8. Maaf?
Kesya bangkit dari duduknya. Air mata masih membasahi pipinya. Dadanya terasa berat dan sesak. Sejalan dengan hati dan benaknya. Rasa marah, sedih, menyesal, dan gelisah berpadu di dalam hatinya. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Rafa akan memaafkannya atau semua akan berakhir? Tenggorokan wanita itu, terasa pahit. Tidak berani melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.
Kemudian, Kesya melangkah menaiki tangga menuju kamarnya. Kedua kakinya masih lemas. Namun, dia terus memacu kedua kakinya untuk tetap bergerak. Satu tangannya berpegangan pada dinding.
Tiba di kamar Kesya duduk di tepi ranjang. Kepalanya terasa pening. Ia pun bertolak ke kamar mandi.
Kesya mematut di depan cermin. Melihat wajahnya yang berantakan. Ia menyalakan kran dan mulai menyapukan air di seluruh wajahnya. Wanita itu kembali mengamati wajahnya di depan cermin. Matanya masih merah dan bengkak.
‘Maafin aku Mas Rafa, aku minta maaf, aku sadar aku salah,’ batin Kesya.
Tidak terasa air mata kembali meinetes di pipi Kesya. Wanita itu kembali menghapusnya, dan mencoba menenangkan hatinya. Semua sudah terjadi. Nasi sudah menjadi bubur.
Kesya memutuskan keluar dari kamar mandi dan mencari Bi Marni. Mengobrol dengan wanita paruh baya itu mungkin bisa membuatnya sedikit merasa lega.
“Bi Marni,”
“Bi Marni,” panggil Kesya seraya berjalan menuruni tangga.
“Iya, Nyonya?” sahut Bi Marni. Dia berjalan menghampiri Kesya di ujung tangga.
“Tolong bantu rapi in ruang tamu ya!” suruh Kesya.
“Iya,” sahut Bi Marni. Ia mengambil sapu ke dapur. Sementara Kesya merapikan sofa yang tergeser.
“Nyonya, tidak kenapa-kenapa kan?” tanya Bi Marni. Ia melihat Kesya yang sedang menahan air matanya. Berusaha tetap baik-baik saja.
“Tidak apa-apa kok Bi,” sahut Kesya. Tentu saja berbohong. Bagaimana mungkin dia baik-baik saja. Sementara hatinya sedang hancur. Pernikahannya di ujung tanduk. Sang suami, memilih pergi. Bukan hal yang tidak mungkin Rafael akan menalaknya.
“Bibi buatkan coklat hangat ya?” tawar Bi Marni. Tidak tega melihat Kesya yang terlihat sangat sedih.
“Tidak usah Bi,” tolak Kesya. “Sekarang aku harus bagaimana Bi?” keluhnya. Tidak tahu harus berbuat apa.
“Yang sabar Nyonya, nanti kalau bapak pulang di bicarakan baik-baik,” pesan Bi Marni. Merasa kasihan pada majikannya tetapi tidak bisa melakukan apa pun untuk membantunya.
“Aku sadar aku salah, tapi kenapa Mas Rafa pergi Bi, aku harus bagaimana ini Bi,” keluh Kesya. Tanpa ragu ia memeluk pembantu nya itu.
“Sudah, lebih baik Nyonya istirahat dulu, ini sudah malam, bibi takut Nyonya sakit, sudah jangan menangis terus!” bujuk Bi Marni menenangkan majikannya yang masih menangis dalam peluknya.
Kesya masih terisak, dengan air mata yang masih membasahi. Mengurai pelukan, lalu Bi Marni menuntun majikannya berjalan ke kamarnya yang berada di lantai dua.
Bi Marni membukakan pintu kamar untuk Kesya.
“Nyonya tidur, beristirahatlah ini sudah malam!” pinta Bi Marni.
“Sebentar Bi, menurut Bibi, Mas Rafa mau memaafkan aku apa tidak Bi?” tanya Kesya meminta pendapat satu-satunya teman bicara di rumahnya. Dua pelayan yang lain tidak terlalu dekat dengannya. Sementara Bi Marni sudah empat tahun berada di rumah itu, selalu memasak untuknya.
“Bapak pasti memaafkan Nyonya, Pak Rafa sangat menyayangi Nyonya, jadi Pak Rafa pasti memaafkan kesalahan Nyonya,” tutur Bi Marni menenangkan hati majikannya yang sedang sedih. Meski, sejujurnya ia tak yakin jika Pak Rafa akan memaafkan kesalahan Nyonya Kesya.
“Iya Bi, semoga saja Mas Rafa bisa segera memaafkanku,” sahut Kesya. Ia berbaring, dan memberi isyarat memperbolehkan wanita paruh baya itu untuk keluar dari kamarnya.
Kesya terdiam, matanya tak bisa terpejam. Bayangan wajah sang suami yang sedang marah berkali-kali melintas di benaknya. Masih saja berandai-andai karena terlalu menyesali perbuatannya.
Kemudian, ia meraih ponsel. Membuka layar, lalu mencoba menelefon sang suami. Namun, nomor Rafael masih saja tidak aktif. Tak hanya sekali dua kali, wanita itu mencoba berulang kali tetap tidak ada jawaban.
Kesya memandangi langit kamarnya. Remang-remang suasana kamar tak membuatnya mengantuk. Masih bingung dan merasa bersalah. Akankah suaminya memaafkan kesalahannya atau tidak? Akankah semua berakhir?
Kesya tidak bisa memejamkan mata sedikit pun. Dia terus melihat detikan jam dinding. Hingga pukul 4.00 pagi Kesya masih terjaga dan masih terus menyesali perbuatannya itu.
Ribuan kali dia menelefon nomor suaminya. Namun tetap saja tidak aktif, hingga matahari terbit pun, dia tak mendapati suaminya pulang ke rumah. Dan nomornya masih belum aktif juga.
Detikan jam yang berputar, menjadi saksi kesepian dan penyesalan Kesya karena telah menghianati suaminya. Hari-hari yang akan datang tidak akan sama, Rafa sudah terluka dan semuanya tidak akan kembali seperti sedia kala.
Kesya beranjak dari tempat tidur. Mencoba memulai hari ini dengan mandi. Air dingin selalu berhasil menyegarkan tubuhnya. Membuat kembali bersemangat.
Air kran dari atas kepala mulai mengalir. Membasahi rambut dan tubuhnya. Melewati setiap molekul-molekul kulitnya. Kemudian, menyapukan cairan wangi ke rambutnya. Sabun aroma Jasmine favoritnya, ia usapkan di seluruh permukaan. Setelah itu, dia membilas dengan air kran yang mengalir begitu deras dan membersihkan sisa-sisa busa.
Dengan handuk warna merah muda Kesya mengeringkan anggota badannya. Namun, tetap saja tidak merasakan apa-apa. Penyesalan dan kesedihan masih saja menaunginya.
Kesya membuka pintu kamar mandi. Ia segera mencari dimana handphone nya. Kemudian menulis pesan untuk suaminya.
[Mas Rafa, aku minta maaf cepat pulang ya Mas, aku benar-benar minta maaf,. Aku tunggu Mas Rafa sampai jam 12 siang, kalau Mas Rafa enggak pulang, aku mau ke rumah ibu, jangan jemput aku. Aku sadar aku salah, sekali lagi aku minta maaf, cepat pulang ya Mas, Kesya menunggu Mas Rafa pulang]
Kesya menulis pesan untuk suaminya. Ia berharap agar suaminya cepat pulang dan bisa memaafkan kesalahan nya.
=====
Rafa memesan sebuah kamar di hotel bintang lima yang tak jauh dari AX Furnitur.
Malam semakin larut. Ia duduk di balkon kamar hotel dengan sebotol, air haram yang berada di tangannya. Pahitnya setiap teguk alkohol tidak mampu menghilangkan rasa sakit, dan perih di hatinya. Suasana langit cerah, bertaburan bintang gemintang, dilengkapi terangnya cahaya bulan purnama. Berbeda dengan mendung dan badai yang bersarang di dalam hati.
Rafa terduduk, bersandar pada dinding. Kepalanya menunduk bersandar pada lengan di atas lututnya. Sakit!
Hatinya seolah di hujani ribuan pedang. Tidak menyangka Kesya menghianati cintanya.
Rafa meraih ponsel. Segera memblokir nomor Kesya. Selama ini dia bekerja. Berjuang keras, membahagiakan istrinya. Namun, inilah balasan sang istri kepadanya.
Tak terasa air mata mengalir dari sudut matanya. Perih sekali luka di hatinya.
Bersambung.
Hai...
Ini karya orisinal aku yang hanya exclusive ada di Innovel/Dreame/aplikasi sejenis di bawah naungan STARY PTE.
Kalau kalian membaca dalam bentuk PDF/foto atau di platform lain, maka bisa dipastikan cerita ini sudah DISEBARLUASKAN secara TIDAK BERTANGGUNGJAWAB.
Dengan kata lain, kalian membaca cerita hasil curian. Perlu kalian ketahui, cara tersebut tidak PERNAH SAYA IKHLASKAN baik di dunia atau akhirat. Karena dari cerita ini, ada penghasilan saya yang kalian curi. Kalau kalian membaca cerita dari hasil curian, bukan kah sama saja mencuri penghasilan saya?
Dan bagi yang menyebarluaskan cerita ini, uang yang kalian peroleh TIDAK AKAN BERKAH. Tidak akan pernah aku ikhlaskan.
Dark Coffe