Pertemuan yang setiap harinya mereka lakukan membuat hubungan Aruna dan Rendra semakin akrab.
Rasa canggung yang dulu ada perlahan menghilang, berganti kenyamanan. Bahkan, Rendra sering kali mengajak Aruna keluar saat siang hari hanya untuk makan bersama.
Seperti hari ini Aruna mendapatkan undangan pernikahan dari salah satu rekan bisnisnya dan kebetulan juga Rendra pun turut diundang, pria itu langsung menawarkan Aruna untuk ikut datang bersamanya, karena acara tersebut di lakukan di malam hari,
Rendra hanya tak ingin sesuatu hal buruk terjadi bila Aruna datang seorang diri.
Jadi, Aruna pun menyetujui untuk datang bersama Rendra.
Setelah perjalanan telah mereka tempuh, akhirnya Mobil hitam itu berhenti perlahan di depan gedung megah yang dipenuhi cahaya lampu dan deretan mobil mewah tamu undangan.
Malam itu, udara terasa sedikit dingin, tapi hawa elegan dari acara pernikahan seorang pengusaha ternama membuat suasana semakin hangat dengan percakapan dan tawa yang berbaur di halaman.
Rendra melirik sekilas ke samping, ke arah Aruna yang duduk di kursi penumpang.
Wanita itu tampak anggun dalam balutan gaun malam berwarna biru gelap yang jatuh dengan indah mengikuti lekuk tubuhnya. Rambut panjangnya di tata sederhana, tapi justru menonjolkan pesona wajahnya yang lembut.
“Sudah siap?” Rendra bertanya sambil tersenyum kecil, tangannya bergerak melepas sabuk pengaman Aruna dengan santai, seakan itu hal yang sudah biasa ia lakukan.
Aruna sedikit terkejut dengan gerakan itu, tetapi ia hanya bisa mengangguk.
“Hm… ya. Terima kasih,” jawabnya pelan, meskipun pipinya terasa sedikit panas karena jarak mereka yang begitu dekat.
Rendra membuka pintu mobilnya lebih dulu, lalu bergegas mengitari mobil untuk membukakan pintu bagi Aruna. Gerakannya penuh wibawa, membuat beberapa petugas parkir yang berdiri di sana sempat melirik kagum.
“Silakan, Nona Pradipta,” ucap Rendra dengan nada setengah bercanda, sambil menundukkan kepala sedikit seperti seorang gentleman.
Aruna tertawa kecil, meskipun gugup. “Kau ini berlebihan sekali. Aku hanya tamu undangan, bukan orang spesial.”
“Orang spesial? Tapi aku rasa kau memang pantas disebut begitu malam ini.” Rendra menatapnya lekat, matanya berkilat nakal.
“Aruna, kau tahu? Semua orang di dalam nanti akan terdiam beberapa detik saat melihatmu masuk. Percaya padaku, kecantikanmu terlalu sulit untuk diabaikan.”
Aruna terdiam, tak tahu harus membalas dengan apa. Intinya apa yang Rendra katakan membuatnya malu.
“Rendra, cukup ...,” katanya akhirnya, mencoba menutupi rasa malunya.
Rendra menaikkan satu alis, lalu tersenyum tipis. “Tapi aku berkata yang sebenarnya."
Aruna menundukkan wajah, berpura-pura merapikan gaunnya agar tidak terlihat salah tingkah. “Ayo, kita masuk. Jangan sampai terlambat.”
Mereka pun kemudian berjalan berdampingan menuju pintu masuk.
Rendra secara alami menyesuaikan langkahnya dengan langkah Aruna, bahkan sesekali mencondongkan tubuh sedikit seolah memastikan Aruna tidak terganggu dengan tatapan orang-orang di sekitar.
Benar saja, begitu keduanya melewati karpet merah menuju aula utama, beberapa tamu undangan sudah mulai berbisik-bisik.
Tatapan kagum sekaligus penuh tanda tanya tertuju pada pasangan itu.
“Bukankah itu putri dari Pradipta Group?”
“Ya, Aruna Pradipta… tapi mengapa ia datang bersama Rendra Samudra Atmaja?”
“Apa mereka …?”
Bisik-bisik itu terus berlanjut, tapi Aruna berusaha untuk tidak peduli.
Ia menegakkan tubuhnya, menjaga senyum anggun di wajahnya. Dalam hati, ia tahu benar bahwa semua mata memang selalu mencari-cari bahan gosip baru.
Rendra sempat mendekatkan wajahnya sedikit ke arah Aruna, berbisik di telinganya. “Lihat? Aku tidak bohong. Semua orang tak bisa menahan diri untuk menatapmu.”
Aruna menoleh cepat, menatapnya dengan sedikit kesal tetapi wajahnya memerah. “Berhenti menggoda, Rendra.”
“Siapa bilang aku menggoda? Aku hanya berkata jujur,” balas Rendra ringan sambil tersenyum menawan.
Sesampainya di pelaminan, pengantin pria yang tampan menyambut mereka dengan ramah. Ia menyalami Rendra dengan hangat, seolah keduanya sudah lama saling mengenal.
“Rendra! Kau datang juga. Lama sekali tak bertemu,” ucap pengantin pria itu. Lalu pandangannya beralih ke Aruna.
“Dan ini… kalau tidak salah putri Pradipta Group, ya? Aruna Pradipta?”
Aruna tersenyum sopan. “Selamat atas pernikahan Anda. Semoga bahagia selalu.”
Namun pengantin pria itu tampak sedikit terkejut, lalu melirik bergantian ke Rendra dan Aruna.
“Tunggu… jadi benar kabar yang kudengar? Aruna adalah calon menantu keluarga Atmaja?” ucapnya dengan nada candaan.
Aruna sontak menatap Rendra dengan kaget. Matanya melebar, seakan ingin meminta penjelasan.
Namun Rendra justru tersenyum lebar, menatap pengantin pria itu dengan tenang.
“Jika takdir membawa kami ke arah sana,” katanya dengan suara mantap, “mengapa tidak? Bukankah itu kabar baik?”
Aruna tercekat. Kata-kata itu begitu mudah keluar dari mulut Rendra, seolah hal itu memang benar adanya.
Ia merasa seluruh ruangan tiba-tiba menjadi lebih ramai, bisik-bisik para tamu semakin kencang.
Sementara itu, Rendra tetap berdiri dengan wibawa di sampingnya, seakan tak tergoyahkan oleh ocehan orang-orang.
Aruna hanya bisa menelan ludah, berusaha menenangkan detak jantungnya yang kacau.
"Rendra… apa sebenarnya yang kau pikirkan?" ucap batin Aruna
Setelah memberi selamat pada kedua pengantin dengan senyum yang penuh keramahan, Aruna dan Rendra perlahan menjauh dari panggung utama.
Gemerlap lampu kristal yang menggantung dari langit-langit ballroom menyinari langkah mereka, menambah kesan elegan pada setiap gerakan.
Gaun berwarna lembut yang dipakai Aruna seakan berkilau di bawah cahaya, sementara jas hitam Rendra memberi kontras maskulin yang membuat mereka tampak serasi di mata para tamu yang memperhatikan.
Mereka berjalan berdampingan menuju meja minuman. Aruna menghela napas kecil, berusaha menenangkan dirinya dari sorotan mata yang terasa terlalu tajam menusuk.
Sesampainya di depan meja panjang yang penuh dengan berbagai pilihan minuman, ia meraih sebuah gelas kristal dengan senyum tipis.
Namun, sebelum jari-jarinya sempat menyentuh, sebuah tangan besar dengan cepat menahan pergerakannya.
“Jangan yang itu.” Suaranya tenang, tapi mengandung ketegasan.
Aruna menoleh dengan dahi berkerut. “Hm? Kenapa? Kelihatannya biasa saja, seperti soda.”
Rendra menggeleng pelan, menatap matanya lekat-lekat. “Itu bukan soda, Aruna. Itu beralkohol. Kau hampir saja—” ia menarik napas, lalu menurunkan suaranya, “beruntung aku melihat lebih dulu.”
Aruna terdiam. Kata “alkohol” itu seketika membuat dadanya sesak.
Ingatan yang selama ini ia kubur dalam-dalam menyeruak, bagai pintu yang terbuka paksa.
Malam itu, di kehidupan pertamanya kembali hadir di pelupuk matanya. Malam ketika Wira, dengan nada sinisnya, memaksanya meneguk segelas minuman keras di depan rekan bisnisnya.
"Kalau kau mengaku istriku, hargai aku di depan mereka. Minum saja, itu tidak akan membunuhmu," suara Wira di masa lalu menggema dalam kepalanya, dingin dan tak memberi ruang untuk menolak.
Ia ingat betul bagaimana cairan pahit itu membakar tenggorokannya, membuat perutnya mual dan kepalanya pening.
Ia berusaha menahan, berusaha menjaga wibawa, tapi akhirnya tubuhnya goyah. Ia mabuk berat, matanya berkunang-kunang, dan suaranya nyaris tak keluar.
Dan Wira?
Bukannya menggenggam tangannya atau membantunya pulang, pria itu justru meninggalkannya begitu saja di sudut ruangan.
Seorang istri yang dibiarkan terhuyung-huyung sendirian tanpa ada yang peduli.
Malam itu adalah salah satu malam paling memalukan sekaligus menyakitkan dalam hidupnya.
Aruna tersentak kembali ke kenyataan. Napasnya bergetar. Ia menatap gelas yang hampir ia ambil tadi dengan mata membesar.
“Ya Tuhan… aku hampir saja mengulang kebodohan itu,” gumamnya lirih, nyaris hanya terdengar oleh dirinya sendiri.
Rendra yang memperhatikan wajahnya langsung mengendurkan ekspresi. “Hei, kau baik-baik saja?” tanyanya lembut.
Aruna buru-buru mengangguk, meski jantungnya masih berdegup keras. “I—Iya. Hanya… sedikit terkejut. Terima kasih sudah menahanku, Rendra. Kalau bukan karenamu, mungkin ….” ia tidak sanggup melanjutkan.
Rendra menatapnya serius, lalu berkata dengan nada mantap, “Aku tidak ingin melihatmu mabuk, apalagi tak sadarkan diri di depan orang banyak. Itu bisa mencoreng citramu. Kau tahu kan, orang-orang di luar sana hanya butuh satu kesalahan kecil untuk menjatuhkan seseorang , apalagi jika itu seorang wanita.”
Aruna menunduk, hatinya terenyuh. Perhatian itu… terasa asing, tapi juga menenangkan.
Kenapa Wira dulu tak pernah peduli hal kecil sekalipun? Kenapa dia bahkan tega membiarkanku sendirian?
Rendra kemudian berjalan mengambilkan segelas air mineral. Ia kembali, menyodorkannya dengan senyum hangat.
“Ini, jauh lebih aman untukmu. Tidak akan ada yang bisa menyakitimu dari minuman ini.”
Aruna menerima gelas itu, bibirnya terangkat sedikit. “Kau selalu tahu cara menenangkan orang lain, ya?”
Rendra membalas dengan tatapan tulus. “Aku hanya melakukan hal yang seharusnya dilakukan seorang pria ketika berada di sisi seorang wanita.”
Aruna meneguk sedikit air, lalu menatapnya dengan hati yang mulai bergetar.
Wanita mana pun yang menjadi kekasihnya pasti sangat beruntung…
Seandainya aku bisa bertemu pria seperti Rendra lebih awal di kehidupan pertamaku, pasti hidupku tidak akan seperti ini.
Namun sebelum perasaan itu sempat ia resapi lebih dalam, langkah kaki yang familiar memasuki ballroom.
Aruna menoleh. Dan seketika napasnya tercekat.
Wira datang bersama Meyra.
Darahnya seolah berhenti mengalir. Perasaan marah, bencidan luka yang selama ini ia tekan membuncah begitu saja.
Mereka… lagi-lagi mereka. Dulu mereka merenggut hidupku dan sekarang aku harus melihat mereka berdiri di hadapanku?
Sementara Wira, langkahnya spontan berhenti. Matanya langsung terpaku pada Aruna, berdiri anggun bersama seorang pria lain.
Pria yang ia ingat betul, merupakan pria yang pernah ia lihat bersama Aruna.
Rahangnya mengeras, matanya menyipit penuh amarah.
Rendra Samudra Atmaja… kenapa kau selalu muncul bersamanya, kau berniat menghalangiku?! ucap batinnya sangat marah.