Wanita bernama Selly, sedang duduk sendirian. Fajar berusaha mendekatinya. Ada rasa kasihan kembali menyeruak mengingat pengkhianatan yang harus di terima di saat terakhir menjelang hari pernikahan. "Siang!" sapa Fajar. Ia menunduk, menunjukkan es kelapa pada wanita itu. Padahal Fajar tidak tahu. Apa es tersebut akan diterima atau tidak. Selama sepersekian detik, tangan Fajar masih menggantung. Ia menunggu esnya diambil. Sementara Selly seperti mematung dan diam. Ia melamunkan sesuatu. Tiba-tiba di pikirannya Fajar seperti pria pemberani yang muncul memberi perhatian di tengah kegundahan hatinya. "Jadi, kamu nggak mau ya?" tanya Fajar memastikan. Rasanya malu, ia pun memutuskan untuk memutar langkah kembali ke Kayla karena Selly masih diam saja. Selly sontak berdiri. "Hey, tunggu!" S

