|| 9 || Berlari

1700 Kata
9. Berlari. Hari sudah mulai siang. Matahari mulai naik. Sinarnya begitu terik sampai ke permukaan bumi. Kesya sedang berjalan mondar-mandir di ruang tengah rumahnya. “Nyonya, makan dulu!” pinta Bi Marni ia memberikan potongan buah dan segelas s**u pada majikannya. “Aku tidak lapar Bi,” tolaknya. Masih memandangi layar ponsel. Bi Marni kembali ke dapur. Memilih membiarkan Kesya sendiri. Ya, wanita itu butuh waktu untuk sendiri. Hening. Kesya duduk sembari melihat layar ponselnya. Nomor Rafa masih belum aktif juga. Ia marah dan semakin sedih. Semua rasa berpadu di dalam hatinya. Bukan Gina, tetapi ia perlu pulang untuk bicara dengan ibunya. Kesya : [ Apa gunanya aku di sini, kalau Mas Rafa tidak pulang untuk menemuiku. Kita perlu bicara Mas, rasanya tidak enak di tinggal sendiri, seperti ini. Aku minta maaf, aku janji tidak akan mengulanginya lagi. Aku pulang ke rumah ibu. ] Kesya mengirim pesan itu ke nomor sang suami yang masih belum aktif. “Bi Marni,” panggil Kesya. “Iya, Nyonya,” sahutnya. “Tolong bantu aku, mengemasi baju!” pintanya. “Iya.” Bi Marni hanya menurut dan mengekor, mengikuti langkah kaki Kesya. Tiba di kamar Kesya membuka satu koper berukuran sedang. Ia berharap Rafa akan segera menjemputnya, semoga saja. Kesya memilih baju yang akan di bawanya. Sedangkan Bi Marni, menata dan mengemasinya. Menaruh rapi di dalam koper. “Nyonya, mau pergi ke mana?” tanya wanita itu. Meski tidak setuju jika sang majikan pergi dari rumah ia terus memasukkan pakaian ke dalam koper. “Aku mau ke rumah ibu, Bi,” sahutnya. “Bi Marni dan yang lain tolong jaga rumah ini, saat Mas Rafa tolong katakan aku tidak akan pulang sebelum dia menjemputku, bagai mana, apa Bi Marni mau?” tanya Kesya. Rafa memang tidak terlalu dekat dengan orang tak terkecuali pada para pelayan di rumah. “Nanti akan, aku sampaikan Nyonya,” sahut Bi Marni. Tidak bisa mencegah Kesya yang sudah sangat yakin akan segera pulang ke rumah ibunya. “Baik, Bi aku pulang sekarang,” pamit Kesya. Ia mengambil sling bag, lalu dengan tangan kanan menarik kopernya menuruni tangga. Sementara Bi Marni hanya melihatnya dari belakang. Di depan rumah ada sebuah mobil yang di pesan Kesya untuk mengantar ke rumah ibunya. Kesya masuk ke dalam mobil. Membawa kopernya ke dalam. Ia melambaikan tangan pada Bi Marni yang mengikutinya ke depan. “Hati-hati Nyonya,” tutur Bi Marni sebelum Kesya menutup pintu mobil. Kesya mengangguk. Kemudian, si sopir menyalakan mesin dan mulai menjalankan mobilnya ke luar dari pekarangan rumah mewah itu. ===== Rafa berangkat siang menuju AX Furnitur. Selain tidak enak hati, ia juga merasa tidak bersemangat. Sedih, kecewa sakit berpadu di dalam hatinya. Akhirnya ia memutuskan untuk menelefon Gina. Satu-satunya sahabat dekat istrinya. Ia pasti tahu. Apa yang sebenarnya terjadi. Seberapa lama dia berpacaran dengan cowok bernama Rio itu. Panggilan telefon terhubung. “Halo,” sapa suara wanita di seberang telefon. “Benar ini dengan Gina?” tanya Rafa penasaran. “Iya, saya sendiri, ada yang bisa dibantu?” tawar suara di seberang. “Begini, ini saya Rafa suami Kesya, kalau ada waktu bisakah kita mengobrol sebentar, ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan mengenai istri saya,” pinta Rafa. “Oh, iya, kapan saja saya bisa asal sebelum jam makan siang,” sahut Gina ramah. “Baiklah, bagaimana kalau kita bertemu sebentar?” tanya Rafa. “Baik, kita bertemu di resto A, di dekat rumah ku,” ucap Gina. Ya, sebentar lagi putranya pulang sekolah. Tidak mungkin ia tidak ada saat putranya tiba di rumah. “Baik, saya akan ke sana sekarang,” jelas Rafa