Anakku Harus Tetap Bersamaku

874 Kata
Istriku Mengandung Cucuku(10) (Anakku harus tetap bersamaku) POV Harsa "Sa kamu kenapa kok ngelamun.."ucap Papa mengagetkanku. "Ehh_ papa belum tidur pah" ucapku sedikit kaget. "Belum ngantuk , kamu ditanya orang tua bukannya jawab malah diam aja" ucapnya sambil duduk disampingku. Aku hanya terdiam untuk sejenak pikiranku begitu kalut akan masalahku dengan Mama Alda. "Sa kamu tau gak mama kamu kenapa?" Ucapnya setelah sekian lama terdiam. "Emang kenapa?" Tanyaku balik. "Ya sekarang dia agak berubah lebih pendiam lebih suka menyendiri dan jarang sekali merespon omongan papa"jelas papa sambil menghela nafas . "Mungkin dia capek kali..."jawabku asal. "Mungkin saja begitu..."ucap papa benar - benar tak bisa ia sembunyikan rasa gelisahnya Kalo aku jujur entah apa yang akan papa lakukan padaku , tapi...agghhh itu sama saja , gumamku. "Sa kamu kenapa? ada masalah?" Tanya papa heran. "Enggak.., oh ya pah apa benar sebelum mama Alda nikah sama papa dia udah diperkosa orang?"tanyaku penuh selidik aku yakin mama Alda sudah menceritakan perihal ini kepada papa. "Ya benar Sa, tau darimana kamu?" Tanya nya balik. Aku hanya terdiam sesekali kupandangi wajah papa yang sudah keriput akibat termakan usia. "Ditanya kok malah diam..."ucap papa sambil berdiri . "Gak sengaja dengar cerita buk Mita pah.." ucapku asal buk Mita adalah kakak kandung alda. "Ehmmm..."papa hanya berdehem halus. "Kenapa tidak papa ceraikan saja dia..."ucapku spontan yang membuat papa menatapku dengan tatapan tajam. "Kau gila Harsa..., Dia itu sedang hamil papa juga sangat mencintai nya"ucapnya emosi. "Bagaimana kalo anak yang ada didalam kandungan nya itu bukan anak papa tapi anak orang yang telah memperkosanya"ucapku sembari terdiam menunggu reaksi papa. "Jaga ucapan kamu Harsa..."ucap papa sambil menarik bajuku sudah kuduga papa akan marah. "Maaf pah..."lirihku. Papa bagaimana kalo bayi kembar itu bukan anak papa melainkan cucu papa , anak kandungku. "Harsa kenapa kamu bisa bicara seperti itu.."ucap papa curiga. Aku hanya terdiam sambil menatap langit malam yang kelam tanpa bintang hanya ada bulan disana. "Aku hanya menduga pah"ucapku setelah lama terdiam. "Kalo memang benar papa tidak akan memaafkan Alda dan papa akan pastikan kedua bayi itu tidak akan selamat"ucap papa sambil membuang pandang. "Loh kok gitu sih pah , kan mereka gak salah"protesku. "Walaupun mereka gak salah tapi tapi ayah mereka sudah merusak kebahagiaan papa" ucap papa lantang. Aku hanya terdiam ternyata papa akan berbuat sekejam itu. Apa papa punya rencana untuk jaga - jaga kedepannya kalo hal itu terjadi?" ucapku sambil menatapnya. "Ya kalo itu benar - benar terjadi papa bakal pisahkan Alda dan bayinya , Alda akan tetap jadi istri papa sementara kedua bayi itu cari aja orang tua asuh untuk mereka, pokoknya Harsa intinya papa gak akan mau kehilangan mama Alda"ucap papa dengan nada serius. Papa tidak boleh melakukan itu Kedua anakku harus tetap bersama ku kini aku sudah tidak peduli dengan Alda yang aku pikirkan hanya nasib bayi kembarku. "Tapi kamu jangan buruk sangka dulu sama mama Alda karena itu belum tentu benar"ucap papa singkat sambil berlalu pergi. *** Pagi - pagi sekali aku sudah bangun dan turun untuk sarapan namun pemandangan tidak mengenakan langsung ada didepan mataku. Pemandangan yang memperlihatkan Bang Rivan dan mama Alda sedang becanda didapur layaknya suami istri. "Harsa kamu kenapa kok ngeliatnya gitu?" Tanya bang Rivan. Aku hanya menggeleng sembari melangkah menuju meja makan. "Harsa nih..." Ucap mama sambil menghampiri ku. "Apa ini?" Tanyaku sambil menatap cangkir ditangan mama Alda. "Kopi..."jawabnya sambi tersenyum simpul. "Buat aku mah?" Tanyaku memastikan . Ia hanya membalas dengan anggukan pelan sembari tersenyum. Dengan pelan aku mengambil gelas itu dan mulai meneguk isinya sungguh rasanya begitu pahit . "Pahit yah Sa?, Kek hidup mama.." Tanya mama Alda sambil tersenyum. "Pahit tapi enak kan kaya...ehmm"sambungnya sambil mengelus perut buncitnya. "Aku kurang suka kopi " ucapku sambil meletakan gelas itu dimeja. "Masa kamu gak suka , tadi tuh gak tau tiba - tiba mama pengen banget bikin kopi pahit buat Ayahnya Dede tapi karena papa kamu udah berangkat kerja yaudah mama kasih ke kamu"jelasnya sambil tersenyum penuh makna. "Oh gitu yah mah"ucapku sambil tersenyum. "Sa kamu mau gak hari ini bantu mama"ucapnya. "Bantu apa?" Tanyaku. "Yaudah sini"ucapnya sambil menarik tanganku. "Nih kamu sapu rumah ya Sa"ucapnya sambil menyodorkan sapu. Aku hanya terdiam lalu langsung menuruti apa yang mama Alda katakan tadi setelah selesai menyapu rumah aku duduk sejenak diSofa. "Udah nyapunya?" Tanya nya. Aku hanya mengangguk pelan. "Yaudah nih ngepel habis itu cuci piring dan masak"ucapnya spontan. "Loh kok aku semua mah" ucapku tak terima. "Hari ini entah kenapa mama males banget mungkin karena usia kandungan mama udah semakin besar jadi susah beraktivitas yaudah kamu bantu mama ya Harsa"ucapnya sambil tersenyum. "Yaudah iya mah"ucapku pasrah. "Lagian dedenya kan maunya kamu yang ngerjain tugas rumah bantuin mama" ucapnya sambil tersenyum. *** "Harsa....!?" Panggil mama sambil mengetuk pintu kamarku pelan. "Kenapa?" Tanyaku sambil membuka pintu kamarku. "Sa mama boleh gak tidur sama kamu?" Ucapnya tersenyum. "Tidur sama akuuuuu...kok gitu?" Ucapku kaget. "Ya mama takut kalo tidur sendirian, kamu kok kaget gitu bukannya udah biasa" ucapnya lagi sambil tersenyum penuh arti. "Mama tidur saja dikamar mama nanti kalo ada apa- apa panggil saja aku" ucapku. "Enggak mau , mama maunya tidur sama kamu dedenya yang mau gitu Harsa" tolak mama kasar. Aku terdiam sejenak sambil memikirkan ada apa dengan mama kenapa dia ingin tidur bersamaku. Dan kenapa mama terus menjadikan Dede Bayi sebagai alasan?. Bersambung-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN