6. Rio.
Senja berganti petang. Jingganya senja berganti dengan gelapnya malam. Matahari sudah tenggelam ke peraduannya. Burung-burung yang mulai kembali ke sarangnya. Kesya tengah duduk di kamarnya. Nomor Rio sudah ia blokir sejak kemarin.
Detik ini juga, wanita itu ingin membuka blokir lalu menelefonnya. Namun, tiba-tiba ponselnya berdering, ada panggilan telefon dari nomor yang tak di kenalnya.
“Halo,” sapa Kesya pelan.
“Kenapa kamu enggak pernah jawab telefonku selama dua hari ini Kesy?” tanya Rio sudah tidak bisa menahan rasa marahnya lagi. Bukan hanya tidak menerima telefon, Kesya juga tidak membalas pesannya.
“Mas Rafa di rumah , aku enggak berani jawab telefon dari kamu, lagian aku ingin kita selesai sampai di sini!” jawab Kesya dengan suara datarnya.
“Apa?” tanya Rio.
“Aku ingin mengakhiri, hubungan kita!” tegas wanita itu dengan suara lebih keras dari sebelumnya.
“Apa, kamu ingin kita berpisah? Yang benar saja kamu Kesya? Kamu ingatkan kamu yang memulai semuanya? Kamu yang mengajakku berkenalan, kamu juga yang merayuku terlebih dahulu? Sekarang kamu mau menyudahi begitu saja? Aku enggak mau, aku enggak bisa,” tolak Rio yang merasa sudah di beri harapan terlalu banyak.
Kesya mengakhiri panggilan telefon. Merasa tidak bisa berkata-kata lagi.
“Siapa yang menelefonmu?” tanya Rafa yang sedari tadi sudah berdiri di belakang istrinya.
Kesya menoleh. Melihat ke arah suaminya. “Em, enggak ada kok Mas, salah sambung,” sahut Kesya dengan tubuh bergetar.
“Oh.” Rafa hanya mengiyakan meski ia yakin seratus persen istrinya berbohong.
======
Pagi harinya. Rafael dan Kesya sudah selesai makan pagi bersama. Mereka berdua sedang duduk di teras, sebentar lagi Rafa akan berpura-pura berangkat kerja. Namun sebenarnya ia hanya ingin mengawasi istrinya lewat GPS yang sudah ia pasang di mobil Kesya.
Rafael perlu mencari tahu, siapa pria misterius yang ditemui istrinya. Sejauh apa hubungan mereka, dan seberapa lama mereka menjalin hubungan.
“Sayang, aku berangkat ya,” pamit Rafa. Menoleh ke arah Kesya yang sedang menatapnya.
“Iya, Mas,” sahut Kesya. Meraih tangan Rafa lalu menciumnya.
“Kamu baik-baik ya di rumah, uangnya sudah aku transfer tadi,” ungkap Rafa sambil berpura-pura memeluk istri tercintanya.
Hari ini Rafa bersandiwara akan keluar kota lagi selama tiga hari. Sebenarnya ia hanya akan berada di dalam mobil dan memantau pergerakan istrinya.
Rafa mencium pipi Kesya, lalu berlalu menuju mobil. Siap dengan perlengkapannya. Ponsel dan alat penyadap suara. Kali ini Kesya pasti akan tertangkap dan tidak bisa beralasan lagi.
Kesya bergerak masuk ke dalam rumah. Memeriksa ponsel yang sejak semalam di nonaktifkan. Pasti sudah puluhan pesan dan telefon dari Rio, begitulah dugaannya.
Drrttt ... Drrttt ...
Satu pesan masuk, dari nomor baru milik Rio.
[ Temui aku di restoran biasanya, atau aku akan ke rumahmu dan mengakui semuanya pada Rafael. Pilih mana, bertemu di luar atau aku samperin kamu di rumah!! ]
Begitulah isi pesan dari Rio. Kesya hanya menelan ludah. Tidak mungkin jika Rio ke rumah. Rafa akan mengetahui semuanya. Karena ada CCTV juga Pak Hadi, satpam rumah yang selalu memberi informasi apapun kepadanya.
Tidak ada pilihan lain. Kesya melangkahkan kaki ke lantai dua sembari melakukan panggilan telefon.
“Halo,” sapa suara di seberang.
“Halo, ayo kita bertemu, tapi ini terakhir kalinya. Setelah ini kita tidak akan bertemu lagi, paham? Jangan ke rumahku atau aku dan kamu sama-sama akan hancur paham?” jelas Kesya.
“Iya, aku paham, baiklah kita ketemu sekarang juga,” ucap Rio.
“Baik.”
Panggilan telefon di akhiri begitu saja oleh Kesya.
=====
Siang harinya Kesya bertemu dengan Rio di resto yang letaknya tidak jauh dari tempat tinggalnya. Sebuah resto dengan ruangan yang cukup luas dengan desain ruangan dominan warna cerah dan berbagai varian menu yang di tawarkan menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Namun, bukan itu tujuan Kesya mengajak Rio bertemu di resto, ia hanya tidak ingin pria itu masuk ke dalam rumahnya, bisa gawat semuanya.
Rio sudah datang terlebih dahulu. Berbeda dengan Kesya yang ingin segera mengakhiri hubungan. Rio terlihat jelas sangat merindukan Kesya. Berhari-hari tidak berjumpa dengan pesan yang tak pernah di balas dan telefon yang tak pernah di angkat Rio benar-benar dongkol. Ancamannya berhasil. Buktinya Kesya sekarang keluar rumah demi dirinya.
“Kesya, kamu mau pesan apa?” tanya Rio sesaat setelah wanita idamannya itu duduk di kursi kosong yang ada di depannya.
“Jus lemon, saja,” sahut Kesya. Tidak ingin berlama-lama maka ia tidak memesan makanan.
“Kenapa akhir-akhir ini susah sekali menghubungimu, tidak seperti biasanya. Nomor kamu juga serong tidak aktif, sekalinya aktif tidak pernah membaca pesan!” protes Rio. Berusaha meraih tangan Kesya. Namun, wanita itu menghindar.
“Mas Rafa di rumah, aku enggak berani jawab telefon dari kamu,” jawab Kesya dengan suara datarnya. “Bukankah semalam aku sudah bilang ingin menyudahi hubungan kita? Jangan pura-pura lupa! Setelah ini, aku tidak akan pernah menemuimu lagi!” tegas Kesya.
“Kesya, jangan bicara seperti itu, yang ada aku semakin merindukanmu, tidak aku tidak mau hubungan kita berakhir!” tolak Rio. Yang saat ini sangat merindukan Kesya.
Kesya memilih diam tidak bereaksi pada pernyataan Rio. Dia menghabiskan makanan yang di pesannya tadi pura-pura tidak mendengar apa yang di ucapkan Kesya.
“Rio, kita harus mengakhiri semuanya aku tidak peduli kamu bersedia atau tidak, ini kali terakhir aku menemuimu diam-diam, aku tidak mau lagi!” tegas Kesya dengan suara lebih keras. Sudah cukup menundanya. Rio harus menerima keputusan darinya.
“Apa, kamu ingin kita berpisah? Yang benar saja kamu Kesya? Kamu ingatkan kamu yang memulai semuanya? Kamu yang mengajakku berkenalan, kamu juga yang merayuku terlebih dahulu? Sekarang kamu mau menyudahi begitu saja? Aku enggak mau, aku enggak bisa,” tolak Rio yang merasa sudah di beri harapan terlalu banyak. Seperti semalam ia masih kekeh dan tidak mau jika Kesya mengakhiri hubungan mereka begitu saja.
“Aku pulang dulu,” pamit Kesya. Menyesap jus lemonnya lalu ia berdiri dan tidak mendengar apa yang Rio katakan. Kemudian ia berlalu pergi begitu saja. Meninggalkan Rio yang masih tidak ingin hubungan terlarang mereka berakhir.
Rio mendengus kesal. Kesya terlalu kejam.
Kesya segera masuk ke dalam mobil. Ia duduk di belakang kemudi, lalu melajukan kendaraan roda empatnya. Semua sudah berakhir. Ia berjanji tidak akan pernah mengkhianati Rafael lagi. Dengan Rio, ini pertama dan terakhir kalinya ia memiliki pria idaman lain. Setelah ini tidak akan pernah ada lagi.
Bersambung.
Jangan lupa tap love dan beri komentar ya...
Hai...
Ini karya orisinal aku yang hanya exclusive ada di Innovel/Dreame/aplikasi sejenis di bawah naungan STARY PTE.
Kalau kalian membaca dalam bentuk PDF/foto atau di platform lain, maka bisa dipastikan cerita ini sudah DISEBARLUASKAN secara TIDAK BERTANGGUNGJAWAB.
Dengan kata lain, kalian membaca cerita hasil curian. Perlu kalian ketahui, cara tersebut tidak PERNAH SAYA IKHLASKAN baik di dunia atau akhirat. Karena dari cerita ini, ada penghasilan saya yang kalian curi. Kalau kalian membaca cerita dari hasil curian, bukan kah sama saja mencuri penghasilan saya?
Dan bagi yang menyebarluaskan cerita ini, uang yang kalian peroleh TIDAK AKAN BERKAH. Tidak akan pernah aku ikhlaskan.
Dark Coffe