20. Dua Puluh

1007 Kata

Keduanya terdiam, malu, canggung dan juga salah tingkah. Anael tersenyum tipis, ia menoleh ke arah Biru. Cowok itu terlihat tengah memainkan telapak tangannya. Diraihnya tangan besar itu oleh Anael. "Kenapa?" Biru menepisnya. "Malu," jawabnya singkat. Biru sudah lebih tenang. Malam itu hujan hanya turun sebentar. Keduanya menatap jendela besar yang sudah tertutup gorden berwarna putih. "Hari itu, hujan sangat deras. Gue berkali-kali menolak. Tapi, malaikat maut menuntutku. Hari itu adalah, hari dimana Jack tak bisa hadir, jadi aku yang menggantikannya." Anael mengenang kejadian itu. "Benar, gue yang membunuh Alika," ujarnya lirih. Keduanya kembali terdiam. Sampai Biru membuka suara. "Gue nggak tau, selama ini Alika sakit. Dia selalu menyembunyikannya dari gue. Gue nggak tau, kalo dia

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN