Rumah yang ditempati oleh Rama ternyata cukup besar bagi seorang mahasiswa yang hidup sendirian. Cocok untuk seseorang yang sudah berkeluarga layaknya.
"Abang beneran tinggal sendiri di sini?" tanya Belia kepada Rama sesaat mereka sampai di rumah tinggal Rama.
"Ya iyalah sendiri, kalo enggak percaya, cek aja sendiri ke tiap ruangan," ucap Rama sambil meletakkan tas ranselnya di bufet di ruang tamunya.
"Percaya deh, abisnya rumah segede gini. Apa Abang enggak takut tinggal sendirian di sini?" tanya Belia lagi.
"Ya enggak dong, aku udah biasa sendirian. dari masih jaman kuliah. Apa lagi nanti kalo udah ada kamu yang jadi istri Abang," jawab Rama menggoda sang kekasih.
"Dilamar aja belum, apa lagi dijadiin istri, Abang mah ngomongnya ngegombal aja," kata Belia sambil mencibir.
"Siapa juga yang ngegombal. Abang mah serius sayang, kalo enggak percaya, nanti Abang bakal langsung minta Adek ke Abah buat jadi istri Abang. Nanti sore Abang sambil anterin Adek pulang," kata Rama serius.
"Adeknya siapa lagi? Aku kan enggak punya Adek. Abang nih ngomongnya tambah ngelantur ke mana-mana sih," Belia semakin bingung menanggapi perkataan Rama.
"Yang Abang maksud Adek itu ya kamu Belia sayang. Abang manggil kamu Adek itu supaya lain dari yang lain. Panggilan sayang Abang ke kamu," jelas Rama lagi kepada sang kekasih.
"Oh gitu, aku kira apaan he he he," sahut Belia geli.
"Kalo Abang mau ngajak Adek nikah sekarang-sekarang, mau enggak?" tanya Rama sambil pandangan matanya fokus ke wajah Belia.
"Ehm, apa Abang enggak merasa terlalu cepat?" Belia balik bertanya.
"Menurut Abang enggak juga sih. Abang ingin secepatnya menikahi Adek, agar apa yang kita lalui menjadi halal. Abang takut khilaf dan berdosa jika kita tidak terikat pernikahan," jelas Rama lagi yang membuat pipi Belia menjadi bersemu merah.
"Abang mau aku jawab kapan?" Belia bertanya karena masih merasa belum yakin dengan pendengarannya itu.
"sekarang, lebih cepat lebih baik. Dan Abang udah beli cincin untuk mas kawinnya," kata Rama.
"Koq bisa? Kapan Abang belinya?" seru Belia terheran-heran.
"Sehari setelah kita jadian, karena memang Abang berniat ingin menikahi Adek. Bagaimana, mau kan kalo kita menikah hari ini?" tanya Rama penuh harap.
"Tapi kan menikah itu perlu persiapan yang matang, tidak hanya ijab qobul. Ada surat-surat penting yang harus diurus," jawab Belia lagi.
"Sementara kita nikah siri dulu, Dek. Sambil kita menyelesaikan surat-surat yang diperlukan. Karena Abang akan mengurus administrasi pernikahan di tempat kerja Abang juga. Pasti Adek harus Abang ajak ke tempat kerja Abang. Jadi kalo kita udah halal mah kita enggak akan takut berdosa walaupun cuma pegangan tangan," jelas Rama panjang lebar. Belia manggut-manggut tanda mengerti.
"Baiklah kalo gitu mah. Tapi jangan lama-lama ya, aku merasa enggak plong kalo belum punya surat nikahnya he he he," jawab Belia malu-malu sambil menundukkan kepalanya.
"Insyaallah enggak akan lama. Doakan supaya urusan kita lancar," pinta Rama.
"Aamiin," ucap Belia mengaminkan.
"Tapi ... ," Rama merasa ragu
"Tapi apa, Bang?" tanya Belia penasaran.
"Maksud Abang, tapi apa Abah akan setuju sekaligus merestui pernikahan siri kita nanti ya, Dek?" tanya Rama khawatir.
"Ya Abang ngomongnya yang pinter yang bisa Abah pahami, insyaallah Abah merestui kita," jawab Belia memberikan semangat kepada sang kekasih.
"Baiklah, sore ini Abang akan menghadap Abah untuk meminta Adek untuk jadi pendamping hidup Abang," ucap Rama kembali antusias.