Vano mulai gemetar. Ia takut jika Ayah Rifki tidak menyukainya. Tetapi tiba-tiba saja pria itu tersenyum dan menyapa Vanio dengan sangat ramah. "Kenapa wajahmu tegang begitu, Nak? Apa aku menyeramkan?" kata Ayah Rifki yang duduk menjajari Vano. "Tidak, Om," balas Vano dengan senyum yang malu-malu. "Ayah bawa apa?" tanya Rifki ketika melihat ayahnya membawa totebag yang sangat banyak. "Ayah tadi mampir ke toko dan Ayah jadi ingat dengan apa yang kau katakan semalam. Ini semua hadiah untuk Vano," kata pria dengan wajah garang itu. "Untuk saya?" tanya Vano sedikit bingung. "Iya. Ini semua untukmu. Hadiah untuk orang baik sepertimu." "Tapi kenapa Anda memberikan saya begitu banyak hadiah? Anda belum pernah melihat saya sebelumnya dan baru mendengar cerita dari putra Om 'kan?" "Aku sela

