Ayesha menunggu Ilham dengan gelisah, sudah tengah malam namun belum juga ada kabar. Ia lalu teringat, tadi pagi ia meninggalkan meja makan begitu saja. Ia pun pergi ke arah dapur, melihat dapur yang tertata rapi, tidak ada sisa makanan di meja, tidak ada piring kotor, ia tahu pasti Ilham yang membereskannya. Rasa bersalah pun menghampirinya, tidak seharusnya ia bersikap seperti itu pagi tadi. Ayesha kembali ke ruang tamu, menunggu Ilham. Dalam hati, ia terus berdoa untuk keselamatan Inayah. Dan berharap Ilham segera menemukannya. Saat mendengar pintu dibuka, Ayesha segera beranjak, pasti itu Ilham. “Mas—” Ayesha tak jadi melanjutkan kalimatnya, kata-katanya tertahan di tenggorokan begitu matanya menangkap sosok yang kini berdiri di ambang pintu rumahnya. Bukan Ilham. Melainkan pria

