Aruna terpaku di tempatnya yang tak jauh dari tempat setelah ia melakukan penyambutan pada para tamu.
Ruangan yang semula riuh oleh suara tepuk tangan dan percakapan para tamu mulai berkurang, kini mereka mulai menikmati hidangan yang di sediakan.
Namun, tatapan Aruna kini terhenti pada sosok pria yang berdiri tak jauh di hadapannya.
Sorot mata itu tampak begitu tegas, tajam tetapi tidak menakutkan.
Wajahnya begitu familiar untuknya, membuat detak jantung Aruna berdegup lebih cepat.
Tenggorokannya tercekat, seolah udara tiba-tiba menjadi sempit.
“Itu, dia …,” bisik Aruna, begitu lirih hingga nyaris tidak terdengar oleh siapapun.
Pria itu adalah Rendra Samudra Atmaja, putra sulung keluarga Atmaja, pewaris perusahaan tekstil terbesar dari Atmaja Group.
Namanya sangat diperhitungkan di dunia bisnis, tetapi bagi Aruna, nama itu punya makna lebih dalam.
Dialah pria yang pernah menolongnya di kehidupan pertama.
Kala itu di kehidupan pertamanya, Aruna yang masih begitu polos dan naif. Ia menerima ajakan Wira untuk menghadiri peresmian sebuah acara besar.
Hatinya berbunga, merasa Wira mulai memperlakukannya dengan lebih baik. Ia bahkan memilih gaun terbaik miliknya malam itu, berharap Wira akan bangga membawanya.
Namun semua itu hanyalah jebakan.
Sesampainya di aula, Wira tidak pernah benar-benar menggandengnya dengan bangga. Ia justru menjauh dan meninggalkan Aruna berdiri sendirian.
“Wira?” panggil Aruna dengan suara ragu.
Namun Wira hanya melemparkan tatapan dingin, lalu tersenyum miring sebelum berbaur dengan rekan-rekan bisnisnya.
Tak butuh waktu lama, beberapa pria asing justru mendekati Aruna. Awalnya hanya basa-basi. Tapi semakin lama, mereka mulai melontarkan komentar tak senonoh.
“Cantik sekali istri dari Tuan Wira ini. Apa Tuan Wira tidak keberatan kalau kami ajak berdansa?” salah satu dari mereka tertawa, mendekatkan tubuhnya terlalu dekat.
Aruna tampak panik dengan kehadiran mereka yang membuatnya tak nyaman.
Namun pria lain justru berusaha menyentuh lengannya.
Napas Aruna seketika memburu, tubuhnya kaku, tak tahu harus lari kemana.
Di sudut ruangan, ia sempat melihat Wira berdiri santai, segelas minuman di tangan, wajahnya tersenyum penuh ejekan. Seolah sengaja menikmati tontonan itu.
Saat itulah, sebuah suara berat menghentikan semua.
“Cukup.”
Langkah tegap seorang pria mendekat, sorot matanya penuh wibawa.
Pria itu adalah Rendra.
Ia berdiri di hadapan Aruna, menatap tajam para pria yang berusaha menyentuhnya. “Kalau kalian masih memiliki harga diri, sebaiknya jangan memperlakukan seorang wanita seenaknya di depan umum.”
Para pria itu terdiam, sebagian mendecih malu, lalu mundur perlahan.
Rendra menoleh pada Aruna yang masih gemetar. “Kau baik-baik saja?” tanyanya lembut.
Aruna hanya bisa mengangguk, matanya berkaca-kaca dengan hati yang begitu sakit melihat suaminya sendiri justru tak mempedulikannya.
Sejak kejadian itu, pertemuannya dengan Rendra selalu tersimpan di sudut hatinya, meski mereka tidak pernah bertemu lagi.
Dan kini, di kehidupannya yang kedua, pria itu berdiri di hadapannya lagi.
Aruna merasa seluruh tubuhnya membeku, seakan waktu berhenti. Ketika Rendra melangkah mendekat, ia refleks menunduk, takut pria itu mungkin bisa mengenalinya
Namun yang terjadi justru sebaliknya. Rendra menyunggingkan senyum tipis, lalu mengulurkan tangan.
“Selamat atas pembukaan perusahaan barumu, Nona Aruna,” ucapnya dengan suara yang masih sama, berat dan berwibawa.
"Saya Rendra Samudra Atmaja, perwakilan dari Atmaja Weaves Group."
“Atmaja Group merasa terhormat bisa di undang dalam peresmian Elara Atelier.”
Jantung Aruna berdebar kencang.
Tentu Rendra tak akan mengenalinya, kehidupan kedua ini, Rendra tak mengenalinya, Aruna tak seharusnya merasa takut seperti ini.
Tangannya ragu-ragu, tapi akhirnya ia menyambut uluran tangan itu.
“Terima kasih, Tuan Rendra,” balas Aruna dengan senyum kecil.
"Saya Aruna Elara, terimakasih telah hadir ...."
“Kehadiran Atmaja Weaves Group adalah kehormatan besar bagi saya.”
Saat jemari mereka bertaut, Aruna merasakan sesuatu di dadanya.
Sebuah rasa aman yang dulu pernah ia rasakan sesaat, kini hadir kembali. Dan untuk sesaat, ia hampir lupa dengan rencana balas dendamnya pada Wira.
Meski dulu hanya sekali, kebaikan Rendra tak pernah Aruna lupakan.
“Perusahaanmu cukup berani,” lanjut Rendra.
“Di tengah kompetisi yang ketat, kau memilih bidang fashion. Tidak semua orang berani mempertaruhkan reputasi pada bidang ini. Tapi saya bisa melihat semangatmu. Itu… mengagumkan.”
Aruna tersenyum, meski hatinya bergetar. “Saya hanya berusaha mewujudkan mimpi saya, Tuan. Sekalipun banyak yang meremehkan, saya tidak ingin menyerah.”
Rendra mengangguk puas. “Itu sikap yang tepat.”
Percakapan mereka berlangsung beberapa saat.
Tatapan Aruna sesekali lembut, seolah kembali menjadi gadis rapuh di kehidupan pertamanya. Tapi kali ini, ia berusaha tegar.
Namun dari kejauhan, Wira ternyata memperhatikan dengan mata menyipit dan tajam.
Ia berdiri tegak, gelas di tangannya hampir retak karena genggamannya yang terlalu kuat.
Matanya tak lepas dari tangan Aruna yang masih berada dalam genggaman Rendra.
Api amarah membakar dadanya, membuatnya ingin segera maju. Namun, ia menahan diri, tetap diam di posisinya.
“Kau tidak akan pernah bisa lepas dariku, Aruna. Bahkan jika ada pria lain sekali pun.”
***
Selepas acara peresmian usai dan tamu-tamu mulai meninggalkan aula, Aruna melangkah keluar dengan langkah teratur.
Namun, langkahnya terhenti ketika mendapati dua sosok berdiri menghadang jalannya di koridor menuju pintu keluar.
Wira berdiri di sisi kanan, kemeja hitamnya sedikit kusut, dasinya longgar dan aroma wine begitu menusuk dari tubuhnya.
Tatapannya sayup, tapi masih menyisakan bara emosi yang tak bisa disembunyikan.
Di sisi lain, Rendra masih tampak rapi, jasnya terpasang sempurna di tubuhnya, wajahnya tenang tapi matanya tajam penuh kewaspadaan.
Aruna menatap keduanya bergantian, seolah berada di persimpangan yang menyesakkan.
“Aruna .…” suara Wira serak, sedikit berat, mungkin karena alkohol.
Ia melangkah mendekat dengan langkah yang nyaris goyah.
“Aku… akan mengantarmu pulang. Jangan menolak, kau seharusnya ikut denganku," ucap Wira.
Aruna mendengus pendek, menegakkan punggungnya. “Tidak, Wira. Aku bisa pulang sendiri. Lagipula… kau bahkan tak bisa berdiri tegak.”
Wira menatapnya, matanya yang merah tampak memohon, tapi gengsinya membuat kalimatnya terdengar kasar. “Jangan keras kepala. Aku tunang—” ucapannya terputus ketika Rendra menoleh tajam.
“Cukup.” Suara Rendra tegas, dalam dan penuh wibawa.
“Kau tidak dalam kondisi pantas mengantar siapa pun, apalagi mengantar seorang wanita. Aroma alkoholmu bahkan bisa tercium dari sini," ucap Rendra menyadarkan Wira.
Wira mendengus, menyeringai sinis. “Dan siapa kau, hah? Mengira dirimu bisa ikut campur dalam urusanku dengan Aruna?”
Rendra melangkah sedikit maju, berdiri lebih dekat pada Aruna, seolah memberi perlindungan tanpa perlu banyak bicara.
"Aku tidak ikut campur. Aku hanya tak ingin membiarkan seorang pria mabuk menyeret seorang wanita pulang bersamanya. I hope you understand my words.”
Aruna menahan napas, matanya menatap keduanya. Atmosfer semakin menegang
“Aruna,” Wira kembali bersuara, kali ini nadanya lebih keras, hampir seperti memaksa, “Ikut denganku!"
Aruna mengeraskan rahangnya, hatinya panas, tapi ia tersenyum tipis. “Kau gila? Aku tidak mau, memangnya kau siapa!"
Wira tercekat, wajahnya menegang. “Jangan bercanda, Aruna.”
Namun sebelum Wira bisa melangkah lagi, Rendra mengulurkan tangannya pada Aruna.
Tatapannya lembut dan penuh keyakinan. “Kalau kau berkenan, aku akan mengantarmu pulang dengan aman.”
Aruna menatap tangan itu. Jantungnya berdetak lebih cepat. Lalu ia mengalihkan pandangan ke Wira, senyum sinis terukir di bibirnya. Perlahan, ia menyambut uluran tangan Rendra dan melangkah mendekat ke sisinya.
“Wira .…” ucapnya dengan nada dingin, “Kau tidak perlu repot-repot mengantarku. Kau lebih baik pulang bersama Meyra. Bukankah dia masih kekasihmu?"
Wira menggeram, giginya terkatup rapat, kepalan tangannya menegang hingga buku jarinya memutih.
“Aruna… kau .…” suaranya terputus, seolah tidak sanggup melanjutkan karena amarahnya menelan habis kata-katanya.
Aruna justru tersenyum miring, menggenggam lengan Rendra lebih erat.
“Aku tidak akan membiarkanmu mati. Aku masih memiliki urusan denganmu. Dendamku belum selesai," ucap batin Aruna runa dengan mata menatap lurus ke arah Wira, menyalurkan setiap racun emosinya melalui tatapan dingin yang menusuk
Rendra melirik sekilas ke arah Aruna yang menatap Wira dengan tatapan marah.
Sementara Wira, ia hanya bisa berdiri terpaku, hatinya perih sekaligus terbakar.
Wanita yang dulu selalu menunggu sapanya kini berani meninggalkannya… dan lebih parahnya lagi, memilih pergi bersama pria lain.
Ketika Aruna melangkah menjauh bersama Rendra, suara langkah hak tingginya bergema di lorong yang sepi.
Wira hanya berdiri kaku, memandangi punggung Aruna yang semakin menjauh, meninggalkan luka sekaligus api baru yang berkobar di dadanya.
***
Mobil melaju pelan menembus jalanan malam. Lampu kota berkelebat di kaca jendela, tapi suasana di dalam kabin benar-benar hening. Hanya suara mesin yang terdengar samar.
Aruna duduk tegak, jemarinya saling meremas di pangkuan. Hatinya berdegup keras, bukan karena takut pada Rendra, pria itu bahkan terlihat sangat tenang untuk menimbulkan rasa takut, melainkan karena dirinya sendiri.
Ia sadar betul keputusan yang ia ambil gila.
Bagaimana mungkin ia, yang baru saja kembali bertemu Rendra, langsung menerima tawarannya untuk pulang bersama?
Tapi Aruna juga tahu, itu satu-satunya jalan untuk menghindari Wira, sekaligus menjatuhkan harga diri pria itu yang selama ini selalu ia benci.
Rendra, yang duduk di kemudi, beberapa kali melirik ke arahnya. Ia bisa merasakan betapa tegangnya suasana di antara mereka.
Sesekali, bibirnya tampak bergerak, seolah ingin membuka percakapan, tapi ia menahan diri. Sampai akhirnya ia menghela napas pelan dan memilih untuk berbicara.
“Sepertinya… kau tidak nyaman berada di sini.” suara Rendra terdengar tenang.
Aruna menoleh sekilas, lalu cepat-cepat memalingkan pandangan lagi. “Bukan begitu… hanya… aku tidak biasa.”
“Hmm.” Rendra mengangguk pelan, matanya kembali fokus pada jalan.
Rendra meliriknya sekali lagi. “Pria tadi …,” ia berhenti sejenak, seolah menimbang kata-katanya. “Dia tampaknya mengenalmu dengan baik. Siapa dia sebenarnya?”
Aruna tersentak kecil. Pertanyaan itu menusuk langsung ke inti pikirannya.
Bayangan Wira dengan sorot mata penuh kebencian muncul lagi di kepalanya, membuat tengkuknya dingin. Bibirnya bergerak sebelum sempat berpikir panjang.
“Dia… orang yang membunuhku," ucapan tanpa sadar keluar dengan begitu pelan.
Rendra mengerutkan kening, jelas bingung. Ia menoleh sejenak, menatap wajah Aruna yang memucat.
“Membunuhmu?” ulangnya, nada suaranya bercampur antara kaget dan tidak percaya.
Aruna segera menyadari kebodohannya. Ia menggigit bibir, lalu buru-buru meralat dengan nada datar, berusaha menyamarkan kegugupannya.
“Maksudku… membunuh waktuku. Orang asing yang tak perlu dibicarakan.” Ia memalingkan wajah ke jendela, menatap keluar seakan pemandangan malam bisa menyelamatkannya dari tatapan Rendra.
Keheningan seketika menyelimuti mereka.
Tapi Rendra memilih menahan diri untuk tidak menekan lebih jauh. Ia bisa melihat dari sorot mata Aruna, ada sesuatu yang berat yang disembunyikannya.
“Aku tidak akan bertanya lagi kalau kau tidak nyaman,” ujar Rendra akhirnya. Suaranya terdengar tulus, meski ia sendiri masih dipenuhi rasa penasaran.
Aruna mengangguk pelan, tapi hatinya tetap bergolak. Ia tahu, Wira bukanlah sekadar “orang asing”.
Lelaki itu adalah luka yang membekas sampai ke tulang sumsum, sosok yang telah merebut nyawanya di kehidupan pertama.
Namun sekarang, keadaan berbeda. Aruna menatap lurus ke depan, matanya berkilat dalam bayangan lampu jalan.
Benar, di kehidupan kedua ini Wira hanyalah orang asing bagi semua orang.
Tapi bagi Aruna, ia adalah musuh yang harus dibayar lunas. Dendam kematiannya belum selesai.