-guru yang mengajar di sekolah ini.
Lea sedari tadi disibukkan dengan laporan pertanggungjawaban sekretaris yang sudah diminta pembina osis, untung saja badannya sudah enakan sehingga ia bisa berangkat tadi.
Setelah memberi semangat pada adik ampuannya yang akan menampilkan drama kebersihan ia kembali ke mabes, rea juga sudah melakban kertas yang selesai di print untuk dijadikan satu file. Sindy dan alya juga sibuk menggarap anggaran dana di excel.
"Le tinggal dua lembar lagi selesai" kata rea membuat lea bernapas lega.
"Huhh akhirnya, jadi nanti kita bisa melihat pensi ya" senang lea
"Iya, seneng banget gue" semangat rea yang bisa menyelesaikan tugasnya.
"Le lpjnya udah apa belum?" tanya reta yang baru datang bersama rozi.
"Udah nih, yang ini nanti buat backup" Sambil menyerahkan dua file pada reta.
"Oke makasih ya lea, rea" kata reta.
"Sama-sama" jawab lea dan rea.
"Nanti absen sama data anak yang telat bacain pas evaluasi ya le" perintah rozi.
"Oke deh"
Reta dan rozi berlalu pergi dari ruangan lea, tak lama kemudian adik kelasnya yang menjabat sebagai sekretaris 1 dan 2 datang menyerahkan absen pada lea.
"Ini kak absen hari ini" ujar putri sekretris 1 kelas sebelas.
"Makasih ya dek, nanti kalian kalau nganggur bantu yang lainnya aja" pesan lea pada putri dan nabila.
"Iya kak siap" jawab mereka.
"Le mau keripik ini nggak?" tawar rea yang memakan keripik.
"Dapet dari mana lo?" tanya rea heran.
"Kelas ampuan gue, tadi mereka bungkus jajan yang dikumpulin" jelas rea yang di jawab lea dengan anggukan lalu memilih makan keripik bersama rea.
Tak terasa satu bungkus camilan sudah mereka habiskan lalu lea dan rea keluar mabes menuju lapangan, lea menghampiri kelas ampuannya yang sudah duduk ditenda barisan nomer empat disana terlihat mereka masih antusias menyaksikan acara pembukaan puncak acara mpls.
"Acara selanjutnya adalah demo ektrakulikuler ada ekstra tari, marcing band, paskupbara, KIR, PMR, teater, voly, basket, rohis, pecinta alam, olimpiade, karawitan, musik, dance, eso campus yang akan menampilkan. Setiap ektra durasi waktu lima menit setelah itu dilanjut pensi dari panitia setuju nggak panitia juga nampilin pensi sebagai contoh" Kata Ine pembawa acara.
"Setujuuuuuu"
"Tapi panitia nggak latihan, nggak jadi deh" sahut fadil yang juga pembawa acara.
"Huuuu jadi dong kak" teriak kelas sepuluh heboh.
"Lihat nanti ya adek-adek, sekarang mari kita saksikan demo ektrakulikuler SMA PRADA" teriak ine semangat membuat semuanya ikut bertambah semangat.
Antusias kelas sepuluh ditambah penonton kelas sebelas dan dua belas yang berada dipinggir lapangan, beberapa juga melihat di gazebo dan koridor kelas yang menghubungkan langsung dengan lapangan membuat acara ini semakin meriah, bahkan guru-guru juga tak mau kalah mereka ikut menonton acara yang sudah disiapkan panitia.
Atha, reta dan rozi sudah memposisikan diri di depan sebagai juri pensi dan dua orang guru yang ikut menjadi juri. Juri berada di depan dengan meja yang sudah disiapkan. Anak konsum sibuk memberi snack pada juri, humas masih mondar-mandir memanggil ekstra yang akan tampil, sie acara juga tak kalah sibuknya memberi perintah agar acara berjalan sesuai jadwal sehingga tidak molor.
Bahkan jika ada ekstra yang menampilkan demo lebih dari lima menit akan langsung ditiupi peluit, demo ekstrakulikuler ini untuk menarik perhatian kelas sepuluh serta memberikan gambaran apa saja kegiatan yang dilakukan per ekstra jadi semacam pengenalan yang dibuat sekreatif mungkin oleh setiap ekstra agar menarik.
"Wah acara demo ektakulikulernya udah selesai, gimana seru nggak adik-adik" Ujar fadil begitu demo ektrakulikulernya selesai.
"Seruuuu bangetttt" sahut mereka.
"Serunya apa dek?" tanya ine.
"Kakak yang ngedance cantik semuaa" sahut anak cowok.
"Kakak basketnya keren kak" sahut anak perempuan tak mau kalah.
"Wah kayaknya udah punya calon gebetan nih ya" kata ine lagi.
"Tapi kalau udah punya langsung pepet terus ya dek biar nggak keduluan yang lain" fadil menimpali.
"Kayaknya mas fadil punya nih" sahut ine.
"Punya tapi dia nggak peka-peka gimana dong" jawab fadil yang langsung mendapatkan sorakan dari anak kelas sepuluh bahkan kelas sebelas dan dua belas yang menyaksikan mereka di panggung ikut bersorak.
"Kalau boleh tau siapa nih mas fadil, kayaknya pada kepo semuanya nih ya nggak adik-adik" kata ine lagi membuat semangat semua orang untuk tahu.
"Iya, siapa kak"
"Spill nama kak"
"Kamu ne" jawab fadil membuat sorakan dari semua orang, bahkan ine sendiri kaget namun ia kembali menormalkan mimik wajahnya.
"Cieeeeee"
"Jadian, jadian"
"Cocok kok kak"
Rea yang melihat sedikit kasihan terhadap ine, pasti temannya itu malu.
"Fadil becandanya keterlaluan sih, kalau ine baper gimana" gerutu rea posisinya dibelakang anak kelas sepuluh.
"Cewek tuh suka nggak peka ya, giliran serius dianggep becanda. Ngomongnya cowok yang suka ghosting padahal emng ceweknya aja yang nggak peka" tiba-tiba saja wahyu sudah berdiri disamping rea dan menyahut.
"Ya cowoknya aja genit kesemua orang gimana ceweknya mau peka, iya kalau cowoknya serius kesatu cewek kalau nggak? cewek tuh bukannya nggak peka tapi mereka jaga hatinya biar nggak sakit kalau jatuh sendirian" jawab rea namun tatapannya masih ke arah panggung.
Mendengar jawaban rea wahyu hanya terdiam mencoba mencerna semua ucapannya gadis pujaannya itu.
Namun ine berhasil mengalihkan perhatian mereka.
"Kita lanjut acara berikutnya ya karena waktu semakin mepet, tapi sebelumnya ada penampilan dari panitia dulu nih" ujar ine membuat semua panitia heran pasalnya mereka tidak ada rencana untuk menampilkan pensi.
"Kalian pasti nunggu banget nih, langsung aja kita sambut penampilan dari ketua osis kita ya" kata fadil membuat atha yang tadinya duduk santai jadi kaget.
"Ayo kak atha dipersilakan naik ke panggung" perintah ine.
Atha yang kaget berhasil menguasai dirinya ia lalu naik ke atas panggung karena dorongan dari rozi dan andre yang menjadi sie dokumentasi sehingga ia berdiri disebelahnya sambil membawa kamera.
"Sebelumnya kakak bingung mau menampilkan pensi apa dari panitia, dari pada mengulur waktu kakak mau nyanyi" ujar atha setelah menata gitarnya.
"Kak Athaaaaa"
"Semangattt kakk"
jreng jreng
Begitu atha memainkan gitarnya semua orang terdiam, lapangan yang tadinya bising jadi hening menunggu laki-laki pujaan satu sekolah itu menyanyi.
Kasih andai anganku bersuara dia kan bernyanyi
Rapsodi indah yang kan bermuara di fajar hati
Kelingking kita berjanji
Jari manis jadi saksi
Bahagia
Hingga sang bumi
Enggan berputar lagi
Kau buat aku sempurna
Saat kau berkata iya (oh kasihku)
Kau izinkan ku berlaga
Mengarungi dunia (mengarungi dunia)
Di sisimu selamanya
Kasih andai anganku bersuara dia kan bernyanyi
Rapsodi indah yang kan bermuara di fajar hati
Kelingking kita berjanji
Jari manis jadi saksi
Bahagia
Hingga sang bumi
Tak berputar lagi
Sejujurnya atha asal menyanyikan lagu ini, karena akhir-akhir ini lea selalu memutar lagu ini jadi atha agar bisa memainkan lagu ini dengan gitar kesayangannya. Atha suka nyanyi tapi tak pernah menujukkan di hadapan orang kecuali kekasihnya, lea. Terkadang lea menyuruh lelaki itu untuk menyanyikan beberapa lagu saat mereka menikmati waktu bersama.
Menurut lea suara atha itu menenangkan, atha akan terlihat berkali lipat tampannya saat bernyanyi sambil memainkan gitarnya, suara atha juga bagus tuhan bolehkah lea egois ia ingin atha hanya untuknya, miliknya dan akan selalu bersamanya ia tak rela jika atha bersama yang lain dan mungkin atha pun demikian.
Lelaki itu selalu menatapnya dengan penuh cinta walau terkadang sikapnya cuek, menyebalkan, emosian namun dibalik itu semua ia perhatian, penyanyang dan selalu menjaga lea membuat lea seperti putri kerajaan yang menemukan pangerannya.
Lea tersenyum dari belakang baris kelas ampuannya melihat atha menyanyikan lagu kesukaannya itu.
"I love you" bibir lea berucap tanpa suara namun masih bisa didengar atha lewat gerakan bibirnya.
Tanpa sadar atha ikut tersenyum mengabaikan sorakan dari semua orang ia memilih melanjutkan permainan gitarnya sambil bernyanyi sesekali mencuri pandang ke arah lea.