Ari pikir ini saat yang tepat untuk menelepon atau menerima telepon dari Opick karena jam di dinding telah menunjukan pukul dua belas siang. Kalau tidak sedang sibuk, biasanya pukul dua belas pria itu pasti menghentikan pekerjaannya. Bukankah tengah hari memang waktu makan siang atau saat bersantai? Belum tentu juga! Opick perlu mempelajari dengan cepat ketertinggalan akibat kasus yang menjeratnya. Dia menjalankan sebuah kerajaan bukan seorang kacung atau pekerja kantoran biasa. Ari menggaruk dagunya dengan ponsel. Dia malah ragu dengan analisis ngawurnya. Jarum jam cepat sekali karena sudah bergulir menuju angka dua puluh. Telepon yang Opick janjikan belum juga masuk. Tadi pagi saat pria itu memakai kemeja dengan sangat rapi, Ari merasa de'javu. Seakan baju rapi itu akan menggiring

