|| 5 || Kecurigaan Rafael

1209 Kata
5. Kecurigaan Rafael. Rafael tiba di rumah. “Kesya,” “Kesya,” panggilnya sembari berjalan menaiki tangga. Tidak ada sahutan. Saat pria itu sampai di dalam kamar, sang istri juga tidak ada di sana. Rafael duduk di sofa, sembari melepas jas dasinya. Ponsel Kesya berbunyi. Rafael mencoba acuh. Bisa menebak pasti Gina yang menelefon. Ya, Gina adalah sahabat Kesya. Mereka berdua sering mengobrol di telefon hingga berjam-jam. Bunyi ponsel berhenti, lalu terdengar lagi yang ke dua, ke tiga, dan ke empat. Membuat Rafael penasaran. Sementara Kesya sepertinya sedang berada di dalam kamar mandi. Akhirnya Rafael memutuskan untuk mengambil ponsel istrinya yang berada di atas nakas. Terlihat nomor tak dikenal di layar ponsel. Rafa menggeser ikon warna hijau layar ponsel. Panggilan terhubung. “Halo, maaf ini siapa?” seru Rafa. “Halo, ini siapa ya?” tanya Rafael. Ketika orang di seberang telefon masih diam saja. Seolah panggilan itu tidak penting orang di seberang telepon tidak menjawab pertanyaan dari Rafael. Bahkan tak satu kata pun terucap di bibir. “Telepon dari siapa Mas?” tanya Kesya keluar dari kamar mandi, ia berjalan menghampiri suaminya dengan rasa was-was takut jika Rio yang menelefonnya. “Tidak ada namanya,” sahut Rafael seraya mengakhiri panggilan telefon. “Apa hari ini menyenangkan bagaimana tadi pekerjaannya?” tanya Kesya berbasa-basi. Mencoba mengalihkan perhatian Dia sangat takut saat Rafael membawa ponsel miliknya. Bisa saja Rio mengirim pesan untuknya. “Tadi pekerjaannya tidak ada yang terlalu berat semua produk bisa ekspor tepat waktu,” sahut pria itu. Menaruh ponsel lalu kembali duduk. “Mas mau makan apa malam ini?” tawar sang istri. Ia berjalan menuju almari dan mencari piama yang nyaman. “Aku tidak lapar, aku hanya sangat lelah,” keluh pria itu. Merebahkan tubuhnya di sofa. “Oh ya sudah, aku akan ke bawah untuk mengambil makanan, Mas mau aku bawakan coklat hangat apa kopi?” tawarnya lagi. “Emm ..., kopi saja!” jawab Rafael. Momennya pas sekali. Sebenarnya tadi Rafa ingin sekali membuka puluhan pesan dari nomor tak di kenal itu. Hanya berharap semoga Kesya tidak membawa ponselnya ke bawah. “Baik.” Kesya bergerak ke luar kamar. Tepat sekali, Rafa segera berdiri dari duduknya bergerak cepat meraih ponsel Kesya yang masih berada di atas nakas. Dengan ibu jari Rafa membuka layar ponsel. Tujuannya adalah aplikasi yang di d******i warna hijau. Sebuah aplikasi pengantar pesan yang paling digemari saat ini. [ Angkat ] [ Apa maksudmu mengakhiri hubungan kita! ] [ Kita harus bicara ] [ Angkat Sayang] [ Jangan, diamkan aku seperti ini ] [ Ya sudah besok aku ke rumahmu ] [ Aku tidak taju suamimu ] [ Kamu ke mana kenapa aku tidak diangkat ] [ Ya, sudah pokoknya aku besok datang ke rumah ] [ Jangan menghindar! ] [ Aku tidak mau diputuskan sepihak seperti ini ] [ Paham ] [ Kesya angkat lah] [ Besok aku pasti ke rumah! ] Rafa membaca pesan itu dengan kesal. Tak lupa ia menghapusnya. Dadanya terasa sesak dan penuh tanya. Apa yang terjadi? Mungkinkah Kesya mendua? Berselingkuh? Apa yang harus aku lakukan? Rafael menaruh ponsel seperti semula. Kemudian, bertolak ke kamar mandi. Ia harus mandi dan mencoba menguasai emosinya. ============ Malam harinya, Rafa yang sudah merasa kecewa pada istrinya. Ia tidak marah. Pria itu memilih merencanakan sesuatu untuk membuat Kesya tertangkap basah. Ya, sakit sekali membaca pesan-pesan mencurigakan itu. Rafa izin untuk tidur terlebih dahulu. Muak sekali bicara dengan istrinya. Pria itu memilih tidur membelakangi Kesya dan tidak peduli dengan sang istri yang terus menggodanya. Mati rasa dan sedih berpadu di dalam hati dan benaknya. Pagi harinya Rafa sengaja bangun lebih pagi. Menghindari istrinya sekaligus, ingin menyuruh orang untuk memasang GPS di mobil istrinya. Apa yang di lakukan istrinya selama ini, Rafa tidak memantaunya karena