Inayah masih dalam keterkejutannya. Sejak melihat Ilham masuk, ia sudah kaget, tidak menyangka kalau gadis yang hampir ia tabrak adalah adik Ilham. Pertemuan macam apa ini? Batinnya. Awalnya ia ingin pergi, tapi tak mungkin ia pergi begitu saja dari tanggung jawabnya. Lagi pula, menghindar tidak akan menyelesaikan masalah, aku harus bisa menghadapinya untuk bisa mengikhlaskannya. Inayah menyapa Ilham dengan sedikit senyuman. “Aku tidak menyangka kalau ternyata dia adikmu,” ucapnya berbasa-basi. Syifa celingukan, Ilham memanggilnya Ina, yang berarti dia adalah .... Syifa terbelalak. “Mbak Inayah?” serunya. Inayah tersenyum pada Syifa. “Iya, kamu pasti Syifa.” Syifa mengangguk. Suasana di ruangan ini benar-benar aneh, ia bisa merasakannya hanya dengan melihat keduanya, canggung dan tak

