Dilema

1115 Kata
"APA"..... .................. ******* "Dari mana kamu?" Terdengar suara dibalik sofa. Ruangan yang gelap, sangat pas untuk Erlin mengendap-endap memasuki rumah orang tuanya. Erlin menganga, matanya yang melebar kaget. Padahal ia sudah berjalan jinjit agar tidak menghasilkan suara langkahnya. Namun... "Dari mana?, Ditanya malah melongo" lanjut, laelani. Ia berdiri dan menghampiri anaknya. Menyilangkan lengan menaruh didadanya. "Anu mah... " Erlin tersenyum lebar hingga terlihat gigi rapih nya. "Aku tadi habis dari.... Perpus, terus ketiduran hehehe" jawabnya canggung, alih-alih takut Laelani marah. "Kebiasaan kamu. Duduk mamah mau ngomong sama kamu" perintahnya, lalu laelani berjalan dan Erlin membuntuti nya. Jujur tidak seperti biasanya laelani bersikap santai. Erlin selalu kena omelan ketika ia terlambat pulang. Namun kini sikapnya berubah. Loh bukannya bagus yah?, Kan Erlin bisa pergi ke perpus sesuka hati tanpa harus tepat waktu pulang. Tapi kan kini Erlin tidak pernah merasakan omelan itu karna ia sudah pisah rumah, memilih di apartemen sendiri. Tapi entah kenapa Erlin seakan rindu dengan sikap mamahnya yang cerewet. Begitulah manusia, dikasih hati minta jantung. "Mamah kenapa belum tidur?" Erlin menatap laelani. "Mamah nungguin kamu" jawabnya. "Emang kenapa mah?" "Kamu kapan mau kenalin orang yang kamu suka?" DEG "Bukannya apa-apa, kalo kamu belum dapet, mamah mau kenalin cowok yang mamah pilihkan" lanjut laelani. Erlin tertunduk berfikir bagaimana caranya?. Baru saja ia dipertemukan dengan lelaki pujaan nya. Masa Iyah?, ia harus mengenal kan Tio yang sampai saat ini Erlin belum mencintai nya. Tapi, sangat tidak mungkin Erlin menelepon Yoseph dan memintanya untuk bersedia dikenal kan kepada kedua orangtuanya. Rumit? Sangat rumit. Apa? Harus bagaimana?. Kenapa laelani bertanya saat ini? Apa tidak ada hari esok? Sampai-sampai menunggu Erlin. "Loh ditanya malah bengong, mamah gak mau kamu kelamaan kayak kakak mu Lin" lanjut laelani, menghempaskan badannya di sofa. Apa? Apa mamah berfikir aku tidak normal? Apa mamah fikir aku ini sama kayak kakak? Aku hanya belum mendapatkan sosok lelaki yang tepat mah, aku baru saja bertemu. Dan kini mamah mendesak aku untuk segera mengenal kan calon. Mah apa___ "ERLIN" nadanya sedikit tinggi, membuyarkan lamunan Erlin. "Jawab, kamu diam saja. Jangan memancing emosi mamah, mama___" " Iyah mah, aku udah ada kok cowoknya. Nanti aku kenalin ke mamah sama papah. Tapi saat ini Erlin perlu bicara sama dia," Erlin terdiam berfikir 'apa Iyah, Erlin mengambil tindakan konyol ini' hanya karna umur kini Erlin merasa terbebani "Jadi mamah tenang aja, gak mungkin kan tiba-tiba aku bawa dia kesini tanpa persetujuan nya" Lanjut Erlin. Mamahnya mengangguk mengiyakan sebagai jawaban. ..................... ********* "Halo pak... Iyah saya lagi jalan kok pak......, baik pak", Terdengar suara sibuk Erlin. Hari ini ia ada pekerjaan, yang mendesak nya untuk memenuhi target, tentu saja ia sudah tiga hari lalu, membiarkan pekerjaannya menganggur. "Sayang, kamu gak sarapan...?" Teriak nyonya besar, sang ibu, laelani. "Aku bawa roti aja mah, soalnya aku udah kesiangan. Muach" Erlin mencium pipi laelani, dan tak lupa berpamitan kepada ayahnya, yang sudah duduk dari tadi. "Aku jalan yah pah, mah,..." "Kamu hati-hati, jangan ngebut" perhatian ayahnya. "Gak bawa kendaraan kok pah, aku udah pesen ojek online hehehe... Daaaahh" Lanjut Erlin terburu-buru. ........... ****** "Eh tumben Lo pagi-pagi udah di kantor" Suara yang tak asing duduk di samping Erlin. Ia tak menoleh sedikit pun dan tak menjawab nya. "Elah sibuk bener" lanjutnya. "Loh, Lucy" Suara syali sambil menunjuk "kok tempat Lo, sampingan sama Erlin si?" Lanjutnya. "Iyah sementara doang" Lucy mulai mengetik dan fokus. Sementara Erlin yang dari tadi fokus berhenti sejenak melirik Lucy, syali yang tengah mengotak-atik ponselnya berdiri di belakang Erlin. "Syal, syal...." Erlin menyenggolnya dengan sikut. "Iyah apa?" Jawabnya singkat. "Pulang kerja. Gue mau meeting sama Lo ya?" "HAH MEETING APAAN?" Lagi-lagi suara yang menggelegar membuat se-isi kantor melirik nya. Erlin yang kaget dan sepontan senyum lalu meminta maaf. "Apaan si Lo, alay banget" Erlin mencubit sikut syali. "Awww" syali meringis kesakitan. Alangkah indahnya hidup saat ini. Manis dan pahit tercampur rata sehingga hambar tak terasa. Jika saja Erlin bisa menjalani kehidupan nya secra normal yang ia mau, mungkin kebingungan ini takkan pernah ada. Pada malam itu sehabis pulang dari kantor Erlin berusaha merayu Syali yang tak mau mendengarkan coletahan nya. Karna ia merasa bosan dengan pemikiran yang plinplan, sudah tentu ada Tio didepan mata malah Erlin mencari ikan baru untuk dikenal kan kepada kedua orang tua nya. "Hei jamet...___" "Apaan si Lin, gak sukalah di panggil gitu. Si Zaki jadi ngikut-ngikut" "Iya-iya maaf, lagian Lo dingin banget, kan gue lagi dilema parah syal, gue harus gimana coba?". Nada nya sedikit kecewa dengan nasib yang tidak mendukung nya. "Lah, Lo. Tinggal kenalin si Tio. Udah beres kan" syali melangkah ke pantri mengambil minum yang tidak jauh dari ruang tv. "Iyah, Lo, gampang ngomong kaya gitu. Lo kaya gak pernah ngerasain jatuh cinta aja syal. Telepon Zaki gih, biar ikut nimbrung" Erlin menghempaskan tubuhnya ke punggung sofa. Tanpa menunggu lama syali meminta Zaki untuk hadir. Karna hanya mereka berdua yang bisa di andalkan meskipun sejujurnya dengan melibatkan mereka tidak akan menyelesaikan masalah. Namun setidaknya Erlin bisa memilah dari pendapat kedua sahabatnya. Tak menunggu waktu lama Zaki yang kebetulan ada disekitar daerah apartemen Erlin hanya dalam lima belas menit ia sampai. "Anj** gue di panggil pas lagi makanan tinggal plastik nya aja, emang pada si**** ya kalian" sesegera mungkin Zaki merebut Snack yang syali pangku. "Makan makan dah ribeut" syali jengkel "Ah kalian malah ngerebutin makanan sih, gue udah beliin online, slowww... Gue minta kalian disini itu buat bantu gue. Karna gue lagi dilema berat you know..." Erlin menyilangkan kakinya. Lima jam berlalu, tumpukan sampah pun menggunung. Jam menunjukkan pukul satu malam masalah tidak terselesaikan dan dilema semakin menggebu-gebu. Semakin Erlin meminta saran semakin kecau jawaban yang dilontarkan. "Ribet banget si Lin, mending gini aja. Kalo Lo suka sama tuh si Yosep ya Lo pdkt-an aja, nah tapi sementara Lo jalanin Ama tuh si Tio kenalin sama ortu Lo. Nanti ditengah-tengah pas Lo udah jadian Ama tuh si Yosep baru Lo putusin Tio. Bereskan" dengan lantang Zaki mengatakan nya. "Gak-gak-gak apa-apaan. Gue, gak setuju" syali bertingkah seperti pengacara cinta yang tahu titik solusinya. "Mending Lo, lupain tuh si Yosep kan dia gak jelas, dan Lo fokus sama si tio__" "Gak syal, gue jatuh hati banget sama tuh cowo komik." Bantah Erlin. __________ ******* Semakin malam semakin kacau jawaban para sahabat nya, membuat Erlin semakin bingung. Kedua nya Erlin suka, apalagi dengan Yosep lelaki yang mampu mencuri hati nya. Tio memanglah sudah jelas, ia pun lelaki sukses di usia nya yang muda. Namun sayang sampai saat ini pun Erlin tak menemukan cinta dalam dirinya kepada Tio. Sementara Yosep lelaki sekelibat angin yang tanpa aba-aba ia mencuri dan membuat Erlin jatuh hati. Dilema terbalut bingung, itu yang kini Erlin temukan setelah meeting lima jam bersama kedua sahabatnya. _____________ "Hai? Kita bertemu lagi, mau minum coffe?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN