Apakah Ardin tertangkap? Apakah ia mengatakan kalau dalang kejahatan yang gagal tersebut adalah Mahesa? Atau Ardin berhasil meloloskan diri? Semua pertanyaan itu membuat Mahesa pusing. Sebab ia tidak bisa tiba-tiba menelepon rumah dan bertanya kabar. “Sialan … ini karena anak tak tahu diri itu!” Ia melemparkan topi yang digunakan sebagai tambahan penyamaran ke lantai. Sesudah itu ia mondar-mandir di kamar kos yang di sewa di pinggir kota. Kamar kos kecil yang kumuh dan panas. Hanya ada sebuah kipas angin yang berputar selama 24 jam di dalam ruangan. Tidak ada fasilitas TV atau pun internet. Mahesa kembali menghubungi Ardin. Teleponnya masuk, tapi tidak diangkat sama sekali. “Ke mana orang ini!” serunya kesal sekali. Namun, ia sama sekali tidak menyerah. Dial tutup disentuh dan sece

