Haidar masih berada di ruang rawat, memilih duduk di sebelah perempuan yang sudah bisa terkikik atau mengomel sekalipun sesekali mengeluh kepalanya pusing. Setelah mama-mama yang berambisi menambah deretan cucu pulang ke rumah masing-masing. Haidar masih setia menemani wanita pujaannya. "Kan, apa lo nggak ada rencana menjalani rumah tangga normal sama gue?" Haidar mengupas buah jeruk dan memberikan pada istrinya, yang sekarang duduk dengan menyandar ke bantal. Kania memicingkan mata. "Maksudnya gimana, ya?" "Masa lo nggak ngerti, sih." Haidar merengek seperti anak kecil sampai Kania mengernyit. "Apa lo nggak capek nambah dosa berbohong terus. Mending kita coba mengikuti kemauan mama-mama." Kania melepehkan isi jeruk seraya memberikan pada suaminya, dan Haidar menerima dengan setenga