tidak sabar. “Iya.” Rafa menaruh ganggang telefon. Kemudian, bergegas mengambil kunci mobil. Semua pekerjaan mendesak sudah ia tangani, sisanya ia serahkan pada Dion sekretarisnya. Rafa menuruni tangga. Kantornya berada di lantai dua. Sedangkan ruang produksi di lantai bawah. Kemudian, ia bergegas ke area parkir. Duduk di belakang kemudi dan segera melajukan kendaraan roda empatnya ke resto yang di maksud oleh Gina. . Tibalah di resto dekat rumah Gina. Rafa turun dari mobil. Menerobos masuk ke dalam resto. Ia tidak membawa ponsel, tetapi dia masih ingat wajah dan rupa Gina. Sudah beberapa kali bertemu dan bertegur sapa ketika wanita itu datang ke rumah. Meski tidak pernah mengobrol berdua. “Rafael,” panggil Gina. Wanita itu datang terlebih dahulu. Duduk di salah satu kursi untuk pengunjung dengan menu makan siang yang sudah di pesannya. Rafa menoleh, lalu segera berjalan ke arah sumber suara. “Gina, kan ya,” ujar Rafa seraya duduk di depan wanita yang baru saja memanggilnya. “Iya,” jawabnya. “Sendiri saja? Mana Kesya?” tanya Gina pura-pura tidak tahu. Padahal Kesya sudah sedikit bercerita mengenai kejadian semalam di rumahnya. “Iya, maaf mengganggu,” ucap Rafa tidak enak hati. “Enggak ganggu kok,” balasnya dengan melebarkan bibir dan tersenyum. “Begini, aku ingin mengetahui mengenai hubungan Kesya dengan Rio, aku harap kamu bisa bercerita dan membuka semua yang di rahasiakan Kesya selama ini,” pinta Rafa. Ia menyesap es kopi moka yang sudah di pesan Gina untuknya. Berat, bersiap mendengarkan fakta mengenai pengkhianatan istrinya. “Jadi, sebenarnya Kesya sudah lumayan lama menjalin hubungan dengan Rio, mungkin sekitar empat bulan dari sejak mereka bertukar nomor pertama kali. Hanya saja, untuk sejauh apa hubungan mereka aku juga kurang tahu karena Kesya tidak pernah menceritakan secara detail hubungan mereka,” kata Gina menjelaskan secara singkat. Berdasarkan fakta yang di ketahui nya. Rafa menegak saliva. Teramat pahit apa yang di rasakannya. Empat bulan dan dia tidak mengetahui apa-apa. Bahkan Kesya tidak terlihat mencurigakan di hadapannya. Miris sekali, istri yang sangat ia cintai sudah pandai mendustai. “Kamu baik-baik saja kan?” tanya Gina. Ya, Rafa seribu kali lebih baik dari suaminya saat ini. Tidak sebentar lagi ia akan bercerai dengan suami yang selalu kasar padanya itu. “Iya aku baik-baik saja, aku hanya tidak menyangka Kesya bisa berkhianat padaku,” jawab Rafa datar. Menyembunyikan luka hatinya, menyembunyikan pedih rasanya di khianati wanita yang paling dicintai. Ratu di rumah sekaligus ratu di hatinya. “Sebenarnya beberapa saat lalu, aku ingin bilang sama kamu, tapi aku mengurungkannya,” ujar Gina jujur. “Dia itu tidak bersyukur sudah punya suami seperti kamu, yang bisa memberikan apapun yang dia minta, tapi dia masih saja selingkuh, aku selalu menasihati Kesya agar setia!” imbuhnya. Ya, dia lebih memilih menasihati Kesya, di banding membuka kebusukannya. “Biarlah!” ucap Rafa. Tidak bisa menyembunyikan wajah sedihnya. Mengingat istri yang sangat dicintainya itu mengizinkan laki-laki lain menjamah tubuhnya. “Kamu tahu berapa kali mereka chek-in di hotel?” Akhirnya Rafa memberanikan diri menanyakan hal itu. Ia sudah bersiap menunggu jawabannya. Rasa penasaran ingin tahu kebenaran mengalahkan rasa sakit dan keraguannya. “Mungkin baru sekali,” jawab Gina. Sesuai dengan apa yang dikatakan Kesya beberapa hari yang lalu. Hancur sudah. Tebakannya benar, meski hanya sekali Kesya telah mengizinkan pria lain menjamah tubuhnya. Menikmati lekuk tubuhnya. Sakit. Mendidih, begitulah yang dirasakan Rafa saat ini. “Terus