POV Author
" kamu sudah cari tau tentang anak itu" tanya seorang laki-laki.
" sudah pak, namun ibu panti itu tidak memberikan detailnya pak, katanya data disana bersifat privasi " jawab Ana.
" aku gak mau tau, pokoknya kamu harus cari tau sekarang!!!!" bentak laki-laki itu kepada Ana.
" baik pak" Ana segera beranjak pergi dari rumah tersebut.
Helaan nafas Ana serasa berat, baru kali ini kerjaannya sangat berat baginya. Ia memang orang kepercayaan dari Wijaya Grup, maka kerjaannya sangat tidak mudah untuk ia kerjakan.
" apa yang harus aku lakukan, bos juga sih masalah sudah puluhan tahun juga harus ku cari tau segala" Ana mengeluarkan ponsel dalam saku segera menghubungi seorang detektif untuk segera menyelesaikan pekerjaan itu.
" Halloo, kamu ada tugas segera selesaikan secepatnya, masalah uang nanti aku transfer " Ana mengakhiri panggilannya segera berjalan kearah mobil dan melaju kencang keluar dari kediaman rumah Wijaya Grup.
Terdengar derap langkah kaki kearah kamar yang sangat lama tidak pernah terbuka, perlahan pintu kamar terbuka. ada seseorang masuk berdiri menatap setiap sudut kamar tersebut, banyak tumbukan buku yang tertata rapi disana. Sesaat kenangan di masa lalu muncul.
" mas nanti kalau anak ini sudah lahir mau dikasih nama siapa?" suara perempuan dengan nada manja.
" nanti kita kasih nama Amelia bagaimana?" jawab laki-laki itu.
" kalau Kayla Amelia bagaimana mas?" dengan semangat perempuan itu memberi nama kepada anaknya.
" boleh juga" tangan sang laki-laki mengusap lembut perut buncit sang istri, seketika mendapat tendangan dari sang buah hati.
" dia menendang sayang" ucap sang laki-laki semangat.
Bayangan masa lalu hilang seketika, membuat hatinya terasa sakit ketika mengingat kenangan yang sangat indah bersama sang istri.
" kamu dimana sayang?" tangannya mengusap buku album foto dirinya bersama sang istri.
" kenapa kamu tega meninggalkan aku Stella, kamu pergi membawa anakku!!" teriaknya kecewa.
" kamu tega menghukum ku seperti ini" suara parau terdengar lirih, seketika suasana kamar hening hanya bunyi jam berdetak.
Tangisnya pun pecah, telah lama ia memendam rasa kehilangan yang teramat menyakitkan, kehilangan istri dan juga anak yang ada didalam kandungan sang istri membuat ia sangat terpukul yang teramat dalam.
" aku akan tetap mencari kalian di manapun kalian berada" lalu ia beranjak keluar dari kamar yang memiliki banyak kenangan bersama sang istri tercinta.
Hari berganti bulan dan bulan berganti tahun begitu seterusnya, namun hati yang terluka mampu terobati seiring berjalannya waktu.
" pak hari ini ada meeting penting dengan klein dari Jepang" Ana memberitahu jadwal hari ini.
" jam berapa?" tanya tanpa melihat kearah sekretarisnya.
" jam 9 pagi pak" tak ada jawaban membuat Ana pamit lalu beranjak keluar dari ruangan bosnya.
Nama Wijaya Grup sangat terkenal dikalangan dunia bisnis, seperti biasa banyak perusahaan yang ingin berkerja sama dengan Wijaya Grup karena memang sang pemilik yang sangat cerdas dan ber dedikasi yang sangat tinggi membuat perusahaan berkembang sangat pesat. Bahkan banyak musuh yang ingin menjatuhkan perusahaannya.
" ok saya setuju dengan kerja sama ini, nanti kalau ada berkas yang dibutuhkan minta sekretaris saya pak" metting pun selesai dengan terjalinnya kerja sama.
" baiklah pak selamat bergabung di perusahaan kami, kalau begitu kami permisi" mereka berjabat tangan satu sama lain, lalu pamit untuk melanjut urusan masing-masing.
Kayla berjalan menuju ke kantin bersama dengan Tania, mereka menjadi teman yang sangat akrab walau terbilang pertemuan singkat namun membuat mereka berdua nyaman.
" nanti kamu mau makan apa Tan?" tanya kayla
" soto enak kali ya" jawab Tania.
" boleh tuh, ya udah ayo" kata Kayla berjalan sambil melihat ponselnya membuat ia tak konsentrasi dengan jalan didepannya membuat ia menabrak pak Wijaya.
BRRUUUKKK
" aduhh maaf maaf pak saya gak sengaja tadi saya sedang menghubungi bunda saya" Kayla sambil memohon dan menunduk tak berani menatap bosnya.
" segera keruangan saya!" katanya dingin.
" baik pak" Kayla mengikutinya dari belakang menuju ruangan pak Wijaya.
Kayla pun sampai di depan ruangan CEO mulai mengetuk pintu dan terdengar suara didalam, segera ia masuk ke ruangan. pertama kali Kayla merasa nyaman diruangan ini, dingin, bersih dan juga dapat melihat pemandangan pusat kota dari jendela.
" kamu boleh duduk" ucapnya dingin.
" maaf pak tadi saya benar-benar tak sengaja" ucap Kayla menyesal.
" kamu anak baru disini?" Kayla hanya mengangguk dan menunduk.
" jawab dan lihat saya!" suara lantang membuat Kayla kaget segera menatap pak Wijaya.
" i-ya pak saya baru disini" jawab Kayla terbata.
" nama kamu siapa?" suara Wijaya mulai memelan.
" saya Kayla Amelia" mata Wijaya langsung membulat mendengar pernyataan Kayla.
Wijaya menatap mata itu, persis sekali dengan mata Stella. apa mungkin ini sebuah kebetulan yang sama. sudah sekian lama mencari ke beradaan Stella dan anaknya namun tak dapat menemukan mereka, apa ini yang di namakan takdir dari yang Maha Kuasa mempertemukan dengan anaknya. ' tak salah lagi ini mungkin memang anakku dengan Stella, nama dan mata itu sama persis, tak mungkin ini sebuah kebetulan saja' batin Wijaya.
Sedangkan Kayla menatap pak Wijaya merasa bingung, 'kenapa pak Wijaya menatap ku seperti itu, kaya ada kesedihan didalamnya' batin Kayla.
Wijaya segera tersadar mulai mengontrol dirinya supaya tidak kelihat lemah didepan karyawan nya.
" kamu tinggal dimana?" Wijaya mulai tertarik dalam diri Kayla.
" saya tinggal dipanti asuhan" jawab Kayla apa adanya.
" APA!!" Wijaya kaget dengan pernyataan Kayla.
" ma-af pak apa ada yang salah dengan tempat tinggal saya?" Kayla merasa takut atas bentakan pak Wijaya.
" maaf tadi saya cuman kaget saja dengan tempat tinggal kamu" suara pak Wijaya mulai melemah.
" ya sudah kamu boleh istirahat sekarang" Kayla mulai pamit pergi dari ruangan pak Wijaya.
.
.
.
.
" Ana segera kamu masuk keruangan saya sekarang!" Ana yang mendengar bosnya dengan suara marah membuatnya heran ' apa yang terjadi dengan pak wijaya'batin Ana.
" ba-ik pak" tak butuh lama ana segera masuk keruangan sang bos.
" bisa saya bantu pak" ana menunduk takut kena semprot.
" tolong kamu cari tau tentang anak yang bernama Kayla Amelia sekarang!!" kata pak Wijaya lantang.
" baik pak" ana lalu keluar dari dalam ruangan bosnya.
Dikantin Tania makan sendiri, ia merasa kasihan kepada Kayla tiba-tiba nabrak bosnya segara, 'kalau kaya gini kan bisa berabe' batin Tania.
"Hay Tan" Kayla duduk disamping Tania, ia kaget melihat Kayla tiba-tiba sudah disampingnya.
" sejak kapan kamu di sini Kay?" tanya Tania heran.
" sejak kamu makan sambil melamun" kata Kayla sambil makan.
" tadi kamu ditanya apa sama pak bos?" tanya Tania penasaran.
" tanya nama sama alamat saja" jawab Kayla santai.
" yang benar aja Kay, masak kamu cuman ditanya kaya gitu, perasaan tadi pak bos kelihatan marah sekali" Kayla pun juga merasakan hal yang sama, namun tak ambil pusing, toh ia masih tetap berkerja bisa ngumpulin uang buat kuliah.
" kenapa kamu gak jadi makan Kay?" Tania yang sudah selesai makan melihat Kayla melamun.
" kamu punya masalah Kay" tanya Tania tiba-tiba.
" enggak, emang kenapa?" Tania menatap lekat manik Kayla, " kamu yakin gak ada masalah?" tanya Tania lagi.
" enggak Tan, ada apa sih?" namun Tania merasa Kayla mempunyai masalah yang sangat besar, ia bisa melihat dari sorot mata Kayla.
" mulut kamu bisa bohong Kay, namun mata kamu gak bisa berbohong" jawab Tania
Kayla terdiam terpaku mendengar ucapan Tania, selama ini ia mempunya sahabat Hana tak pernah sekalipun bertanya seperti Tania serasa tak bisa berkutik. Tania benar, ia mempunyai masalah besar termasuk masa depan yang belum bisa melanjutkan kuliahnya, apa lagi ia harus berkerja untuk membiayai kuliahnya sendiri.
" aku sebenarnya kuliah namun tak mempunyai biaya harus berhenti untuk sementara" Kayla mulai cerita tentang masalah yang ia alami saat ini.
" emang sudah semester berapa?" Tania penasaran tentang kisah hidup temannya ini.
" baru semester 1 sih tapi karena gak punya biaya ya jadi cuti untuk sementara" Kayla tersenyum kecut.
" sabar Kay, semua orang hidup pasti mempunyai masalah yang berbeda-beda, panti nanti juga ada jalannya, jangan khawatir ok" Tania berusaha menghibur dan memberi pencerahan kepada kayla.
" terimakasih ya Tan" Kayla memeluk teman yang baru saya ia kenal namun serasa sudah lama kenal.
Diujung lorong pak Wijaya memperhatikan Kayla dan Tania dari kejauhan, ia bisa menilai bahwa Kayla sedang memiliki masalah yang tak bisa ia selesaikan.
" pak ada yang mau saya laporkan" tiba-tiba Ana datang dari arah belakang membuat pak Wijaya kaget.
" bicarakan diruangan saya saja" pak Wijaya segera pergi menuju ke ruangannya.
" apa yang ingin kamu bicarakan" Ana segera menutup pintu berjalan mendekat pak Wijaya.
" ini berkas informasi tentang Kayla Amelia pak" pak Wijaya mengambil berkas lalu melihat satu persatu dan yang menarik perhatiannya Kayla diletakan dipanti pada tanggal 15 April 1995.
" kenapa harinya sama dengan hari perginya Stella waktu itu" batinnya.
bersambung. . . . .