Ilham tengah memandang Ayesha yang masih terlelap. Tidur dengan tenang di ruang rawat. Dokter bilang tidak ada yang perlu dikhawatirkan, kecuali mentalnya, mungkin. Mengingat bagaimana Ayesha akan mengakhiri hidupnya seperti tadi, membuat Ilham bertanya-tanya. Hal apa yang dialaminya hingga membuatnya menyerah untuk hidup? Semakin ia memikirkannya, semakin ia ingin melindunginya. Menjadikannya wanita miliknya. Seutuhnya. Ilham juga sempat menghubungi keluarganya, ia pikir mereka harus tahu, dan rasanya aneh jika hanya ia yang menemaninya di sini. Pintu ruangan terbuka, dokter kembali masuk untuk melihat perkembangan Ayesha. Diikuti ibu Ayesha di belakang. “Dok, bukankah ia hanya pingsan? Tapi, kenapa ia belum sadar juga?” tanya ibunya khawatir. Ia memang tidak tahu kalau Ayesha sempat