selanjutnya, tindakan apa yang akan kamu ambil?” tanya Gina karena dia penasaran ingin tahu apakah Rafa akan menceraikan Kesya atau mempertahankannya? Hening. Tampak Rafael diam, tidak berniat menjawab pertanyaan dari lawan bicaranya. Hatinya masih sakit. Luluh lantak. “Aku masih belum tahu Gin, aku butuh ketenangan untuk memikirkannya,” sahut Rafa dengan suara pelan. Tidak ingin Gina menyadari suaranya yang bergetar. “Untuk bercerai dalam waktu dekat ini tidak mungkin, aku ingin memberikan kesempatan apakah Kesya akan berhenti dan berubah, atau tetap akan meneruskan kesalahannya,” tambahnya. Pria itu membuang nafas pelan untuk mengurangi dadanya yang terasa sesak. “Benar dugaanku, kamu terlalu baik untuk Kesya yang nauzhubilah! Tapi itu kan kesalahan Kesya, kalau benar masih ingin kembali dengannya kamu harus memberikan pelajaran agar dia jera!” pesan Gina. Dasar Rafa baik apa bodoh? Sudah di selingkuhi masih mau dipertahankan, memang bodoh banget ini orang! Wanita kan banyak, enggak cuma Kesya doang. Aku misalnya. batin Gina. “Iya, aku tahu Kesya salah, aku saja masih sakit hati jika mengingat apa yang di lakukannya, mungkin untuk saat ini aku akan sendiri dulu!” ucap Rafa. “Bagaimana kalau kamu membalas perbuatan Kesya?” usul Gina seolah memberi solusi atas sakit hati yang dirasakan Rafa. Mungkin saja kali ini ia mendapatkan kesempatan dekat dengan Rafa. “Maksud kamu?” tanya pria itu, tidak tahu apa yang di maksud lawan bicaranya. “Ya kamu balas selingkuh, gimana?” sahut Gina disertai senyuman menggoda. Rafa tertawa masam. “Kamu bisa saja Gin!” balas Rafa menganggap usulan Gina itu sangat lucu. Membalas perselingkuhan dengan selingkuh, bukanlah solusi. Melainkan menimbulkan masalah baru. “Kalau kamu mau kita bisa diam-diam saling bertemu tanpa di ketahui suamiku dan tidak di ketahui siapa pun, apa kamu mau?” tawar Gina terlalu percaya diri menatap serius ke arah Rafa. “Ngaco kamu, parah banget bercandanya!” balas Rafa sambil tertawa. Mendengar ucapan Gina. Gina juga tertawa. Rafa, sosok suami yang baik. Ia juga menginginkan satu yang seperti itu. Semoga saja, setelah bercerai dengan suaminya saat ini. Ia bisa mendapat suami yang baik. Rafael, misalnya. Suasana kembali hening. Rafa, semakin merasakan perih dan sakit. Hatinya semakin terkoyak. “Emmm, Rafa aku pamit, aku mau jemput anakku dulu,” izin Gina seraya melirik arloji di pergelangan tangannya. Merasa kesal karena ajakan seriusnya hanya dianggap candaan oleh Rafa. “Iya, Gina, terima kasih sudah menyempatkan buat datang kesini, terima kasih sudah mau bercerita,” ucap Rafa. “Iya, sama-sama,” jawab Gina. Ia berdiri dari duduknya lalu berjalan keluar dari resto. Setelah kepergian Gina, kini Rafa terduduk lesu. Tenggorokannya terasa pahit. Dadanya semakin terasa berat dan sesak. Geram sekali dengan apa yang dilakukan istrinya. Bersambung. Hai... Ini karya orisinal aku yang hanya exclusive ada di Innovel/Dreame/aplikasi sejenis di bawah naungan STARY PTE. Kalau kalian membaca dalam bentuk PDF/foto atau di platform lain, maka bisa dipastikan cerita ini sudah DISEBARLUASKAN secara TIDAK BERTANGGUNGJAWAB. Dengan kata lain, kalian membaca cerita hasil curian. Perlu kalian ketahui, cara tersebut tidak PERNAH SAYA IKHLASKAN baik di dunia atau akhirat. Karena dari cerita ini, ada penghasilan saya yang kalian curi. Kalau kalian membaca cerita dari hasil curian, bukan kah sama saja mencuri penghasilan saya? Dan bagi yang menyebarluaskan cerita ini, uang yang kalian peroleh TIDAK AKAN BERKAH. Tidak akan pernah aku ikhlaskan. Dark Coffe
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN