Sudah lebih dari tiga kali Biru mengubah posisinya. Menatap langit-langit kamar, lalu mengedarkan pandangannya tak terarah. Galau, adalah satu-satunya kata yang kini menghuni di pikiran Biru. Ia mencintai Anael namun kepergiannya yang akan membuat Anael bahagia. Bahagia dalam konteks kehidupan abadinya di kayangan. Lagi-lagi Biru mengubah posisi tidurnya. Matanya sudah terpejam, namun tak benar-benar tertidur karena pikirannya terus melayang. "Aish," gerutunya kesal. Pikirannya tak bisa berpikir dengan jernih. Ia menghindari panggilan telepon dari Anael sejak tadi malam. Semalam, Anael terus menghubunginya. Namun, Biru sama sekali tak menjawab satupun panggilan dari Anael. Pikirannya kacau, karena memikirkan gadis itu. "Gue harus gimana?" Biru kini mengubah posisinya menjadi duduk. M

