8. Delapan

1616 Kata

Sian memutar mobilnya dengan cepat, menerjang hujan yang semakin deras. Ekspresi wajahnya penuh dengan kekhawatiran. Berkali-kali menelepon seseorang tetapi tak ada jawaban. "Aish," gerutunya, kakinya menginjak pedal gas dan melaju dengan kecepatan tinggi. Tepat sampai di pelataran SMA harapan, Sian memarkirkan mobilnya sembarang. Ia berlari menerjang hujan yang ditemani oleh suara guntur yang menggelegar. Cowok itu berlari, seragamnya sudah basah hasil lari tadi dari parkiran menuju koridor. Sesampainya di pintu kelas, ia menabrak Anael yang masih berdiri di ambang pintu kelas. Mendapati Biru masih menelungkupkan kepalanya ketakutan. Sian berlari dan memeluk Biru. "Ada gue, ada gue," ujar Sian berkali-kali, untuk menenangkan Biru. Isak tangis Biru kini semakin lirih. Setelah mendenga

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN