|| 10 || Berlari pun Bukan Solusi.

1603 Kata
10. Berlari pun Bukan Solusi. Pagi itu, suara kokok ayam sudah terdengar dikala Kesya, masih terlelap dalam tidurnya. Angin dingin di pagi hari yang berembus menyentuh permukaan kulit wanita itu. Kesya masih meringkuk di balik selimut. Menghangatkan tubuhnya dari suhu dingin, yang menguasai. Burung-burung berkicau membentuk alunan yang di dengar oleh alam semesta, tidak mampu membangunkan Kesya. Pasalnya selama satu minggu ia tidak pernah tidur dengan nyenyak baru malam ini saja ia bisa terlelap lama dan sangat nyenyak. Sinar sang surya masuk lewat celah-celah tirai jendela, mengenai bagian tubuh Kesya. Netranya sedikit demi sedikit mulai terbuka. Di kala mendengar suara ketukan pintu. Ya, Bu Tami, berusaha membangunkan putrinya. Bu Tami, adalah seorang janda. Ayah Kesya meninggal lima tahun yang lalu sebelum Kesya menikah dengan Rafael. Bu Tami kembali mengetuk pintu. Baru saja ia mendengar kabar yang tak mengenakan. Semoga saja, prasangka buruknya salah. Kesya mengerjapkan mata. Kemudian bangkit dari tidurnya. “Sebentar Bu,” ucapnya karena terus mendengar suara ketukan pintu. Kesya menarik handle pintu. Tampak wanita paruh baya itu menatapnya dengan tajam. Penuh tanya dan penasaran. Awalnya ia mengira kedatangan Kesya hanya untuk sehari dua hari saja. Namun, ia mulai curiga ada masalah dengan suaminya. Pasalnya selama satu minggu menginap. Kesya tak pernah sekali pun terlihat menelefon Rafael. Dia juga tampak murung dan tidak bersemangat. “Ada yang ingin ibu tanyakan,” ungkap Bu Tami. Ia menerobos masuk ke dalam kamar putrinya. Kesya mengangguk, membuka lebar-lebar pintu kamarnya. “Kenapa kamu sendiri saja, dimana suamimu?" tanya Bu Tami. Satu tangannya memegang lengan Kesya. Meminta agar segera menjawab pertanyaannya. Kesya menatap Bu Tami sedih. Namun, dia tidak mampu menjawab pertanyaan ibunya. Bagaimana bisa dia mengakui kesalahan fatal yang diperbuat nya. Bu Tami pasti akan merasa sedih ketika mengetahui bahwa dia telah mengkhianati Rafael. Hening. Kesya tidak bisa menjawab. Tidak tahu apa yang harus di katakan pada ibunya. “Kenapa diam saja, apa benar yang dikatakan Bu Heni?” tanya Bu Tami. Bu Heni adalah tetangganya. Ia memiliki seorang putri yang bekerja di AX Furnitur. Informasi dari putranya, Bu Heni memberitahu Bu Tami bahwa istri dari pemilik AX Furnitur kepergok selingkuh dan sekarang pergi bersama selingkuhannya. Begitulah gosip yang menyebar di antara para karyawan AX Furnitur. “Kesya masih mengantuk Bu, bahas ini nanti siang saja, Kesya akan menjelaskan semuanya!” ucap Kesya. Ia kembali merebah dan bersembunyi di balik selimut. “Baiklah,” jawab Bu Tami. Namun, jujur di dalam hati wanita paruh baya itu menyimpan kecurigaan. Mengingat Kesya yang tidak menjawabnya tadi, dan wajahnya yang terlihat sedih menandakan sesuatu telah terjadi pada putrinya itu. Hening. “Tidurlah, setelah makanan siap ibu akan membangunkanmu,” ucap Bu Tami. Membentangkan selimut, lalu berdiri dari duduknya. Ia pun keluar dari kamar putrinya. ===== Tak terasa, Kesya sudah tinggal selama sepuluh hari di rumah ibunya. Rafa, tidak pernah mencarinya sekali pun, jangankan mencari! Mengirim pesan atau menelefon pun tidak pernah. Bu Tami semakin curiga ketika Suci, anak dari Bu Heni bermain ke rumahnya. Hari sabtu dan minggu, awal bulan ia biasa pulang ke rumah. Tok... Tok... Tok... Dari dalam rumah Bu Tami melihat Suci. Firasat buruk menghampirinya ketika melihat wajah Suci tampak bangga. Seolah senang karena terjadi sesuatu hal. Ya, seorang ibu bisa melihat ekspresi itu. Suci dan Kesya dulu bekerja di AX Furnitur. Hanya keberuntungan berpihak pada Kesya, karena ia bisa menjadi istri dari pemilik perusahaan. Sedangkan Suci, sampai saat ini hanya sebagai karyawan biasa. Bu Tami membuka pintu. Ia sengaja tidak mempersilakan Suci masuk ke dalam rumah dan lebih memilih, berbincang di teras. “Eh, Nak Suci, silakan duduk,” tawar Bu Tami. Mempersilakan gadis itu duduk di kursi kayu, terasnya. “Iya, Bu,” sahut Suci. “Begini Bu, saya kemarin sudah bercerita mengenai hal ini pada ibu saya, mungkin beliau lupa menyampaikannya,” ucap Suci mengawali pembicaraan. “Tentang apa ya, Nak Suci,” tanya Bu Suci pura-pura tidak tahu. Sebenarnya dia masih mengingat betul apa yang dikatakan Bu Heni dua hari yang lalu. Hanya saja, sampai saat ini Kesya belum mau mengklarifikasinya. “Begini Bu, saya juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Hanya saja, para karyawan sedang membicarakan Pak Rafa yang selama, kalau beliau tidak pernah pulang ke rumah melainkan menginap di hotel karena sedang bertengkar dengan istrinya. Maksud saya Mbak Kesya istri dari Pak Rafa ketahuan, berselingkuh, apa itu benar Bu Tami?” tanya Suci bergaya mencari tahu. “Bukan hanya itu, katanya Pak Rafael juga mengusir istrinya dari rumah!” imbuhnya. “Percayalah Nak Suci, itu hanya gosip, hubungan Kesya dan suaminya baik-baik saja. Kesya memang sedang tinggal di rumah ini karena ingin menjenguk saya, bukan karena hal lain, bukan karena apa yang di ceritakan Nak Suci,” dalih Bu Tami. Bisa gawat jika semua warga mengetahui hal ini. “Oh, baguslah Bu, berarti apa yang tersebar di antara karyawan itu hanya gosip ya Bu,” tanya Suci. Sebenarnya dia lebih percaya dengan apa yang dikatakan teman-temanya dibandingkan alasan dari Bu Tami. “Iya, itu hanya gosip,” Bu Tami mengiyakan meski sedikit canggung. “Baik Bu, saya pamit ya,” izin Suci. Merasa puas. Setidaknya ia memiliki bahan gosip untuk menjatuhkan Kesya. “Iya.” Bu Tami menyunggingkan senyum seraya melihat Suci pergi melangkah dari teras rumahnya. Namun, dalam hati ia merasa geram dan akan segera memarahi Kesya. Bu Tami kembali masuk ke dalam rumah. Ia mengunci pintu rapat-rapat. Tidak ingin ada orang yang masuk ke dalam rumah di saat dirinya tengah menginterogasi putrinya. “Kesya.” “Kesya.” “Kesya.” Bu Tami berteriak seraya melangkah menuju kamar putrinya. Berhari-hari Kesya habiskan hanya di dalam kamar. Keluar hanya saat makan atau mandi. Kini dia tahu alasan di balik, mata panda putrinya dan suara isakan. Ya, semua terasa masuk akal. Pasti karena Kesya ketahuan berselingkuh. “Buka pintunya!” suruh Bu Tami. Kini dia terlihat menggedor pintu dengan paksa dan tidak sabar. “Iya Bu, sebentar,” sahut Kesya beranjak dari tidurnya. Kemudian membuka pintu kamarnya. Ada rasa kaget karena ibunya terdengar berteriak. Pintu terbuka. Bu Tami menatapnya dengan tajam. Amarah dan sedih yang berpadu di hatinya, terpancar lewat ekspresi wajah. “Apa benar yang dikatakan Suci? Anak dari Bu Heni yang bekerja di perusahaan suamimu, kalau kamu pulang ke sini, karena kamu di usir sama suamimu karena selingkuh!” tuduh Bu Tami. Tidak bisa menahan gejolak yang membara di hatinya.” Jawab Kesya jangan diam saja, jawab!” bentaknya. Kedua matanya melotot karena marah. Selama ini Bu Tami memang tidak berani menanyakan kenapa Rafa, tidak juga menjemputnya. Wanita paruh baya itu mengira ada masalah tapi tidak terpikir olehnya permasalahan yang sedang dihadapi Kesya, karena kesalahannya yang berani menghianati suaminya yang terkenal baik hati itu. Hidup di desa tidak seperti hidup di kota, jika di kota orang-orang cenderung cuek dan masa bodoh. Di desa kebalikannya mereka sangat peduli dan rasa ingin tahunya sangat tinggi, sehingga kabar sekecil apapun akan cepat tersebar ke seantero kampung. Semua warga kampung tidak ada, yang tidak mengenal Rafael. Menantu Bu Tami yang kaya raya dan rajin bekerja. Ia bisa menerima Kesya gadis kampung yang miskin. Beberapa pemuda dan pemudi, di tempat tinggal Bu Tami juga banyak yang bekerja di perusahaan furnitur milik Rafael. Membuat Kesya dan sang suami juga terkenal di kampungnya. Sekarang bagaimana pandangan orang kampung terhadap Kesya. Yang tidak tahu terima kasih, tidak menghargai apa yang dimilikinya. Kesya malah menghianati suaminya yang baik dan pemilik perusahaan itu. Bu Tami tidak sanggup membayangkan hukuman sosial yang akan di terima Kesya. Dikucilkan dan digunjing warga kampung karena perbuatan anaknya itu. Sesegera mungkin, Bu Tami harus menyuruh Kesya untuk kembali ke rumah Rafael. “Jangan diam saja! Cepat kemasi barang-barangmu! Sekarang kamu pulang ke rumah suamimu, kamu harus mendapatkan maaf dari suamimu, ibu tidak mau tahu, kamu harus pulang sekarang, pergi dati rumah ibu!” teriak Bu Tami sambil menahan tangisnya . “Tapi, Bu!” protes Kesya teringat terakhir kali saat Rafa marah, membuatnya berpikir dua kali untuk kembali ke rumah suaminya. Ia juga takut akan reaksi Rafa. Akan menerimanya lagi, atau akan mengajukan cerai. “Pokoknya ibu, enggak mau tahu! Kamu harus minta maaf sama suamimu dan jangan sampai Rafa melakukan hal yang tidak-tidak,” suruh Bu Tami. Untuk pertama kalinya dalam hidup ia benar-benar merasa kecewa pada putrinya. Sangat kecewa dan teramat sangat kecewa. “Tapi Bu, Kesya takut dengan Mas Rafa,” ungkap Kesya mengakui isi hatinya. Hanya di sinilah tempat satu-satunya dia bisa bersembunyi. “Pulang sana! Cepat pulang!” usir Bu Tami berteriak dan mengeluarkan koper milik Kesya. Memasukkan baju putrinya. Kemudian, memaksanya untuk keluar dari Rumah. “Sebentar Bu,” pinta Kesya. Ia menata seluruh baju. Dengan air mata bercucuran ia mengemasi barang-barangnya. Ia meraih ponsel untuk memesan taksi. Bu Tami mengunci pintu. Dari dalam rumah ia mengawasi Kesya yang sedang duduk di teras menunggu jemputan. Maafkan ibu Nak, kamu harus kembali ke rumah suamimu, ibu tidak mau kamu mendengar perkataan buruk tentang kamu dari warga desa. Maafkan ibu Kesya, kamu harus mendapatkan maaf dari suamimu dan kembali lagi seperti dulu. Perbaiki semua kesalahanmu, meminta maaflah tanpa henti sampai Rafael memaafkanmu. Bersambung. Hai... Ini karya orisinal aku yang hanya exclusive ada di Innovel/Dreame/aplikasi sejenis di bawah naungan STARY PTE. Kalau kalian membaca dalam bentuk PDF/foto atau di platform lain, maka bisa dipastikan cerita ini sudah DISEBARLUASKAN secara TIDAK BERTANGGUNGJAWAB. Dengan kata lain, kalian membaca cerita hasil curian. Perlu kalian ketahui, cara tersebut tidak PERNAH SAYA IKHLASKAN baik di dunia atau akhirat. Karena dari cerita ini, ada penghasilan saya yang kalian curi. Kalau kalian membaca cerita dari hasil curian, bukan kah sama saja mencuri penghasilan saya? Dan bagi yang menyebarluaskan cerita ini, uang yang kalian peroleh TIDAK AKAN BERKAH. Tidak akan pernah aku ikhlaskan. Dark Coffe
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN