Saat Rara sudah berada di kantor. Sekilas dia melirik ke ponsel yang tergeletak di sebelah keyboard, Rara mengabaikan panggilan dari nomor tak dikenal yang terlihat pantang menyerah. Rara membuang napas kasar merasa terganggu, sedangkan nomor asing tadi muncul kembali di layar seolah tidak akan berhenti. Sambil menggerutu sebal ia menjawab panggilan itu. "Akhirnya kamu angkat juga, Ra." Suara di ujung telepon berdecak lega. "Aku kangen banget sama kamu." Kepala Rara mendadak pusing. Dia merasa napasnya sesak mendengar suara yang sangat dikenalnya. Selama bertahun-tahun dia sudah menghindar berusaha melupakan malam yang paling menyakitkan di hidupnya. "Ra?" "Kamu?" Bibir Rara bergetar sampai tidak bisa berkata banyak. Embusan napas berat terdengar dari ujung telepon. "Sori, tadi aku

