Menjalin Kerjasama

1607 Kata
Nama Elara Atelier seketika mencuat di berbagai lini sosial media, media cetak, bahkan beberapa portal berita daring. Judul-judul artikel ramai menyoroti langkah berani seorang pewaris dari keluarga besar Pradipta Group yang memilih membangun sebuah perusahaan di bidang fashion. “Visi berani Elara Atelier, Membawa fashion lokal menuju panggung internasional.” “Aruna Pradipta, pewaris yang menolak bergantung pada warisan.” “Pendatang baru dengan gebrakan segar, Elara Atelier menarik perhatian publik.” Headline itu berulang kali muncul di layar ponsel yang dipegang salah satu staf muda. Suasana kantor pagi itu penuh dengan energi yang berbeda, campuran antara bangga, semangat, sekaligus terkejut atas sorotan besar yang datang terlalu cepat. Aruna baru saja melangkah masuk ke lobi kantor. Tubuhnya terasa sedikit lelah, tetapi begitu salah satu staf mendekat dengan wajah berseri-seri, ia bisa langsung merasakan ada kabar baik. “Ibu Aruna!” suara Angel, salah satu staffnya, nyaris bergetar karena antusias. “Kita masuk berita lagi. Bukan hanya satu, tapi belasan media mengulas tentang Elara Atelier sejak pagi tadi.” Aruna sempat terhenti, menoleh dan melihat ponsel yang ditunjukkan padanya. Ada video singkat yang sedang viral, cuplikan peresmian Elara Atelier dua minggu lalu, dengan dirinya berdiri memberi sambutan. Senyum perlahan terbit di wajah Aruna. “Oh ya?” gumamnya lirih, tapi cukup terdengar oleh staf yang berada di sekitarnya. Salah satu karyawan bagian desain Leon, ikut mendekat dengan nada kagum. “Dua minggu operasional dan nama kita sudah sebesar ini… Bahkan beberapa rekan saya, mereka mulai penasaran, katanya, apa benar kita bisa membawa brand lokal menuju internasional.” Aruna tertawa kecil, lalu menatap satu per satu wajah mereka. Ada rasa haru yang menyelinap, di balik senyum dan semangat mereka, Aruna tahu betapa kerasnya tim kecil ini bekerja. “Ini baru permulaan,” ucap Aruna tenang, tapi matanya berbinar. “Kita memang belum punya sejarah panjang seperti perusahaan besar lainnya. Tapi aku yakin, dengan visi kita, kerja keras dan tekad, Elara Atelier bisa tumbuh lebih cepat dari yang kita kira.” Angel menimpali, suaranya penuh semangat, “Dan klien yang ingin bekerjasama semakin banyak, Bu. Kemarin ada butik dari Italia yang menghubungi kami. Mereka tertarik dengan konsep sustainable fashion yang kita buat.” “Benarkah?” Aruna mengangkat alis, kali ini ekspresinya murni terkejut sekaligus gembira. “Iya, Bu,” sambung Leon cepat. “Dan beberapa model sosial media juga sudah menghubungi pihak kita untuk kemungkinan kolaborasi. Mereka mengatakan, Elara Atelier memiliki image yang berbeda karena terlihat lebih elegan, tapi tetap modern.” Aruna tersenyum lebih lebar, lalu menghela napas lega. “Bagus sekali. Itu artinya kerja keras kita tidak sia-sia. Aku ingin kalian tahu, aku sangat bangga dengan tim ini. Kalian sudah melakukan lebih dari yang kubayangkan dalam waktu yang sangat singkat.” Para staf saling pandang dengan menahan senyum lebar. “Kalau begini, saya yakin perusahaan ini akan besar, Bu,” kata Angel dengan mata berbinar. Aruna mengangguk pelan. “Itu juga harapanku. Dan… aku ingin seseorang di luar sana melihat ini.” Nada suaranya menurun, lebih personal. “Aku ingin dia tahu, aku tidak bergantung pada siapa pun. Bahwa aku bisa berdiri di sini karena usahaku sendiri.” Leon dan Angel saling berpandangan satu sama lain dan itu sontak membuat Aruna seketika mengatupkan bibirnya. "Ya, aku berharap kalian bisa lebih baik lagi dan kita harus lebih fokus ke depannya dan nanti hasil yang akan berbicara.” Aruna lalu merapikan rambutnya sebentar, menepuk pundak Angel dan Leon bergantian. “Aku ke ruanganku dulu. Kalian tetap semangat, ya. Ingat, ini baru awal. Jalan kita masih panjang.” “Siap, Bu!” jawab mereka serempak dengan tawa kecil, seolah energi baru saja menyebar di seluruh ruangan. Aruna kemudian melangkah menuju ruang kerjanya. Di balik senyum yang ia tunjukkan, hatinya dipenuhi gelombang emosi. Ada rasa bangga, ada harapan, tapi juga ada sedikit perih, karena di dalam dirinya, ia masih menunggu saat Wira membaca kabar itu. Saat pria itu benar-benar menyadari bahwa Aruna yang dulu ia remehkan, kini berdiri tegak sebagai sosok yang jauh berbeda. *** Sesampainya di ruangannya, Aruna menghela napas panjang. Sepatu haknya menyentuh lantai kayu dengan bunyi yang bergema, lalu ia segera menjatuhkan tubuhnya ke kursi kerjanya yang empuk. Di atas meja, dokumen-dokumen sudah tersusun rapi menunggu untuk ditelaah. “Baiklah ...,” gumamnya lirih sambil meraih salah satu berkas. Jari-jarinya lincah membolak-balik lembaran, matanya fokus meneliti detail laporan keuangan dua minggu terakhir. Ia mencoba melupakan segala keributan yang baru saja terjadi di luar sana. Dunia bisnis memang penuh kejutan, tapi Aruna bertekad untuk tidak mudah goyah. Baru sepuluh menit ia asik menekuni dokumen, suara ketukan terdengar dari pintu. Tiga kali, pelan tapi jelas. Aruna mendongak sebentar, lalu meletakkan pulpen di atas meja. “Masuk,” ucapnya singkat. Pintu itu terbuka perlahan dan langkah mantap seorang pria memasuki ruangannya. Aruna nyaris membeku ketika melihat siapa yang muncul. Rendra Samudra Atmaja, sosok dengan stelan formal abu gelap yang terjahit sempurna, wajah tegasnya memancarkan wibawa yang berbeda. Senyum tipisnya tampak menenangkan sekaligus membuat jantung Aruna berdegup lebih cepat. “Oh ....” Aruna buru-buru berdiri, berusaha menyembunyikan keterkejutannya. Rendra menyapa dengan suara tenang. “Semoga kehadiran saya tidak mengganggu, Nona Aruna.” Aruna langsung menggeleng pelan sambil tersenyum. “Tidak sama sekali. Silakan masuk. Justru saya senang Tuan Rendra datang.” Ia bergerak cepat, menghampiri sofa di sudut ruangan, lalu mempersilakan. “Silakan duduk ...." Rendra menuruti dengan langkah tenang, lalu duduk dengan posisi santai tapi tetap berwibawa. Matanya berkeliling sejenak, memperhatikan interior ruangan sederhana dan elegan itu, sebelum akhirnya kembali fokus kepada Aruna. Aruna, setelah duduk berhadapan dengannya, bertanya dengan nada hati-hati, “Terimakasih atas kehadiran Tuan Rendra di perusahaan kecilku." "Jadi… ada keperluan apa Tuan Rendra datang langsung kemari? Seharusnya Tuan Rendra bisa memberitahuku lebih dahulu jadi aku bisa mempersiapkan tempat yang lebih layak." Rendra hanya tersenyum tipis, sorot matanya penuh keyakinan. “Tidak perlu terlalu formal, Aruna. Panggil aku Rendra saja." "Aku sengaja datang tanpa pemberitahuan, karena aku ingin mendengar langsung… tentang Elara Atelier darimu sendiri tentang visi, misi, arah yang ingin kau capai.” Aruna tertegun. “Kau ingin mendengar… lebih detail tentang Elara Atelier?” “Ya,” jawab Rendra mantap. “Aku sedang mempertimbangkan untuk menjalin sebuah kerja sama. Bahkan .…” ia berhenti sejenak, menatap Aruna lurus. “Aku berniat untuk menjadi investor bagi Elara Atelier.” Aruna seolah kehilangan kata-kata. Bibirnya terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar. Ia menatap Rendra lama, memastikan apakah telinganya tidak salah mendengar. “Apa… apa aku tidak salah mendengar?” Rendra tertawa kecil, renyah tapi tetap sopan. “Kau tidak salah dengar. Aku sangat serius. Atmaja Weaves Group ingin masuk dan aku pribadi ingin menjadi investor bagi perusahaanmu, Aruna.” Aruna segera menegakkan tubuhnya, menatap Rendra dengan campuran terkejut dan tak percaya. “Tuan Rendra… m-maksudku Rendra, kau serius? Atmaja Group, perusahaan tekstil terbesar, benar-benar mau menanamkan modalnya di perusahaan kecil milikku?” “Benar.” Rendra mengangguk pelan. “Semenjak aku mendapatkan undangan dari perusahaanmu, aku memenatau dan mencari tahu mengenai perusahaanmu, meski dari jauh. Dan aku tahu, kau punya potensi yang berbeda. Visi mu jelas. Kau tidak sekadar ingin menjual pakaian, tapi kau juga ingin membangun karya yang bisa menembus batas negeri. Itu menarik perhatian.” Aruna menelan ludah. Dadanya bergemuruh hebat. Ia tak pernah menyangka pria ini, sosok yang dulu hanya ia kenal sekilas, akan datang membawa peluang sebesar ini. Dengan suara bergetar dan penuh semangat, Aruna menjawab, “Kalau begitu, izinkan aku menjelaskan lebih detail." "Visi Elara Atelier sendiri yaitu ingin menghadirkan fashion yang tak hanya indah dipandang, tapi juga memiliki karakter. Setiap desain dibuat dengan sentuhan lokal dan nuansa modern, agar bisa dipakai dengan percaya diri di mana pun, termasuk panggung dunia. Misi kami membawa karya Elara ke pasar global dengan kualitas terbaik, tanpa melupakan keberlanjutan dan etika dalam setiap proses pembuatannya." Ia berhenti sejenak, menatap mata Rendra, lalu melanjutkan dengan penuh keyakinan. “Aku tahu ini ambisi besar. Tapi aku percaya, dengan tim yang tepat dan dukungan investor yang berpengalaman… itu bisa terwujud.” Rendra mengangguk perlahan. Senyumnya kali ini lebih hangat. “Itulah yang membuatku datang, yaitu keyakinanmu itu sendiri yang begitu percaya diri." Lalu, tanpa ragu, ia mengulurkan tangannya ke arah Aruna. “Mulai hari ini, aku mengatasnamakan Atmaja Weaves Group bersedia menjadi investor bagi Elara Atelier. Kita akan bekerja sama membangun mimpi ini.” Aruna terpaku menatap uluran tangan itu. Rasanya seperti mimpi. Dengan setengah ketidakpercayaan, ia menyambutnya, jemarinya bersentuhan dengan jemari Rendra yang hangat dan kokoh. “Kau benar-benar serius?” tanyanya lagi, masih dengan suara bergetar. Rendra tersenyum, menatapnya lekat. “Ya, Visi mu sangat jelas, Aruna. Dan aku ingin menjadi pendukung utama yang membantu mewujudkannya.” Aruna akhirnya tertawa kecil, tawa yang sarat kelegaan dan kebahagiaan. “Terima kasih… aku benar-benar berterima kasih. Ini pertama kalinya aku mendapat kepercayaan sebesar ini dari perusahaan sekelas Atmaja Group," ucap Aruna sangat bahagia. Bagaimana tidak, di saat ia tak memiliki kepercayaan dari ayahnya sendiri, Rendra mampu untuk membuatnya mewujudkan mimpinya dan menunjukkan bahwa Aruna bisa. Rendra hanya mengangguk, lalu berkata pelan, “Anggap saja ini awal dari perjalanan panjang kita. Aku sangat percaya kau mampu Aruna," ucap Rendra dengan menatap Aruna. Tentu Rendra percaya, ketertarikannya pada Aruna di pertemuan mereka di acara peresmian, membawanya untuk mencari tahu segala tentang Aruna termasuk mengapa ia membangun perusahaan ini, di saat ia telah terlahir menjadi seorang pewaris. Ternyata, mimpinya menjadi seorang desainer lah yang membawanya membangun Elara Atelier. Jadi, apa salahnya bila Rendra menjadi investor untuknya, membantu mewujudkan mimpinya itu. Sementara Aruna ia masih tersenyum penuh bahagia Wira, lihatlah. Aku tidak lagi menjadi boneka yang kau injak. Kali ini, aku akan berdiri di panggungku sendiri. Di panggung yang akan membesarkan namaku, sementara kau, kau yang akan berada di bawah dan terinjak-injak!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN