Persiapan telah selesai seratus persen. Tidak ada satu pun celah yang Aruna biarkan luput dari perhatiannya.
Sejak seminggu lalu ia sudah mengatur segalanya dengan teliti, mulai dari gedung megah berlantai marmer putih yang berdiri anggun di pusat kota, susunan panggung untuk acara peresmian, hingga daftar tamu undangan yang tersusun rapi.
Pagi ini, ia berdiri di depan cermin besar di ruang pribadinya, menatap pantulan dirinya dengan tatapan penuh keyakinan.
Gaun biru tua berpotongan sederhana tapi elegan melekat di tubuhnya, memberi kesan anggun sekaligus tegas. Rambutnya ditata rapi, dibiarkan tergerai dengan sedikit gelombang.
Aruna tersenyum tipis pada bayangan dirinya.
"Ini hari besar, Aruna," gumamnya pelan.
"Hari ketika kau benar-benar berdiri dengan kakimu sendiri."
Di tangannya ada sebuah map berisi daftar tamu undangan.
Ia menelusuri nama-nama yang tercatat di sana. Para pengusaha ternama, pemilik butik, investor asing, media, hingga perusahaan-perusahaan besar yang bergerak di bidang fashion. Semuanya hadir.
Dan ada satu nama yang membuat matanya menajam.
Wirajaya Corporation.
Aruna sengaja mengundang mereka. Bukan karena ia berharap kerja sama, bukan pula karena ia membutuhkan dukungan perusahaan sebesar itu.
Aku ingin kau melihatku, Wira. Aku ingin kau tahu bahwa Aruna yang dulu sudah mati. Yang berdiri hari ini adalah wanita yang tak lagi bisa kau pijak-pijak harga dirinya. Kau akan menyaksikannya, tepat di depan semua orang.
Ia menghela napas panjang, lalu melangkah keluar dari ruangannya.
***
Wira berdiri di depan gedung tinggi itu, kedua alisnya bertaut rapat. Dari luar, ia mengira tempat ini hanyalah gedung kecil biasa. Namun, semakin lama ia memandang, semakin jelas bahwa bangunan ini adalah sebuah kantor yang berkelas, dengan desain modern dan megah.
"Apa-apaan ini... siapa yang berani mengundang Wirajaya Corp ke sini?" gumamnya pelan, suaranya penuh nada curiga.
Ia menarik napas panjang. Dalam hatinya, Wira sebenarnya enggan menghadiri undangan tersebut. Ia merasa ini hanya buang-buang waktu.
Tapi ada sesuatu yang membuatnya tidak bisa menolak, Aruna.
Ia yakin Aruna akan hadir di sini.
Beberapa kali sebelumnya ia memergoki wanita itu datang ke tempat ini secara diam-diam. Dan kali ini, Wira melihatnya sebagai kesempatan emas untuk berhadapan lagi dengan Aruna, setelah seminggu penuh Aruna selalu berhasil menghindar sejak pertemuan terakhir mereka.
Begitu Wira melangkah masuk ke dalam aula utama, suasana ruangan mendadak berubah. Sorotan mata tertuju padanya, bisikan-bisikan lirih terdengar di antara para tamu undangan.
"Itu Wira, pewaris tunggal Wirajaya Corp."
"Dia benar-benar datang... katanya ini bisnis calon istrinya."
"Lihat, betapa besar effort Wira untuk mendukung Aruna."
Wira mendengar jelas semua itu, tapi ia tak menanggapinya.
Ia hanya berjalan dengan langkah tegap menuju kursi khusus yang memang sudah disediakan untuknya.
Dari sana, matanya sibuk berkeliling, mencari sosok yang selama ini membuat pikirannya tak tenang.
Aruna pasti ada di sini... aku bisa merasakannya.
Dan benar saja.
Tak lama kemudian, pintu besar terbuka dan seorang wanita berjalan masuk.
Itu adalah Aruna.
Ia mengenakan gaun berwarna lembut yang jatuh anggun mengikuti setiap langkahnya. Rambutnya tergerai rapi, wajahnya dihiasi riasan tipis yang justru menonjolkan kecantikannya.
Wira terpaku dan napasnya tercekat.
"Aruna ...." suaranya keluar nyaris seperti bisikan, terdengar hanya untuk dirinya sendiri.
Ia tak pernah melihat Aruna secantik itu. Bahkan, dalam hati kecilnya, ia harus mengakui kecantikan Aruna malam itu melebihi Meyra, kekasih yang selama ini ia bangga-banggakan.
Entah bagaimana, Wira merasa selama ini ia telah menutup mata terhadap pesona wanita yang sekarang berdiri di hadapannya.
Setiap gerakan Aruna ia ikuti, sampai langkah wanita itu berhenti tepat di atas panggung. Aruna berdiri tegak, menggenggam mikrofon, lalu memberikan senyum yang penuh wibawa.
"Terima kasih atas kehadiran rekan-rekan sekalian," suara Aruna terdengar lantang, jelas dan penuh percaya diri.
"Hari ini saya dengan bangga mempersembahkan peresmian perusahaan baru saya di bidang fashion."
Wira terperangah.
"Apa? Perusahaan milik Aruna?" ucap batin Wira
Ia teringat betapa selama ini ia selalu merendahkan wanita itu.
Baginya, Aruna hanyalah anak manja yang bergantung penuh pada ayahnya. Bahkan, dulu ia pernah menuduh Aruna sengaja memaksakan perjodohan dengan memanfaatkan posisi ayahnya.
Namun malam ini, kenyataan menampar keras dirinya, Aruna berdiri di depan dengan penuh keyakinan, membuktikan kalau dirinya mampu melangkah sendiri.
Sorot mata Aruna sekilas mengarah padanya yang tampak begitu dingin dan tajam.
"Meski saya adalah putri dari Pradipta Group, saya ingin menunjukkan bahwa saya mampu merintis usaha dari nol. Banyak yang meremehkan, banyak yang mencibir, mengatakan bisnis fashion hanya akan bertahan sebentar. Tapi saya berdiri di sini untuk membuktikan bahwa itu salah. Saya mencintai dunia fashion dan saya percaya dengan kerja keras serta tim hebat, perusahaan ini bisa berdiri sejajar bahkan di kancah internasional."
Kata-kata itu menghantam Wira. Ia teringat jelas saat dulu ia pernah menghina Aruna tanpa berpikir panjang dan kata-kata itu masih Wira ingat sampai saat ini.
"Mimpi menjadi desainer itu bodoh, Aruna. Kau, terlalu lemah untuk dunia ini."
Dan sekarang, Aruna membuktikan kebalikannya.
Tepuk tangan meriah menggema di seluruh aula. Semua orang berdiri memberi penghargaan.
Wira pun, meski hatinya tercabik, ikut bertepuk tangan. Ia tidak bisa menolak fakta bahwa Aruna memang luar biasa malam ini.
***
Setelah acara peresmian selesai, Wira segera bergerak. Ia memanfaatkan waktu ketika tamu masih ramai untuk mendekati Aruna.
Sambil berjalan, ia menerima sebuah buket bunga mewah yang ia pesan secara mendadak dan ekspress lewat asistennya selama Aruna berpidato.
"Selamat, Aruna," ucap Wira sambil menyodorkan buket itu. Senyumnya dipaksakan, penuh gengsi.
"Kau membuatku kagum hari ini. Aku... benar-benar bangga padamu."
Aruna menatap bunga itu sejenak. Semua tamu menahan napas, mengira akan ada momen manis di antara keduanya.
Namun, alih-alih tersenyum bahagia, Aruna melangkah pelan ke sisi ruangan dan dengan gerakan tenang, ia meletakkan buket bunga itu ke dalam tempat sampah.
Suasana mendadak hening.
Semua tamu membisu, lalu mulai saling berbisik dengan wajah terkejut.
"Dia... membuangnya?"
"Itu kan bunga dari Wira ...."
Wira berdiri mematung. Wajahnya memerah, matanya membelalak tak percaya.
Aruna menoleh padanya, tersenyum sinis. "Bunga itu memang indah, Wira. Tapi seharusnya tidak kau berikan padaku. Bukankah kau masih punya seorang kekasih? Atau kau melupakannya?"
Nada suaranya meremehkan, menusuk telinga siapa pun yang mendengar.
"Aruna ...." Wira berbisik rendah, nyaris bergetar menahan amarah.
Aruna terkekeh kecil, lalu menambahkan, "Kau tak berhak marah padaku. Itu fakta, bukan? Aku tidak mau jadi perusak hubungan orang."
Smirk di wajahnya jelas menantang.
Wira menggertakkan gigi, nyaris kehilangan kontrol. Namun, ia tahu, meledak di depan umum hanya akan mempermalukan dirinya lebih jauh.
Akhirnya ia mundur, berjalan cepat ke arah meja, meraih segelas wine, lalu menenggaknya sampai habis untuk meredakan rasa malu dan amarah yang menyesakkan dadanya.
Tidak. Aruna tidak boleh bersikap begini padaku.
Harusnya dia luluh dengan apa yang ku lakukan. Tapi kenapa... kenapa semua berjalan di luar rencana?
Sementara Aruna, ia hanya mendecih pelan melihatnya.
Senyum puas tersungging di bibirnya.
"Rasanya setimpal," bisiknya pada diri sendiri.
"Dulu kau sering mempermalukanku. Sekarang, giliranku."
Namun ketika ia berbalik, hatinya tiba-tiba berhenti berdetak sejenak.
Tak jauh dari tempatnya, berdiri seorang pria. Sorot matanya yang tajam, wajahnya begitu familiar, seakan menarik Aruna kembali ke masa lalu yang ia kira sudah terkubur.
Aruna membeku, napasnya tercekat.
"Itu... dia ...," gumamnya, nyaris tak terdengar.
Pria yang di kehidupan sebelumnya pernah menjadi penyelamatnya dari kejahatan Wira.
Kini, ia berdiri di hadapannya lagi. Jantung Aruna berdegup tak terkendali, rasa takut dan harapan bertabrakan dalam dadanya.
Pertemuan ini, mustahil hanya sebuah kebetulan.
Tapi... jika ia memang masih mengenal Aurna, apakah pria itu datang untuk membantunya lagi, atau justru menjadi batu sandungan yang akan menggagalkan tekadnya mengubah takdir?
"Kenapa... dia bisa ada di sini?"