PoV Rama
Ya, memang aku bermaksud untuk segera melamar kekasihku, Belia. Secepatnya, karena aku sudah merasa cocok dengan gadis itu.
"Bel," panggilku pada Belia yang sedang duduk di depanku, saat ini kami sedang berada di dalam perpustakaan. Dia sengaja menemaniku untuk mencari buku-buku referensi tesis yang sedang aku buat, tinggal menuju bab akhir.
"Ya, Bang?" tanyanya balik.
"Abis ini kita ke kost-an Abang ya sebelum nganterin kamu pulang," ajakku.
"Ok, Bang. Kebetulan aku kan belum tau rumah Abang juga," jawab Belia senang sambil tersenyum manis sekali.
PoV Rama end
Mereka kemudian terlihat serius dengan kegiatan masing-masing. Rama sibuk dengan catatan yang sedang dibuat meringkas dari apa yang dibacanya. Sedangkan Belia sibuk dengan membaca novelnya.
Satu jam kemudian akhirnya Rama mengakhiri kesibukannya itu. Dia merenggangkan kedua tangannya ke atas untuk merilekskan badannya. Dia pun melirik ke arah Belia.
"Abang udah selesai nih. Ayo kita pulang!" ajak Rama sambil membereskan alat tulisnya untuk di masukkan ke dalam tas ranselnya.
"Ayo," sahut Belia singkat.
Mereka berdua pun lalu segera ke luar perpustakaan kampus. Mereka berjalan menuju parkiran.
"Kita enggak ke ruang kelasmu dulu, Bel?" tanya Rama pada sang kekasih sambil berjalan.
"Enggak usah, Bang. Udah enggak ada orang di sana. Dinda dan Nani juga udah pada pulang, tadi udah nge-chat aku," jawab Belia.
"Berarti sekarang kita ke rumah Abang dulu ya sebelum ke rumah kamu, tapi nanti kita mampir beli teman nasi dulu. Kita kan belum makan siang. Kebetulan Abang tadi pagi udah masak nasi," kata Rama.
"Emangnya Abang bisa gitu masak nasi?" tanya Belia heran.
"Ya bisalah kalo cuma masak nasi di Magicom mah he ... he ... he," jawab Rama sambil terkekeh geli.
"Ya bagus dong, biar bisa ngirit uang makan," timpal Belia ikut terkekeh juga.
"Ayo naik!" ajak Rama pada Belia ketika Rama sudah ada di atas sepeda motornya. Lalu Belia membonceng duduk di belakangnya.
"Pegangan biar enggak jatuh," kata Rama sambil melingkarkan tangan kekasihnya ke pinggangnya.
"Modus banget sih," cibir Belia.
"Udah jadi milik aku ini, lagi pula biar semua orang tau kalo kita ini udah jadian," sahut Rama tidak malu-malu.
"Pede amat nih Abang. Malu ih dilihatin orang-orang tuh," kata Belia sambil tengak-tengok.
"Lah biarin aja," jawab Rama ringan sambil melajukan sepeda motornya pelan.
Tak lupa mereka mampir dulu ke sebuah warung nasi di pinggir jalan untuk sekedar membeli teman nasi. Setelah itu mereka pun segera melanjutkan perjalanan menuju ke rumah di mana Rama tinggal.