Pendekatan

1198 Kata
"Tidakkah dia melihat wajahku yang penuh penolakan, dingin, dan meminta dia menjauh ribuan mil. Apa perlu aku menampilkan ekspresi seperti gorila agar dia mengerti aku tidak ingin berbicara dengannya?" Kata Jennie Oclay jengkel. Dia masih menempelkan ponselnya ditelinga sejak ia berada di antrian paling belakang, hingga akhirnya hanya tersisa tiga orang lagi didepannya. Suasana hatinya dalam keadaan paling buruk. "Tidak peduli seperti apa kau menjelek-jelekkan wajahmu, kau tetap cantik Jen. Meski kau membom Quon, hanya dengan setengah senyummu, kau bakal dimaafkan, yakinlah. Dan dudah berapa kali kukatakan, semakin kau nampak 'sok jual mahal' semakin dia tertarik padamu" Jawab Allysa si ujung sana. "Siapa yang kau katakan sok jual mahal, huh?" Tanya Jennie bertambah jengkel, menyadari nadanya tidak terlalu baik, dia sedikit melambatkan nada bicaranya "Kau tahu dari dahulu aku sudah muak dengan bocah-bocah nakal dan naif itu. Cara pendekatan mereka begitu membosankan dan itu itu aja. Pura-pura tanya ini itu. Jelas-jelas pertanyaan semudah itu, anak elementary bisa melakukannya, mengapa masih bertanya padaku?" "Yeah, bukankah begitu seharusnya strategi mendekati murid pintar sepertimu? bertanya soal pelajaran adalah metode paling tepat, tidak mungkin dia bertanya cara maling dan merampok padamu, kan" Celetuk Allysa. "Tapi kan tidak harus persoalan semudah itu. Terlalu jelas. Tidakkah dia merasa kami berada di dua dunia, tidak ada pembahasan sama. Dia cuma buang-buang waktu. Itulah sebabnya aku lebih suka senior tampan dan jenius, setidaknya ketika kami berbicara nyambung. Aku tidak harus menjelaskan seperti berbicara dengan anak SD kan" Kata Jennie, suaranya agak naik, membuat gadis di barisan depannya berbalik dan menatapnya. Jennie Oclay sedang tidak dalam suasana hati yang baik, dia akan muak jika ia dilirik dan dinilai, mungkin orang-orang akan meremehkannya, terutama gadis seumurannya. "Ngomong-ngomong, apa ada perkembangan antara kau dengan senior itu?"gumam Allysa di ujung sana. Julius Caesar, salah satu cowok tampan Quon ternyata memiliki salah satu kursus tambahan pilihan ibunya. Dan Jennie mencoba mendekatinya. SMA tanpa pacaran, betapa membosankan itu! "Tidak menyesal aku menghadiri kelas Etika dan Moral Dalam Pelayanan Publik! Meski sampai malam dan harus menahan kantuk dan lelah, semangatku masih tinggi melihat wajahnya" Jawab Jennie Oclay dengan bahagia, dia berfikir sejenak "Kupikir dia juga menyukaiku, tapi gara-gara Ryan sialan itu, waktu pdktku dengan Senior malah terganggu" Ryan adalah salah satu murid badung yang mengejar-ngejar Jennie. Suara TV yang aktif, suara yang dihasilkan alat pemecah es batu serta blender yang terus-terusan berputar, membuat kepala Jennie berdenyut. Ia lalu memijit pelipisnya dengan enggan. Jennie langsung berhenti memijat pelipisnya dan menegakan kepalanya ketika Allysa mengatakan "Jangan-jangan dia memang sangat tertarik padamu, sampai cinta mati, dia mengejarmu dari kita SMP" Jennie melangkah satu langkah pendek ke depan mengisi kekosongan pada antrian, jawaban yang terdengar tidak seperti yang ia harapkan "Apakah aku harus mengatakan padanya bahwa aku tidak menyukainya, menolaknya dengan terang-terangan? Tapi dia sama sekali tidak menembakku" sangat jelas terdengar desahan setengah hati Jennie "Tenggorokan terasa akan patah" Tambahnya ketika tenggorokannya terasa kesulitan menelan. "Jelas-jelas kau buta nada, mengapa kau perlu berlatih vokal segala, apa uangmu terlalu banyak untuk dibuang?" Tanya Allysa ragu. "Ibuku yang meminta dan memaksaku datang ke fakultasnya, berlatih dengan grup vokal Nasional, katanya aku bisa membantu menyesuaikan nada bicara saat berdebat. Kau pikir apa hubungannya coba? Menyanyikan lagu wajib nasional dengan debat. Jelas-jelas mereka tidak satu saluran" Jelas Jennie Oclay. "Tunggu" Kata Jennie kepada Allysa ketika akhirnya sampai pada gilirannya "Taro satu, Chocho charamel sama vanila" Katanya pada petugas drink corner. "Dimana tadi? Oh ya, lagu nasional" Jennie bertanya dan menjawab sendiri setelah merapatkan kembali ponselnya ke kuping "Dan yang paling menyebalkan, instruktur itu menuntut kesempurnaan. Dia memarahi dan menegurku karena sering keluar dari nada seharusnya. Katanya aku masih kurang menjiwai sebuah lagu dan tidak bisa menilai apakah nada sesuai atau tidak. Ya, aku mana tahu. Nilai musikku saja di dapat dengan mengedipkan mata pada guru musik. Tapi, kalau dia suruh aku berdebat aku mungkin bisa menemaninya sepanjang hari" "Serius kau sudah menggoda guru dari SMP? Bukankah kita mengambil nilai musik di tahun pertama" Tanya Allysa, suaranya naik beberapa oktaf karena terkejut. "Tentu saja tidak" Sangkal Jennie Oclay "Guru tua bangka begitu akan ku goda, kau pikir aku sesinting kau. Aku remedial tiga kali, dan akhirnya lulus karena di panggil kepala sekolah untuk ikut pemilihan putra dan putri Prevkaya" "Jennie Oclay, aku sangat memohon padamu untuk membedakan nada bicara serius dan bercanda. Kupikir ibumu memang benar, kau harus lebih banyak berlatih vokal agar nada bicaramu bisa menjiwai. Bedakan lelucon dan serius" saran Allysa. Sebelum Jennie bisa membalas perkataan Allysa, tiga gelas pesanan akhirnya tiba. Dengan ponsel yang sedari tadi menempel ditelinga Jennie mencoba mengambil dompet dari tas nya namun tidak berhasil "Tunggu sebentar" Jennie meletakkan ponselnya di meja kosong disampingnya. Lalu berhasil mengeluarkan selembaran uang seratus dari dompet yang tadinya berada didalam tas jinjing Heroes hadiah dari bibinya dua tahun lalu. Jennie mengambil pesanannya, ia berjalan dengan santai ketika sebuah suara memangilnya "Jennie" Jennie langsung menoleh pada sekelompok gadis yang duduk tak jauh dari tempat ia berdiri. Dengan kebingungan ia mencoba mencari siapa kiranya yang memangilnya. Lalu seorang dari mereka melambaikan tangannya dengan begitu senang. "Oh, Hai" kata Jennie setelah mencoba mengingat apakah ia kenal atau tidak. Setelah ia mencoba dengan kasar mengingat akhirnya ia kenal siapa mereka, teman-temannya semasa SMP. Jennie bisa mengingat ribuan data, selama bertahun-tahun tanpa lupa. Tapi mudah melupakan wajah orang lain. "Bagaimana Quon? Katanya ada banyak selebriti. Apakah kau pernah bertemu dengan mereka" Ketika Jennie mendekat, salah satu dari kelompok itu bertanya dengan sangat antusias. "Sesekali. Pada awalnya memang sesuatu yang wow. Tapi jika kalian sudah lama di sana, kalian pasti akan terbiasa. Dan tidak ada yang wah, mereka juga manusia bisa" Jawab Jennie acuh tak acuh, tapi tidak mengurangi antusiasme kelompok itu. Karena semua orang seperti sudah terbiasa dengan wajah Jennie Oclay yang menampilkan ekspresi sama sepanjang tahun. "Siapa yang pernah kau temui?" Tanya seseorang yang lain. "Siapa ya, ada terlalu banyak selebriti di Quon. Tapi aku pernah satu kelas dengan seorang dari mereka, Aku lupa namanya, yang di sinetron kalian tonton bersama saat kita di kelas" Jawab Jennie. " Maksudmu Sofia? Bagaimana dia? Apakah lebih cantik di kamera atau aslinya?" "Entahlah. Kalian bisa datang ke Quon jika ingin tahu" Kata Jennie tak terlalu tertarik. Dan sejauh ini dia masih tidak mengingat nama mereka. "Bukankah memasuki Quon sangat sulit? Pagarnya saja tinggi seperti penjara" Komentar anggota kelompok itu agak sinis, namun ada kecemburuan di matanya. Bagaimanapun Quon itu bagaikan impian para gadis Prevkaya untuk menghadirinya. Karena seragam Quon sangat terkenal.Dan alasan sebenarnya Jennie milih Quon sebenarnya juga seragamnya. Seragam Quon merupakan sebuah simbol. Simbol akan status, kepintaran dan kekayaan. Tentu saja cewek seusia Jennie memiliki keinginan untuk di perhatikan dan populer. Di kereta, di bus bahkan di jalan, seseorang yang mengunakan seragam Quon pasti akan dilirik-lirik dan dicemburui. Karena seragam Quon selalu menjadi panutan fashion sekolah lain, sederhana namun menarik. Banyak selebriti yang sekolah di Quon mempost foto mereka yang sangat stylish dan loveable memadukan seragam dengan vest dari sekolah, lalu coat atau jaket atau hoodie yang lucu di musim dingin. "Di semester ke dua akan ada pentas seni, dan terbuka untuk sekolah lain. Jika kalian ingin datang, aku bisa beri kabar" Kata Jennie ingin segera mengakhiri percakapan mereka karena dia harus ke rumah neneknya. Dan sejauh ini, ia masih belum ingat jika ia melupakan ponselnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN