Napas Mahesa memburu. Ia tidak akan lagi meminum obat yang dikonsumsi semalam. Ia tidak mau tertidur dan kemudian tidak bisa bangun. Ia ngeri harus terperangkap dalam mimpi yang sama seperti kemarin malam. Darah yang mengenang dan teriakan memilukan meminta pertolongan membuat dirinya merinding. “Kenapa aku harus bermimpi seperti itu di saat sekarang? Sebelumnya kan tidak pernah,” gumamnya sambil memandangi pantulan bayangannya di dalam cermin. Ia melihat seorang pria yang telah keriput di sana. Semua kekuatan yang dibanggakan selama ini telah hilang termakan usia. Mahesa takut melihat pantulan bayangannya sendiri di cermin. Otaknya menyangkal kalau yang ditangkap indera penglihatannya adalah ia. “Sialan!” Ia memaki kecil pelan sekali. Tidak menyangka dirinya sudah setua itu. Ia menj

