“Tidak perlu khawatir, Mom. Aku di sini, tandanya aku sehat.” Rydian membimbing Ibunya masuk. Dia berusaha untuk menghibur Ibunya yang masih kebingungan melihat perubahan drastis yang terjadi pada anak lelakinya.
“Kau tidak bawa apa-apa, Kak?” tanya Elena.
Rydian segera menggeleng. Semalam dia memang kacau sekali, tetapi sekarang dia sudah tidak merasa hidupnya akan berakhir. Dia kini merasa tubuhnya begitu segar bugar. Jauh lebih sehat daripada sebelumnya.
“Kau tidak bawa apa-apa, Kak?” tanya Elena lagi.
Rydian menggeleng lagi. “Aku tidak bawa apa pun,” Jawabnya, “tidak ada yang mau memberikanku apa pun.”
Dia mulai marah. Dia benci pada orang-orang yang tidak ada belas kasihan padanya. Dia merasakan sesuatu yang aneh dalam tubuh yang menggelegak ingin segera dilepaskan. Perlahan dia menghentikan langkahnya lalu menutup mata. Ditarik napasnya dalam dan menghembuskannya perlahan. Ada sesuatu dalam dirinya yang ingin sekali membunuh dan dia tidak ingin itu terjadi sekarang.
“Rydian?”
Panggilan ibunya membuat Rydian perlahan membuka mata. Ibu dan adiknya sedang duduk seraya menatapnya bingung.
“Kau kenapa?” tanya ibunya lagi.
Rydian menggeleng, “Tidak ada apa-apa.” Balasnya segera.
Dia tidak ingin bercerita mengenai perubahan dari dalam dirinya dan dengan siapa dia bertemu semalam. Dia tidak ingin mengatakan apa pun pada ibu dan adiknya. Kehidupan mereka yang sudah susah membuatnya tidak ingin menambah beban lagi.
Rydian perlahan berjalan menuju ibu dan adiknya. Dia berusaha untuk tidak bergerak cepat seperti tadi.
Mereka bertiga duduk di lantai yang beralaskan kain usang. Ibunya memberikan Rydian roti yang anehnya dia kali ini tidak lapar.
“Untuk kalian saja.” Katanya yang diangguki semangat oleh Elena.
Elena menyambar roti dalam bungkusan plastik dari tangan Ibunya. Dibukanya segera bungkusan itu kemudian dibagi dua roti itu dengan Ibunya. “Mom, ayo makan juga.”
Ibunya tersenyum mengangguk. Rydian melihat ibunya dan adiknya makan dengan lahap. Setelah roti habis, mereka tiba-tiba jatuh pingsan. Remaja itu terkejut bukan main.
“Mom?” dia menggoyangkan bahu ibunya. “Elena?” dia kembali menggoyangkan bahu Elena.
Dia menggerakkan berulang kali keduanya namun tidak juga membuka mata. Tidak ada pergerakan dari keduanya membuat Rydian menggeram. Geraman aneh keluar dari tenggorokannya. Geraman binatang. Dia lupa, bisa saja roti itu sudah dimasuki obat tidur atau racun. Mengingat itu, dia menggeram lagi. Kali ini geramannya lebih keras dari sebelumnya. Dan, dia tahu siapa yang menjadi dalang dari semua ini.
“JAKE!”
Teriakan itu menggema dan berhasil menerbangkan burung-burung yang bertengger pada pagi hari yang cukup cerah. Kedua tangannya kaku kemudian bunyi gemeretak menyakitkan membuatnya kembali berteriak demi menyalurkan rasa sakit di tubuhnya. Diangkat kedua tangannya di depan matanya, dan dia melotot melihat kuku-kukunya lepas dengan darah keluar deras. Kesakitannya tidak sampai disitu saja, dari bekas kuku yang terlepas itu, muncul kuku baru. Kuku yang muncul itu lebih tajam dan bergerak cepat hingga memanjang membentuk cakar yang sangat tajam.
“Rydian! Kau selamat!”
Suara yang begitu dia kenal akhirnya datang. Dia sudah tahu suara siapa itu. Jake Romano. Pria itu berdiri di ambang pintu. Wajahnya tertutup topeng. Sepertinya dia sengaja agar Rydian tidak mengenalinya.
Melihat Jake yang bersidekap dengan sikap tenang itu membuatnya segera menyerang, namun dengan mudahnya menghindar. Pria itu dapat dengan mudah melihat serangan Rydian.
Merasa dimainkan, remaja tersebut dengan membabi buta menyerang. Kemarahan yang menguasainya membuat gerakannya tidak terarah.
“Wow, matamu bersinar merah.” Jake berkata terkesima seraya terus menghindari serangan Rydian yang marah.
Perkataan itu membuat dia menggeram, “Kau apakan mereka?!” Matanya berkilat seraya terus berusaha mencakar Jake dengan kukunya yang tajam.
Jake menggeleng. “Tidak ada. Mereka akan bangun saat matahari terik. Tenang saja.” Katanya tersenyum miring.
Rydian menghentikan serangannya. Dia berdiri di hadapan Jake dengan kuku-kuku jarinya yang tajam, gigi taringnya yang runcing dan matanya yang merah menyala. Geraman binatang buas terrdengar jelas keluar dari tenggorokannya.
“Kendalikan marahmu, Rydian.” Gumam Jake yang membuat remaja itu malah menggeram keras. Dia memiringkan kepalanya, penarasan. “Tetapi, aku ingin melihat, bagaimana kau berubah. Apakah kau bisa berubah, Rydian?”
Pertanyaan itu membuat Rydian marah. Dia tersinggung pada perkataan Jake Romano. Perkataan itu membuatnya teringat bahwa dia adalah makhluk abadi. Dia tidak suka abadi.
Dia berteriak menyalurkan kekesalannya yang membuat seluruh tubuhnya sakit. Tulang-tulangnya berderak yang membuatnya semakin kesakitan. Rydian menatap Jake dengan kemarahan yang tidak pernah surut. Dia ingin sekali memenggal kepala pria itu yang kini berjalan mundur.
Seluruh tubuhnya panas bukan main. Panas itu membuatnya mencakari lengannya hingga kulitnya terkelupas dan berdarah, lalu dia merobek kaus dan celana yang dipakainya. Kulitnya terasa terbakar. Rydian menggeram marah pada Jake. Bahkan napasnya pun terasa sangat panas. Dia seolah sedang mengalami demam tinggi.
“Jake!” dia berteriak marah, “akan kubunuh kau!”
Dia mulai memaki dan mulai melangkahkan kakinya namun dia tidak bisa melangkah. Kakinya sulit digerakkan seakan dipaku di tempat. Dia mulai menggeram menatap Jake yang masih memandangnya dengan takjub.
Gigi remaja itu mulai lebih tajam lagi dengan taring yang lebih panjang hingga air liur menetes, matanya semerah darah, nafas memburu, telinga yang memanjang seperti telinga serigala namun dengan wajah yang tidak berubah seperti serigala. Kulit Rydian mulai berganti menjadi bulu berwarna hitam pekat. Rydian memiliki tubuh yang lebih tinggi dua kali lipat dari ukuran sebenarnya. Pandangannya berubah menjadi merah. Tidak ada warna lain. Tulang-tulang di tubuhnya bergerak menyakitkan yang membuatnya berteriak lebih keras lagi.
“SAKIT!” teriakan itu terdengar seperti geraman daripada suara.
Teriakan Rydian sampai pula pada penduduk. Mereka menghentikan aktifitasnya dan berdiri tegak. Lagi, geraman itu terdengar yang membuat anak-anak kecil berlarian menuju orang tua mereka.
“Apa itu?” tanya seorang gadis berambut hitam berusia 18 tahun seraya berdiri di samping ibunya.
“Entahlah.” Jawab ibunya namun tatapannya tertuju pada suaminya. Dia dapat melihat tatapan suaminya berubah tajam. Tanpa harus mengetahui penjelasan dari suaminya pun dia tahu apa itu.
Sementara itu.
“Wow.”
Jake terpana melihat makhluk yang berdiri di hadapannya. Ditatapnya Rydian tanpa kedip. Remaja kecil yang dilihatnya kemarin, kini lebih tinggi dua kali lipat dalam bentuk serigala namun dengan wajah masih bisa dibilang manusia, hanya tumbuh bulu di sekitar pipi dan taring tajam yang menyembul meneteskan air liur.
Jake akhirnya dapat mengedipkan matanya lalu dia bersiul takjub. “Kau pencampuran yang berhasil.”
Dia tertawa pelan yang membuat Rydian segera berdiri lalu menyerangnya hingga membuat pria itu terpental jauh. Rydian yang sudah berubah, memiliki kekuatan yang tidak terduga.
Rydian mengedipkan matanya. Dia sadar, sekitar dirinya berwarna merah terang. Bahkan langit pun berwarna merah dalam pandangannya. Rydian menggeram, dia berjalan menghampiri Jake perlahan. Dia ingin membunuh pria itu dengan sangat menyakitkan, sama seperti yang telah membuatnya mengerikan.
“Kau tidak ingin tahu siapa sebenarnya diri kau?”
“Tidak!” geram Rydian. Suaranya terdengar sangat aneh di telinganya sendiri. Seperti suara binatang menggeram yang bisa berbicara. Berat dan penuh penekanan disetiap kata-katanya.
“Akan kuberitahu pula,” Jake berkata dengan mata menatap makhluk ciptaannya dengan sangat teramat takjub, “kau adalah hybrid. Pencampuran sukses antara lycan, vampir dan drakula. Hmm, aku jadi berpikir, apakah kau bisa terbang?” Ucap Jake kemudian bangkit.
Pria itu menatap Rydian yang berdiri menatapnya kemudian tertawa mengingat sesuatu. “Tabung perak itu berisi racun vampir dan drakula yang sudah kucampur dengan racun dari lycan yang merupakan tetua manusia serigala. Kupikir kau akan mati, tapi kau ternyata hidup. Kau memang diciptakan untuk menjadi abadi, Rydian.”
Mendengar kata 'vampir', 'drakula', dan 'manusia serigala' serta racun lycan membuat Rydian marah. Dalam sekejap, dia sudah berdiri di hadapan Jake dan sudah mengangkat pria itu tinggi-tinggi pada kerah kemeja yang dipakainya. Siap untuk melemparkannya lebih jauh lagi.
Jake yang masih diangkat oleh Rydian malah tertawa. “Walau kau membunuhku, tidak akan dapat melupakan fakta bahwa kau abadi dan tidak akan dapat dibunuh.” Lalu dia tersenyum miring.
Ucapan itu membuat Rydian berteriak marah. Dia meremas kerah kemeja Jake bermaksud mencekik namun tatapan pria itu sangat tenang dan terarah.
“Dengan kekuatanmu,” pria tinggi itu berkata masih dengan tenang, “kau dapat melakukan apapun yang kau inginkan. Kau adalah anakku karena aku adalah penciptamu.”
Mendengar kata ‘anak’ membuat Rydian melempar Jake beberapa meter jauhnya hingga pria itu membentur pohon yang membuat pohon itu rubuh dengan bunyi berdebam keras. Dia tidak ingin menjadi anak seorang pria gila bernama Jake Romano. Dia tidak pernah ingin abadi. Dia tidak ingin melihat satu persatu orang yang dia cintai pergi selamanya sementara dia harus hidup hingga selamanya.
“Jangan khawatir, kau masih akan tumbuh hingga usiamu dua puluh tahun.” Jake berkata seolah tahu apa yang dipikirkan Rydian. Walau beberapa meter jauhnya, telinga remaja itu dapat mendengar jelas ucapan Jake.
“Setelah itu,” Jake berkata lagi seraya memegangi perutnya kemudian berdiri, “kau akan abadi. Kau tidak akan mati walau dengan wolfsbane atau bahkan peluru perak. Kau tidak semudah itu mati, Rydian.” Dia menatap Rydian dengan tersenyum bangga seolah telah memiliki anak dengan peringkat kelas nomor satu.
“Aku tidak ingin abadi.” Geram Rydian.
Keabadian adalah hal yang sangat jauh dari keinginannya. Dia hanya ingin tumbuh dewasa, menikah lalu menua bersama dengan orang yang dicintainya dan keluarganya. Jika sudah seperti ini, dia tidak ingin jatuh cinta. Dia tidak ingin melihat wanita yang dicintainya dan keluarganya menua sedangkan dia tidak. Dia tidak ingin larut dalam patah hati selamanya. Membayangkan itu, membuat dia berteriak marah.
Jake menggeleng pelan lalu tersenyum miring melihat reaksi remaja itu. “Lihat saja,” katanya, “kau kali ini membencinya, tetapi besok, kau akan menyukainya.”
Rydian kembali berteriak marah. Teriakan-teriakan itu membahana membelah pagi yang mulai mendung seolah mendukung kegelisahannya. Kemarahannya itu membuat punggungnya terasa sangat sakit. Dia berteriak hingga menciptakan getaran pada tanah yang dipijaknya. Sesuatu menyakitkan berusaha keluar dari punggungnya hingga membuatnya berusaha mencakari punggungnya agar sesuatu itu dapat musnah segera.
Perlahan, sepasang sayap kecil keluar dari punggungnya yang membuat Rydian berteriak kesakitan hingga jatuh terduduk. Dicakarkan tanah dengan kukunya yang tajam demi menghilangkan kesakitannya. Dia menatap Jake yang terkesima.
“Jake, akan kubunuh kau!” maki Rydian yang tidak ditanggapi. Pria tinggi itu terlalu sibuk dengan ketakjubannya pada remaja yang ada di hadapannya.
Jake terlalu terkesima dengan sayap hitam pekat yang mengepak di belakang punggung Rydian. Sayap itu memiliki panjang masing-masing dua meter. Matanya berkedip ketika dia melihat Rydian berjalan menghampirinya dengan sayap yang masih mengepak begitu memukau, walau sayap itu dipenuhi dengan darah sebab baru saja tumbuh dari dalam tubuh remaja ciptaannya.
Tangan Rydian terangkat siap mencakar namun pria itu bisa menghindar. Jake kini berdiri di atas pohon yang membuatnya siap mematahkan pohon itu hingga berkeping-keping.
Jake tersenyum miring melihat Rydian yang ingin sekali memakannya hidup-hidup jika bisa. Sayangnya, remaja itu baru saja lahir kembali. Kekuatannya tidak sebanding dengannya yang sudah lama hidup di muka bumi.
“Aku tinggal di Beacon City,” katanya pada Rydian. Dia yakin, remaja itu mengerti apa yang dikatakannya, “temui aku jika kau ingin hidup ibu dan adikmu layak.” Dan setelah itu, dia berlari cepat yang membuat Rydian menggeram kemudian berusaha mengejar ketika didengarnya suara suara-suara penduduk.
Rydian melambatkan larinya kemudian berbalik. Dia memilih bersembunyi hingga dapat berubah kembali seperti semula. Pemikiran mengenai bagaimana caranya kembali seperti semula membuat Rydian berteriak marah. Dia memaki Jake. Dia mengutuk pria gila itu agar cepat mati walau sepertinya tidak mungkin karena Jake sama seperti dirinya. Abadi.
***