RIN PoV Dan akhirnya, kami berada di sini, di teras samping rumahku yang sedikit temaram karena pantulan lampu dari teras depan. Tentu saja setelah Pak Boss ku ini mengajakku dengan sedikit paksaan, yang menjengkelkan, setelah pamit keluar sebentar pada orang tua kami. Dihempasnya lenganku yang sedari tadi dicengkeramnya kuat. “Oohh ... jadi akting kamu untuk mundur dari perusahaan tadi hanya cover, seolah kamu tak tahu tentang rencana Ayah?” Pak Romi menyerbuku dengan pertanyaan yang lebih pada menuduh. Sungguh, ini sangat menyakitkan. “Bapak jangan asal nuduh, ya? Bapak pikir saya tahu bahwa ayah saya dan Pak Chandra saling mengenal?” aku bertanya dengan nada yang kusembunyikan serendah mungkin agar tidak terdengar oleh siapapun yang ada di dalam. Sementara dari dalam terdengar perc