percaya. Namun, sepertinya salah karena istrinya berani bermain api. Kesya terbangun, tidak mendapati Rafa di sampingnya. Pelayan di rumah mengatakan bahwa sang suami sudah berangkat kerja sejak pagi tadi. Kesya memutuskan untuk kembali naik ke kamarnya. Duduk di salah satu kursi rotan yang ada di balkon kamarnya. Dia kembali berpikir, karena setelah mendapat nasehat dari ibunya, keputusannya sudah bulat. Harus mengakhiri hubungannya dengan Rio. Kesya mengambil ponsel. Berencana menemui sahabatnya Gina. Sahabatnya itu paling mengerti keluh kesahnya. Selalu mendengarkan dan tipe sahabat yang selalu mendukung. [ Ke salon bareng yuk ] [ Baiklah aku tunggu di salon biasa ] [ Ada yang ingin aku ceritakan ] [ Ceritakan saja, hari ini suamiku sedang di luar kota, aku bebas keluar rumah ] [ Ok ] Gina sudah mengetahui tentang perselingkuhan Kesya dengan Rio. Kesya menceritakan tentang kedekatan mereka, dan tak segan-segan mengaku sangat tertarik dengan Rio. Namun, Gina tidak memberitahu Rafa. Tentu saja karena rasa setia kawannya, apa salahnya menyimpan rahasia itu rapat-rapat. Selingkuh. Selingan indah keluarga utuh. Suami Gina, bekerja di sebuah perusahaan Textile, bagian pemasaran membuatnya harus sering di rumah sendiri karena pekerjaan suami. Gina memilik satu anak perempuan berusia tiga tahun, ada baby sitter yang membantunya mengasuh putrinya itu. Sehingga Gina bisa pergi ke salon kapan saja, termasuk hari ini. Di sebuah salon yang paling bagus dan mahal. Kesya bertemu dengan Gina sahabatnya itu. Sebuah salon kecantikan yang menawarkan bermacam perawatan tubuh dengan harga fantastis, itulah tempat favorit mereka bertemu. Gina sudah datang terlebih dahulu. Ia tengah duduk dan seorang penata rambut, sedang mengaplikasikan warna di mahkota kepalanya itu. “Gin, seperti nya aku ingin menyudahi hubunganku dengan Rio,” ungkap Kesya seraya duduk di kursi kosong di samping Gina. Kesya tampak kusut dan tidak bersemangat. "Kenapa memangnya Sya? Mendadak ingin menyudahinya?” tanya Gina ingin tahu alasan Kesya berniat menyudahi hubungan dengan Rio. Padahal Gina tahu bahwa Kesya hanya baru sekali chek in di hotel bersama pria itu. "Aku sadar aku salah, aku takut sama mas Rafa, takut ketahuan,” jawab Kesya sambil tersenyum, melihat pantulan wajahnya di kaca. Model rambut baru akan membuatnya terlihat lebih fresh. “Baguslah Sya kalau kamu sudah sadar, kalau apa yang kamu lakukan itu salah,” sahut Gina. Sebentar lagi dia akan selesai. “Oh, iya kalau memang mau putus sama Rio, kamu ngomongnya baik-baik, tapi menurutku Rio enggak akan semudah itu menerima keputusanmu, diakan cinta mati sama kamu!” imbuhnya menasihati Kesya. “Iya, aku bakal ngomong baik-baik , aku memang sudah enggak bisa meneruskan hubungan terlarang ini sama Rio,” kata Kesya. "Lagian apa sih kurang nya Rafa buat kamu, tampang oke, dompet tebal, kebutuhan kamu dia cukupi semuanya, aku mau menggantikanmu jadi istrinya Rafa kalau kamu sudah bosan gimana? Rafa buat aku saja,” goda Gina seraya menyunggingkan senyum nakal. “Tidak, Mas Rafa hanya untukku, suami kamu mau di ke mana in?” protes Kesya marah dengan candaan Gina. Bersambung Hai... Ini karya orisinal aku yang hanya exclusive ada di Innovel/Dreame/aplikasi sejenis di bawah naungan STARY PTE. Kalau kalian membaca dalam bentuk PDF/foto atau di platform lain, maka bisa dipastikan cerita ini sudah DISEBARLUASKAN secara TIDAK BERTANGGUNGJAWAB. Dengan kata lain, kalian membaca cerita hasil curian. Perlu kalian ketahui, cara tersebut tidak PERNAH SAYA IKHLASKAN baik di dunia atau akhirat. Karena dari cerita ini, ada penghasilan saya yang kalian curi. Kalau kalian membaca cerita dari hasil curian, bukan kah sama saja mencuri penghasilan saya? Dan bagi yang menyebarluaskan cerita ini, uang yang kalian peroleh TIDAK AKAN BERKAH. Tidak akan pernah aku ikhlaskan. Dark Coffe
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN