Istriku mengandung Cucuku(9)
(Pembalasan Alda)
POV Alda
Hatiku begitu hancur ketika tau sipat asli kedua anak tiriku ternyata begitu kejam aku tak pernah menyangka bahwa mereka begitu tega berbuat seperti itu terhadapku.
Walaupun aku hanya ibu sambung tidak kah mereka sedikitpun memikirkan perasaanku begitu rendahnya harga diriku Dimata mereka.
Terlebih lagi Harsa aku selalu berusaha memberikan kasih sayang untuknya layaknya anak kandung aku dulu berpikir dia berbeda dengan Rivan ternyata mereka sama saja bahkan Harsa lah yang lebih dulu merusak hidupku.
Terkadang aku selalu berpikir malangnya hidupku ingin rasanya mati saja daripada hidup terus diperlakukan seperti ini.
"Alda kamu kenapa kok nangis?" Tanya mas Hendra .
Aku hanya menggeleng pelan air mata tak hentinya menetes membasahi pipiku.
"Apa ada masalah , sini cerita sama mas"ucapnya lembut .
Aku sungguh tak layak menjadi istri mas Hendra , laki - laki baik yang mau menerima aku yang sudah tidak lagi suci.
"Enggak kok mas aku nangis terharu aja " ucapku berbohong .
"Ohh terharu kirain apa" ucapnya tersenyum.
Satu hal yang begitu aku sesali kenapa bukan mas Hendra saja yang menjadi ayah dari kedua anakku.
Jika seseorang bertanya aku lebih benci Rivan atau Harsa jawabannya adalah Harsa karena bisa - bisanya dia bersikap manis namun ternyata bej*t aslinya.
"Ayo kita makan mas , aku udah masak tadi" ajak ku pada mas Hendra aku harus benar - benar menikmati saat - saat bersama mas Hendra.
"Yaudah ayo sayang.." ucapnya lembut.
***
"Rivan,Harsa kalian tidak makan?" Tanya mas Hendra saat melihat kedua anaknya sedang menonton telivisi.
Meraka kompak menggeleng sembari menatapku, sungguh tatapan yang memuakkan.
"Mama kenapa kok mukanya kek sedih gitu"ucap Rivan memandangiku sambil tersenyum.
"Enggak kok "jawabku cepat sambari tersenyum.
Sebenarnya jika dinilai dari segi Akhlak , Akhlak Rivan lah yang lebih hancur karena sudah kudapati dua kali ia hendak meniduriku namun hanya sekali ia mendapatkan apa yang ia inginkan, aku tidaklah sebodoh yang mereka kira Rivan tidak tau bahwa bukan aku yang ia tiduri melainkan asisten rumah tangga gatel itu.
Terkadang sepintar - pintarnya orang akan tunduk dengan namanya Nafsu.
Kalo Harsa dia baik dari segi sikap dan cara berbicara namun buruk dalam perilaku walaupun setelah aku menjadi ibu sambungnya tak pernah sekalipun ia meniduriku .
***
"Mah tolong jangan pisah ya sama papa" ucap Harsa saat aku tengah menyuci piring.
"Lo kenapa Sa?" Pancingku aku ingin tau seberapa pintarnya dia.
"Mah yang lalu biarlah berlalu , lupakan saja"ucapnya serius.
"Tidak bisa begitu Sa keputusan mama tetaplah seperti tadi"ucapku berusaha tersenyum.
"Tapi mah...aku gak bisa jauh dari dede"ucapnya .
"Loh kenapa Sa bukanlah mereka bukan adikmu"ucapku tegar.
"Ya tapi mah aku udah terlanjur sayang sama mereka"ucap Harsa.
"Apa karena kamu Ayahnya Sa makanya kamu sayang pada mereka"ucapku masih memancing agar dia mau berbicara jujur .
"Ehh__kok gitu sih mah ngomongnya aneh"ucapnya gelagapan.
"Enggak Sa bercanda, mana mungkin kamu ayahnya kamu kan gak pernah tidur dengan mama"ucapnya pura - pura bercanda .
"Ehh__iyalah mah"jawabnya gugup.
"Oh ya Sa kamu mau gak bantuin mama balas dendam sama yang dulu merkos* mama" tawarku aku ingin melihat reaksi nya.
"Balas dendam..."jawabnya gugup sembari tersenyum kecut.
"Iya nanti mama bakal siapin rencana, bagaimana kalo kita bunuh dia "ucapku sambil tersenyum.
"Dibunuh....!!!" Seketika mata Harsa membulat sempurna.
"Enggak kok bercanda kamu tuh yah , gak usah dianggap serius mama kan suka bercanda"ucapku lagi sambil menatapnya.
Harsa hanya tersenyum terlihat keringat membanjiri keningnya.
"Harsa...!!!!"panggil .
"Iya mah ada apa?" Tanya lagi.
"Kalo mama racun Rivan kamu keberatan gak?" Ucapku.
"Racun bang Rivan....!!" Ucapnya kaget.
"Mah bukannya mama katanya gak marah sama bang Rivan kok mau diRacun?" Tanya nya pelan.
"Sa coba deh kamu pikir sakit gak kalo kamu yang jadi mama dijadikan alat balas dendam dan juga pemuas nafsu"ucapku lagi tak terasa air mata mengalir disudut mataku.
"Jangan mah Dosa...!!"ucapnya lagi.
"Dosa ya Sa ,oh iya dosa kamu tau juga ya kalo itu dosa" ucapku tersenyum.
"Mama kenapa kok aneh banget?" Tanya nya.
"Enggak kok Sa mama cuma bercanda doang biar gak tegang...biar gak tegang" aku mengulang kalimat Akhir.
"Ohh gitu kirain beneran."ucapnya sambil berlalu pergi.
***
"Rivan...!!!"ucapku menatap dua sejoli yang baru saja selesai menuntaskan hasrat.
"Mama kok mama udah rapi aja bukannya..."ucapnya terputus kala ia melihat Wina asisten rumah tangga yang haus sentuhan laki - laki itu terkulai disampingnya.
"Sudah mainnya Van?" Tanyaku sambil melipat tangan didepan d**a.
"Ehhh__loh ngapain disini?" Tanya Rivan pada Wina terlihat Wina hanya menggeliat.
"Rivan sendiri ngapain dikamar mama?" Tanyaku sambil tersenyum.
Rivan hanya terdiam sembari melihat sekelilingnya.
"Wina...Enak mainnya?" Tanyaku pada Wina.
"Mama gak nyangka Lo Van kamu doyan juga sama Wina, cukup rendah ya selera kamu" ucapku tersenyum puas.
"Loh apaan sih...!" Ucapnya marah.
"Yaudah saya keluar dulu ya , Wina jangan lupa bereskan ya kalo sudah selesai" ucapku sembari melangkah pergi.
Terkadang begitu sulit berdamai dengan keadaan ingin sekali rasanya bebas dari sini.
"Maafin mama yah nak mama janji kita bakal pergi dari sini" ucapku sambil mengelus perut buncitku.
Pikiran dan hatiku sekarang tidak sejalan hatiku ingin memaafkan sedangkan pikiranku memintaku membalas dendam.
Bersambung-