|| 7 || Terbongkar

1650 Kata
7. Terbongkar. Rafael awalnya tidak ingin pergi ke AX Furnitur. Hari ini ia khususkan untuk pergi mata-matai istrinya. Nomor tak di kenal. Panggilan telefon misterius. Rafael benar-benar yakin istrinya menyembunyikan sesuatu. Panggilan darurat dari Galih, sekretarisnya. Membuatnya harus datang ke kantor sekarang juga. Salah satu klien, komplain karena Furnitur yang dikirim tidak sesuai pesanannya. Hal itu membuat Rafael melewatkan apa yang dilakukan istrinya. Ia tidak tahu siapa yang ditemui Kesya di resto. Dan kali ini ia kembali pulang ke rumah dengan tangan kosong. Masih belum tahu apa pun mengenai pria misterius itu. Rafael menjalankan mobilnya pulang ke rumah. Ia menjalankan mobilnya dengan pelan dan tak satu detik pun ia lewatkan tanpa memikirkan sikap mencurigakan istrinya. ===== Kesya sedang melihat drama korea ‘Penthouse’ di ruang tengah di rumahnya. Hidupnya sangat santai. Tidak bekerja, setiap harinya ia lakukan dengan belanja, ke salon, dan bersantai di rumah. Menjadi istri Rafael adalah impian banyak wanita. Siapa sangka Rafael memilihnya. Tepat setengah tahun Kesya bekerja di AX Furnitur. Di bagian Resepsionis. Rafael uang ternyata diam-diam memperhatikannya tiba-tiba mengajaknya menikah. Kesya tidak bisa menolak. Banyak karyawan dan rekan dari Rafael yang merasa patah, karena pernikahan mereka. Hari patah hati satu perusahaan. Kesya melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 16.05 WIB. Ia bergegas naik ke kamar untuk segera mandi. Tepat saat Kesya ingin masuk ke kamar mandi. Terdengar suara ketukan pintu. Tok... Tok... Tok... “Nyonya.” “Nyonya,” panggil Bi Marni di balik pintu. Suaranya terdengar keras dan terburu-buru. Kesya menaruh piama handuknya. Kemudian, bergerak untuk membuka pintu kamar. “Ada apa Bi?” tanya Kesya. Indra penglihatan mereka saling bertatapan. “Ada tamu Bu, dia mencari Nyonya,” jawab Bi Marni. “Siapa Bi?” tanya Kesya kedua kalinya. Sore hari jarang sekali ada tamu. Gina juga tidak mungkin datang, karena tidak ada pesan sebelumnya. “Saya tidak tahu Nyonya,” jawab Bi Marni. “Lebih baik Nyonya, segera turun dan menemuinya,” imbuh pelayan wanita itu. “Gina bukan?” tanya Kesya memastikan. Penasaran siapa yang mencarinya. “Laki-laki Nyonya,” jawab Bi Marni. Terlihat jelas kalau wanita paruh baya itu juga merasa keheranan. “Oh.” Pikiran Kesya langsung tertuju pada Rio. Perlahan ia berjalan menuruni tangga ke lantai dasar. Mengekor Bi Marni yang berjalan lebih dulu. Kemudian, bergerak menuju ruang tamu. Di sofa warna abu tua, dengan alas karpet bulu yang nyaman. Di sana dia melihat laki-laki yang sedang duduk membelakangi nya. Tebakannya benar, betapa terkejutnya Kesya laki-laki itu adalah Rio. Masih memakai baju yang sama dengan yang di kenakan tadi siang saat makan bersamanya. “Ngapain kamu ke sini!” bentak Kesya seraya berjalan menghampiri Rio. “Dengar Kesya, aku enggak mau kamu tinggalin aku gitu saja!” protes Rio dengan suara m baritonnya. Ia berdiri dan menatap penuh harap ke arah Kesya. “Aku sudah bilang kan aku enggak mau melanjutkan hubungan kita, apa masih kurang jelas?” tegas Kesya dengan suara tak kalah tinggi. “Aku enggak mau putus sama kamu pokoknya Kesya, aku enggak mau hubungan kita berakhir,” kekeh Rio. Pria itu melangkah mendekati Kesya yang masih berdiri terpaku. “Kamu gila ya, aku sudah tegaskan kalau aku enggak bisa sama kamu, aku mau setia sama Mas Rafa,” bentak Kesya sudah tidak kuat lagi. Ia juga takut kalau Rafa tiba-tiba pulang karena