Tio Andaroja Geminang

879 Kata
"Oh okay, ..... Iyah .... Okay setelah meeting nanti saya urus, okay thanks ya..." Tio menutup telepon. Sudah lebih dari satu bulan ia jarang sekali menemui Erlin, yah Tio begitu sibuk dengan pekerjaan antar kerja sama nya dengan kedai kedai kecil yang akan ia bangun untuk memperluas pra kuliner. Meeting beres, Tio melamun memandangi sofa yang kosong dan sepi itu, ia terpikirkan akan Erlin lalu ia meraih ponselnya dan menelepon Erlin. "Erlin...? Gimana kabarmu? Bisa bertemu?" ***** Tio Andaroja Geminang adalah anak pertama dari keluarga kaya raya penerus perusahaan Oyo Andaroja  Yang sudah menjalankan kerja sama nya di berbagai kota Indonesia dan Singapura, memperluas pra kuliner se-Indonesia dan se-internasional. Tujuannya untuk membuka banyak lowongan pekerjaan untuk para fresh graduate, attitude dan tanpa skill sekalipun. Karena sudah berjalan dua belas tahun lamanya perusahaan ini cukup terkenal, namun untuk Tio belum semuanya mengenali bahwa ia adalah penerus perusahaan Oyo Andaroja. Setelah kepergian sang ibunda tercinta Anastya Geminang Larinsya pasca lahirnya sosok lelaki tampan Tio, maka namanya diambil dari sosok bunda dan ayah. Tio sejak kecil sudah dididik-nya dengan tekun akan kedisiplinan, hormat antar manusia dan tekun belajar. Namun sayang disayangkan Tio yang nyaris sempurna itu ia pun lupa akan nasibnya yang harus memiliki pendamping. Pertemanan Tio dan syali bukan semata-mata kebetulan namun Tuhan telah merencanakan sesuatu dibalik pertemanan itu.  Sang ayah yang sudah menikah lagi pada waktu tio remaja. Ibunda yang sangat baik dan sangat menyayangi tio juga keluarga. Ayah nya sangat mahir dalam mencari pendamping untuk menggantikan mendiang istrinya. Walau begitu kasih sayang seorang anastya takan pernah tergantikan. ******** "Erlin...?" Tio melambaikan tangannya, dengan cepat Erlin membalasnya dan menghampiri. Kini mereka telah berada di dalam mobil. "Sudah makan?" Tanya Tio sembari memutar setir. "Heeemm belum nih" jawab Erlin sembari memasang sabuk pengaman. "Okey, kita ke apartemen" "Ngapain?" Dengan cepat Tio menjawab "makan"... Tanpa bertanya lagi Erlin hanya terdiam dan menganggukkan kepalanya. **** Sudah empat bulan berjalan Erlin sering menemui Yoseph tanpa sepengetahuan Tio, karena ia kira Tio bukanlah orang yang tepat, walaupun hitungan lamarannya tinggal beberapa hari lagi dan hatinya hanya untuk Yoseph, maka ia putuskan untuk mengenal kan Yoseph kepada kedua orang tua nya. Keputusan itu tentu dibantah syali karena ia tidak yakin akan Yoseph, namun desakan sang ibu yang membuat erlin tak ragu lagi untuk sesegera mungkin mengenalkannya. Walau sebenarnya erlin tidak pernah tahu akan yosep yang sebenarnya. "Aku gak bisa masak nih" bahas Erlin duduk di pantry. Hanya membutuhkan waktu 20 menit sampai ke apartemen Tio yang dekat dengan tempat kerja Erlin. "Santai aja, aku yang masak, nanti kamu nilai rasanya, kamu cukup duduk manis dan tonton chef hebat yang tampan masak" lagaknya songong, begitulah Tio lelaki serba guna. "Baiklah tuan muda, ..." balasnya riang. Tio memiliki tiga apartemen di daerah se-jabodetabek salah satunya dekat dengan kantor Erlin, maka tak heran jika Tio sering sekali datang ke apartemen Erlin hanya untuk memastikan kabarnya. 'Eh tiga itu murni dari uang dia yah, yang pakai orang ketiganya sudah tidak terhitung.' "Taraaaaa"  "Waaaahhh wangi tahu dari tadi aku sudah tidak kuat menahan perut ku yang lemah ini" "Hahaha, ayo dong di serbu" "Baiklah, sebelumnya saya ucapkan terimakasih ya tuan muda atas hidangannya"  Candaan itu membuat Tio betah berada bersama Erlin. Hokkien Prawn Mee adalah mie kuning dan bihun yang ditumis bersama bawang putih, telur, udang, cumi, taoge, dan kecap asin. Mie dicelupkan ke dalam kaldu, selanjutnya direbus bersama seafood, baru kemudian digoreng agak kering dengan sedikit kuah, masakan ini gampang dibuat dan tidak membutuhkan waktu lama. Tio yang sudah mahir memasak, rasanya pun tidak mengecewakan. "Wah lezatnya..." Erlin yang ceria menghajar makanan itu tanpa sisa, Tio yang melihatnya sangat senang dan ingin sekali ia mengecup kening Erlin si imut, namun ia tak memiliki nyali untuk menyentuhnya hanya memperhatikan wajah dan tubuh Erlin dari setiap incinya. Namun sangat di sialkan waktu begitu cepat hingga momen pun tak terasa jam menunjukan  sepuluh malam, Erlin yang bergegas untuk pulang diantar olehnya. "Wahai tuan muda terimakasih untuk hari ini, next time akan ku ajak anda menikmati makanan yang saya masak," khas senyum manisnya melemah kan setiap sendi Tio yang ditahannya agar tidak hilang kendali. "Hahaha, dari tadi bercanda terus. Katanya gak bisa masak. Gimana sih...." balasnya santai. "Iyah nanti aku belajar khusus untuk tuan muda, udah ah... makasih ya, kamu hati-hati dijalan, daaaahh"... Bergegas membuka pintu mobil, Tio menghalangi nya untuk jangan turun dan pergi, Erlin yang heran hanya diam dan menatap Tio beberapa detik. "Kenapa?" "Lin, bukankah kita sudah berpacaran?" Pertanyaan macam apa ini, terlalu random bagi Erlin, karna kini hatinya sedang kasmaran dengan sosok macho Yoseph Anjas Bahari. Tanpa aba-aba Erlin membalikan badannya yang sangat dekat dengan Tio, tanpa Tio sadari Erlin yang ia tahu polos dan lugu memulainya tanpa ia minta. Erlin mengecup kening Tio beralih ke pipi hidung dan bibir tebal merah itu. Tio yang syok hanya diam terpaku seperti patung, sungguh ia sangat kaget. Sempat ia berfikir darimana Erlin belajar semua ini? Apa dari setiap komik yang ia baca ada adegan seperti ini? Ah tidak tapi mungkin saja.  "Iyah, kamu tidur nyenyak yah" ucapan manis itu membuyar kan nya dan tanpa Tio sadari Erlin telah keluar dari mobilnya. Sungguh ini adalah malam yang cukup indah bagi Tio namun tidak bagi Erlin ia selalu terbayang-bayang Yoseph setiap menatap Tio, Apalagi dengan kejadian malam itu yang selalu terpampang jelas di pikirannya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN