Vano merasa ada getaran perasaan di hatinya saat bersama Winda. Ia tak tahu perasaan macam apa itu. Vano hanya tahu jika ia merasa iba dengan kondisi Winda saat ini. Mengingat kejadian saat Winda meminta membakar seluruh pakaian pemberian Fabio membuatnya bertekad untuk memulung dan mengamen bersama. Vano sudah terbiasa hidup susah saat ini. Padahal, seandainya saja ia tidak kabur dari rumah, Vano tidak akan pernah merasakan sulitnya mencari makan. Namun, Vano lebih betah tinggal di tempat kumuh bersama Winda karena ia merasakan kebahagiaan dan arti kekompakan dalam keluarga yang utuh. Vano melamun saat selesai menyuapi Winda. Bu Wati memperhatikan Vano tanpa ia sadari. Lantas, wanita paruh baya itu menghampiri Vano dan mengambil kertas bekas nasi bungkus yang masih ada pada genggaman