sudah waktunya pulang kerja. “Aku enggak mau, aku itu sayang banget sama kamu sudah dari dulu, pliss aku mohon Kesya!” sambil berusaha memeluk Kesya. “Lepaskan!” teriak Kesya berusaha mengurai tangan Rio yang berhasil menguasainya. Bi Marni hanya bisa menyaksikan dari ruang tengah. Dia takut ikut campur. Namun, lama-lama dia juga tidak tega karena majikannya seperti menahan sakit. “Apa-apaan ini!” teriakan suara dari arah pintu depan. Terdengar keras, pria itu tidak lain dan tidak bukan adalah Rafael yang sejak tadi sudah berdiri di depan pintu. “Ngapain kamu ada di sini? Ngapain kamu dekat-dekat Kesya? Ada hubungan apa kamu sama istri Kesya? Katakan jangan diam saja!” bentak Rafa sambil menarik kerah baju Rio. “Aku cinta sama Kesya, sudah setahun aju jalan sama dia? Kenapa Hah?” lawan Rio tidak kenal takut. Ia berusaha melepas tangan Rafa dari kerah bajunya. “Gila! Kamu bilang cinta sama istri orang dasar b*****h sialan!” umpat Rafa. Karena emosi dia melayangkan beberapa tonjokan di pipi Rio. Tidak peduli dengan darah segar yang keluar dari sudut bibirnya. "Hentikan Mas Rafa, cukup Mas!” teriak Kesya dengan air mata bercucuran. Ia berharap Rafa memadamkan emosinya dan menghentikan kepalan tangan yang tidak berhenti terhunjam di area wajah Rio. “Kesya dulu yang godain! Paham!” teriak Rio. Sengaja membuat Rafa bertambah emosi. “Diam!” bentak Rafa kembali mendaratkan pukulan di wajah Rio. “Istri kamu yang ganjen,” dalih Rio yang tidak terima karena Rafa memukulnya tanpa ampun. “Aku sayang banget sama Kesya!” imbuhnya tanpa rasa bersalah. “Sudah Mas!” cegah Meta memeluk Rafa yang berusaha mengejar dan memukuli Rio. Rafa mendorong tubuh Kesya mundur. Dia meraih kerah baju Rio. Mendorongnya keluar dengan harapan pria itu tidak masuk lagi ke dalam rumahnya. Dengan perasaan kesal Rio keluar dari rumah Rafa. Ia berjalan dan masuk ke dalam mobil. Ia mengusap darah di sudut bibir dengan kedua tangannya. “Rafa Sialan, berani-beraninya dia tonjok pipi gue! Tunggu pembalasan gue! Awas lo Rafa!” gumam Rio. Ia menyalakan mesin mobil dan mulai menjalankannya keluar dari kediaman rumah Rafa. ===== Kini hanya ada Rafa dan Kesya di ruang tamu. Pria itu berjalan menghampiri istrinya yang masih terduduk di lantai. Keningnya berdarah, terkena sudut meja. “Jelas in siapa laki-laki itu! Ada hubungan apa kamu sama dia!” teriak Rafa dengan suara tinggi dan amarah di hatinya. Matanya menatap tajam. “Mas Rafa maaf in Kesya Mas!” kata wanita itu sambil mendekati suaminya. Ia tidak peduli dengan darah yang bercucuran karena pelipisnya terkoyak. “Cepat jelas in!” bentak Rafa. Masih menatap Meta dengan penuh kemarahan. Kedua tangannya mencengkeram bahu Kesya dengan sangat kuat. Hatinya menangis, dadanya sesak. Tidak percaya, istri yang sangat di cintainya tega mengkhianatinya, bercinta dengan pria lain. Ya, Rio adalah kekasih Gina. “Kesya minta maaf Mas,” lirih wanita itu. Perlahan ia menurunkan tubuhnya dan bersujud di depan sang suami. Merasa bersalah, merasa takut, dan merasa tidak berarti. Rafa memilih diam. Memaafkan tidak semudah itu. Satu tahun menjalin hubungan, begitu yang dikatakan Rio. “Maafkan Kesya sudah enggak setia sama Mas Rafa,” lirih wanita itu, pelan dan pasrah. Rafa, dia tidak pernah melihat suaminya semarah itu. “Sudah berapa lama kamu selingkuh sama lelaki sampah itu!” tanya Rafa. Jijik sekali menatap wajah istrinya. Sudah tidak setia. Mengizinkan pria lain menjamah tubuhnya. Rendah sangat rendah di luar dugaannya. “Empat bulan Mas, Kesya minta maaf Mas, maaf in Kesya,” cerocos wanita itu meminta pengampunan. Masih terus memohon maaf pada suaminya “Empat bulan kamu, khianati aku? Yang benar saja kamu!” teriak Rafa tidak percaya. “Sekarang katakan berapa kali kamu tidur dengannya, berapa kali kamu mengizinkan sampah itu menikmati tubuhmu! Hah!” Rafa mulai hilang kendali. Emosi dan amarahnya semakin menjadi. "Enggak seperti yang Mas Rafa bayangkan Mas,” kekeh Kesya membela diri. “Kita hanya berkirim pesan dan telefon!” wanita itu sangat ketakutan. “Aku kerja keras, banting tulang buat bahagia in kamu, buat senangin kamu, buat bantu in orang tua kamu, tapi kamu malah tidur sama laki-laki lain, gila kamu, apa artinya aku buat kamu, sakit tahu enggak!” keluh Rafa memegangi dadanya yang tidak karuan. “Maaf in aku Mas, aku khilaf Mas,” ucap Kesya terus memohon supaya dimaafkan. “Sekarang kamu atau aku yang pergi dari rumah ini, aku jijik lihat kamu,” bentak Rafa berusaha melepaskan tangan Kesya yang memeluk kakinya. “Jangan usir aku Mas, Kesya mohon Mas, maaf in Kesya, Aku janji enggak akan ulangi lagi Mas. Janji!” kekeh Kesya berharap Rafa memaafkannya. Memeluk kuat kedua kaki suaminya. “Sudah lepas in aku, jangan sentuh aku, lepas in enggak?” ancam Rafa sambil melepaskan tangan Kesya dari kakinya. Kemudian, dengan kemarahan yang masih menguasai hatinya pria itu meninggalkan istrinya, terus melangkahkan kaki, keluar rumah. Kesya masih menangis karena sadar dia telah melakukan kesalahan yang fatal. Tidak berdaya dan tidak bisa mencegah ketika Rafa, meninggalkannya. Rafael berjalan memasuki mobil. Pria itu melajukan mobilnya ke hotel. Malam ini dia berniat ingin tidur di hotel. Muak sekali dia melihat istri tercintanya itu. Membayangkan laki-laki lain menjamah tubuh istrinya itu benar-benar melukai hatinya. Dunia terasa gelap untuknya. Untuk pertama kali di sepanjang hidupnya. Rafa meneteskan air mata karena kecewa dengan istri tercintanya. Satu tangan berada di kemudi, tangan yang satu mengusap air mata di pipinya. Dadanya sesak dan berat. Semakin lama semakin terisak. ‘Kurang apa aku sama kamu Sya, kamu tega buat aku begini! Sakit tahu enggak!’ batin Rafa sembari melajukan mobilnya. Rafa merasa kecewa pada Kesya. Dia tidak menyangka istrinya begitu kejam menyakiti hatinya, menodai ketulusan cintanya. Merusak kepercayaan dan mengoyak kesetiaan hatinya. Dia membenarkan kata sang mama, bahwa istri pilihannya itu tidak sebaik yang dia pikir. Tidak setia seperti yang terlihat selama ini. Di balik wajah cantiknya dan sikap manisnya dia menusukkan pedang pengkhianatan yang sangat tajam dan memberikan luka yang sangat dalam. Rafa meneguk saliva. Pangkal tenggoroknya teras getir. Sepahit luka hati yang di rasakannya saat ini. Bersambung. Hai... Ini karya orisinal aku yang hanya exclusive ada di Innovel/Dreame/aplikasi sejenis di bawah naungan STARY PTE. Kalau kalian membaca dalam bentuk PDF/foto atau di platform lain, maka bisa dipastikan cerita ini sudah DISEBARLUASKAN secara TIDAK BERTANGGUNGJAWAB. Dengan kata lain, kalian membaca cerita hasil curian. Perlu kalian ketahui, cara tersebut tidak PERNAH SAYA IKHLASKAN baik di dunia atau akhirat. Karena dari cerita ini, ada penghasilan saya yang kalian curi. Kalau kalian membaca cerita dari hasil curian, bukan kah sama saja mencuri penghasilan saya? Dan bagi yang menyebarluaskan cerita ini, uang yang kalian peroleh TIDAK AKAN BERKAH. Tidak akan pernah aku ikhlaskan. Dark Coffe
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN