Ari memandang punggung lebar pria itu. Sebenarnya ia enggan melepas tautan tangannya. Entahlah. Rasanya, detak jantungnya berirama dengan sangat baik dan teratur apabila tangan besar itu merangkumi jarinya. Cara pria itu menggenggam tangannya, sambil jempolnya mengusap-usap jempol tangan Ari begitu menentramkan. Suaranya saat membisikkan, "Tidurlah kembali, Neng." Sangat merdu seperti petikan kecapi. Rasanya Opick memang tidak menyadari, tatapan Ari yang tidak berkedip itu terus merekam gerakannya. Dari mulai menggeliat mengusir lenguh, lalu berjalan terseok-seok menuju kamar mandi. Pria itu keluar dengan wajah basah. Rambut basah. Juga bagian depan kaos yang dikenakannya. Tanpa menyadari sepasang mata sipit yang terus mengekorinya, dia mengangkat ujung kaosnya dan melepaskan lewat kep

