Langit siang itu tak terlalu cerah. Bahkan hembusan angin seolah mengabarkan akan turunnya hujan. Ana terus menggerakkan kakinya mondar-mandir, entah apa yang sedang dipikirkannya. Angin membelai rambut perempuan itu dengan bebasnya. "Ini nggak bisa, aku harus segera selesein misi. Aku punya waktu lima bulan lagi, benar kata Mr. Jack, aku harus jauhi Biru," tekad Anael. Panjang umur, orang yang sedang dipikirkannya muncul dari balik pintu. Tanpa disadari oleh Ana yang masih berbicara sendiri. "Apa? pacar? orang nyebelin kayak dia ngaku-ngaku jadi pacarku? oh my god," ucapnya sedikit kesal, "Nggak kayak biasanya, cuek, nggak peduli. Tiba-tiba datang mau menggagalkan misi gue," gerutunya. Biru mendengarnya, kuping yang masih waras membuatnya mendengar semua perkataan Ana. Ia perlahan be

