Tabrakan sepeda

1107 Kata
Jennie Oclay baru akan meninggalkan Drink Corner ketika kejadian naas terjadi. Secara tiba-tiba dari belakang ada yang menyeruduk sepeda, yang baru dia keluarkan dari tempat parkirnya, dengan keras. Sepada itu jatuh ke jalan raya dan di seruduk keras lagi oleh mobil yang melaju kencang, lalu benda malang itu akhirnya berakhir dengan menghantam pohon di pinggir jalan. "Ahhhhh!" Jennie terperanjat dan setengah memekik. Ia merona menjadi pusat perhatian. Orang-orang disekelilingnya berpaling penasaran karena mendengar dentuman keras. Tiga gelas soft drink yang belum sempat tersentuh hancur dan tertumpah berserakan ke jalanan. Beberapa orang muncul entah dari mana, berkerumun, sama sekali tidak membantu, hanya melihat sepedanya yang dalam waktu beberapa detik telah berubah menjadi reok dan menyedihkan. "Sial" kutuk Jennie. hari ini benar-benar hari yang sangat menyebalkan dan penuh kesialan beruntun. Setidaknya itulah yang dipikirkan Jennie Oclay. Meskipun suhu udara hari ini sangat panas dan matahari bersinar dengan terik namun, awan hitamlah yang berada disekelilingnya. Si biang kerok, penyebab dari semua bencana yang telah terjadi pada akhirnya menghampirinya dengan ekspresi cemas diwajahnya "Maaf, maafkan aku, aku mungkin tidak bisa menganti sepedamu sekarang, bisakah aku mengumpulkan uang dulu atau mencicil?" tanyanya. "Hah?" Tanya Jennie lirih, mengabaikan betapa kerennya tadi laki-laki itu melepas helm, mengerakkan sedikit kepala, lalu memperbaiki tatanan rambut hingga menampakan wajah ganteng pemiliknya. Lalu dia melirik ke jalanan yang cukup ramai, hingga akhirnya memejamkan mata, dan menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Tenang saja. Aku pasti tidak akan melarikan diri. Jika kau tidak keberatan aku bisa menjadi supir pribadimu sampai aku bisa membayar" kata lelaki itu memohon "Aku Reind dan kita satu sekolah, aku tidak akan menipumu" Dengan ketus Jennie Oclay mengatakan "Terserah kau saja" Sekarang ia begitu gerah, tubuhnya begitu lengket akibat minuman yang di tumpahkan seorang gadis di kelompok tadi, dia tahu cewek itu pasti sengaja, karena cemburu. Laki-laki itu, Reind, melotot tidak percaya melihat tindakan Jennie melepas kemeja dan meninggalkan kaos tanpa lengan yang begitu ngepas di badannya "Apa yang kau lakukan?" katanya tidak nyaman. Jika tindakan gadis itu lebih jauh lagi, bisa-bisa ia serangan jantung. Hanya dengan melihat wajahnya, seorang Reind lupa cara mengendalikan motor, apalagi jika tindakannya lebih jauh dari itu, ia mungkin bisa mati berdiri. Jennie Oclay hanya melirik cowok itu, yang menurutnya harus segera dienyahkan dari muka bumi, dengan kerutan kening sambil mengikatkan kemejanya ke pinggang. Tanpa pikir panjang Reind melepas kemejanya. "Pakai ini" katanya memerintah. Bukannya menerima, gadis itu malah menjawab ketus "Tidak perlu" "Ngak usah sok pamen d**a datar. Pakai saja, jangan banyak gaya" Ujar Reind memaksa. Melotot dengan marah, dan cepat-cepat Jennie Oclay menerima dan memakai kemeja yang di berikan laki-laki itu. Dasar m***m. Mukanya telah berubah menjadi udang rebus. Perkataan laki-laki itu terlalu blak-blakan dan seorang Jennie yang biasanya kurang sopan masih malu mendengarnya. Kemeja besar itu beraroma khas. Aromanya begitu tajam, aroma pria tapi juga menenangkan. Dan ketika Jennie tenang, dia langsung mengacak tas mencari ponselnya. Tapi tidak ada di sana. Ia lalu berpindah mencari di saku jeans dan juga tidak menemukan apa-apa. "Astaga" Jennie menepuk jidatnya. Ponselnya tertinggal di meja kasir tadi. "Kau mencari ini?" tanya laki-laki itu sambil menunjukkan ponsel yang sama persis dengan miliknya. "Bagaimana ada padamu?" tanya Jennie keheranan. "Kau meninggalkannya di meja kasir, dan aku tepat berada di belakangmu. Ini" Jawabnya sambil memberikan ponsel itu pada empunya. Awal permasalahannya adalah ponsel itu, jika Jennie Oclay tidak meninggalkannya di meja kasir, Reind tidak perlu mengejarnya untuk mengembalikan, dan tidak perlu juga dia mendadak menjadi bego karena terpana memandangi gadis itu. "Soal sepedamu aku akan mengurus segalanya. Jika kau tidak keberatan aku bisa menjadi supir pribadimu sampai sepedamu selesai diperbaiki" lanjutnya. 'Seumur hidup aku rela jadi supir, kalau penumpangnya begini. Seandainya saja ia melingkarkan tangan di pinggang' Reind menghela nafas dalam-dalam dan menghembuskan keras, mengahalau fantasi kotornya. Menyadari bahwa gadis yang di imajinasi barusan masih tertunduk diam, Reind mau tak mau ingin mengalihkan perhatiannya "Sebelumnya aku benar-benar minta maaf, tapi boleh aku tahu nomormu?" Tanyanya. Namun yang ditanya seperti tidak menyadari dia ditanyai. "Hei" panggilnya lagi. Gadis itu tidak mengatakan apa-apa. Layar ponselnya yang sudah kembali menjadi gelap lebih menarik dari pada seorang Reind yang membuat gadis-gadis histeris melihatnya. Reind tahu dia ganteng, setidak nya semua laki-laki menganggap dirinya ganteng berkebalikan dengan wanita yang merasa selalu jelek, tidak satu dua orang mengatakannya, gadis-gadis di sekolah bahkan banyak yang mengejar-ngejarnya dan mengemis-ngemis minta diperhatikan dan jadi pacarnya, tapi dihadapan seorang gadis dingin dan ketus ia merasa kehilangan seluruh kepercayaan dirinya. Jennie Oclay sama sekali tidak marah, bahkan merasa agak senang dan dia sedang memikirkan berbagai cara bagaimana meminta ayahnya untuk mengizinkannya pergi kursus musim panas dengan mobil. Sepedanya rusak, tapi masalahnya sekarang dia harus pergi ke rumah neneknya. Dia sedang berpikir keras apakah harus modus kepada senior untuk menjemputnya. Tiba-tiba laki-laki itu menyambar ponselnya. "HEY, APA YANG KAU LAKUKAN?" teriak Jennie Oclay kaget. Ia mencoba mengambil kembali ponselnya, namun laki-laki itu mengangkat tinggi ponsel itu. Sambil bergumam tidak jelas Jennie berupaya menggapai mengambil ponselnya kembali. Tapi ia malah mundur sendiri ketika tubuh mereka tidak sengaja saling bertubrukan di bagian depan dan laki-laki malah menyeringai kearahnya. Laki-laki itu benar-benar tidak menghiraukan apa yang digumamkan "Sudah selesai!" katanya masih tersenyum cengengesan. "Menyimpan nomorku" Lanjutnya dengan senyum manis " Kau bisa menghubungiku dua puluh empat jam sehari" Jennie Oclay hanya memandangnya dengan tatapan tajam. "Aku akan menghubungimu jika sepedamu sudah selesai diperbaiki" Tambah Reind benar-benar mengembalikan ponsel kepada pemiliknya. Jennie Oclay menerimanya dan melotot melihat layar ponselnya dengan tidak percaya. 'Penabrak Ganteng' Apa-apa ini? Reind menghela nafas dalam-dalam dan menghembuskan nafasnya keras "Sebelumnya aku benar-benar minta maaf, aku benar-benar tidak punya uang. Atau sepedamu akan kuperbaiki dulu tapi membutuhkan waktu yang lama. Aku bisa mengantarmu pulang sekarang" "Tidak perlu" Tolak Jennie ketus. Dia ingin memanfaatkan kesempatan berharga ini untuk mendekati senior. "Aku bersikeras" Menyadari bahwa ia juga tidak bisa kemana-mana, Reind menghubungi temannya, teman setia yang akan selalu ada untuknya. R15nya juga rusak ringan di bagian depan, bahkan besok atau hari ini ia sudah bisa mengambil motornya kembali. Tidak berselang beberapa lama, sebuah sedan hitam berhenti ditepi jalan tak berapa jauh dari tempat mereka berada. "Aku akan bertanggung jawab mengantarmu pulang, jadi tinggal sebut saja kemana aku harus mengantarmu" kata Reind ringan lalu menarik tangan Jennie sesuka hatinya. Tidak ada pilihan lain, desah Jennie dalam hati. Tubuhnya sudah terlalu lelah untuk berjalan ke stasiun bus atau kereta. Reind membukanya pintu belakang mobil dan mempersilahkan Jennie masuk layaknya pria terhormat, setelah itu menutup pintu kembali ia berjalan menuju pintu lain yang berada di bagian depan. Apa yang tidak pernah di duga Jennie Oclay adalah yang mengendarai mobil itu adalah Al Carrow! Benar-benar Al Carrow yang menyebalkan itu. Al Carrow juga menatap Jennie, suasana di atas mobil mendadak berubah menjadi aneh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN