Pak Joko tak kuat melawan semua warga komplek pemulung yang mengusirnya. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi dan mencari tempat tinggal baru yang jauh dari komplek perumahan kumuh itu. "Vano, Pak Tio, kalian tidak usah khawatir. Kami ada di pihak kalian," kata salah seorang warga. "Terima kasih," kata Vano dengan lemas. Gitar keberuntungannya yang mengantarkan Vano bertemu dengan Rifki kini sudah hancur. Ia tak tahu bagaimana hari ini akan memulai pekerjaan di cafe milik Rifki. Vano berbalik menatap nanar mata Pak Tio. Pria paruh baya itu seakan tahu apa yang sedang dirasakan oleh pemuda itu. "Aku tahu, Vano. Jangan bersedih. Gitar itu memang awalnya pemberian Pak Joko kan?" kata Pak Tio. "Iya, Pak. Tapi aku harus bekerja. Bagaimana tanpa gitar itu aku bisa bekerja?" "Katakanlah kepa

