BAB 30 KEKACAUAN KECIL DI ISTANA

2128 Kata
“Dante, temui aku di fasilitas Mercury. Sekarang.” Suara Kapten Skivanov di gelang komunikasi menyurutkan niat Dante menuju lokasi proyek. Ia balik arah, mengendarai kuda besinya sendiri yang berwarna hitam pekat. Hasil 'mengamen' di klub karena ia menolak tawaran Kapten untuk menggunakan motor milik Saturn sebagai salah satu fasilitas yang boleh digunakan para staf. Sampai di depan pintu kaca gedung itu, motor pun diambil alih program AI Eva untuk diparkir di area yang sudah tersedia. Dante masuk dan dilihatnya Kapten Skivanov telah menunggunya di ruang utama. “Ikut aku. Masih ada hubungannya dengan kasusmu kemarin dan penyerangan di dek sayap barat.” Dante menurut. Ia mengiringi langkah berat pria Rusia tersebut, mengikutinya hingga masuk ke dalam sebuah ruang kerja yang lebih lengkap fasilitasnya. “Semua ini, untukmu. Lengkap dengan semua yang kau butuhkan, termasuk kamar tidur pribadi jika kau ingin menghabiskan waktu dengan gadis Eyn itu.” kata Kapten Skivanov menjelaskan. “Eyn Mayra bukan wanita seperti itu. Kami harus menikah bila ingin bersama, tapi tidak dalam waktu dekat.” sanggah Dante cepat. “Sepertinya dia memikirkan banyak hal sebelum menerimamu. Kontrakmu dengan Space DJ Legacy, karier di Saturn Gallant, janjimu menyelesaikan sistem senjata, kepribadian ganda yang kau miliki … benar-benar merepotkan. Wajar saja bila satu saudaranya tidak setuju kau berhubungan dengannya.” “Psikopat lagi? Hei, apa maksud percakapan ini? Lagi pula, dari mana kau tahu tentang Al Hadiid?” Pemimpin Saturn Gallant itu tersenyum namun ditutup genggaman tangannya, rasanya aneh melihat orang itu lagi-lagi senang atas penderitaan Dante. “Oke, biar kuluruskan. Pertama, tentang masalahmu dengan orang dalam di Space DJ Legacy. Central sudah mengurus segalanya setelah melihat siaran langsung konsermu di hanggar semalam. Semua beres, paham?” “Apanya yang beres? Yang kuinginkan adalah mengetahui siapa pengecut biang onar yang menuduhku psikopat tulen. Jika aku tahu siapa dia, hukuman yang dia terima, mungkin aku bisa lega.” tentang Dante tak setuju. “Sifatmu yang kadang harus dituruti akan merepotkan dirimu sendiri. Kita bekerja di bawah sistem. Sistem yang mengatur semua sendi kehidupan agar berjalan seimbang. Logo Saturn Gallant yang kau tunjukkan tempo hari masih lekat di seragammu hingga kini. Itu berarti kau juga berhak mendapat perlindungan selain kewajiban yang harus kau lakukan. Central tahu kau tak bersalah, walaupun yaa … dia meyakini lima belas persen sifat psikopat telanjur membaur dalam darahmu. Dia bilang, yang terpenting, Carlo Dante paham dan melakukan misi utamanya, menjaga perdamaian. Lainnya, tidak penting bagi Central.” Dante merenung. “Begitu?” “Itu pun jika kau percaya padaku.” Kapten Skivanov duduk di atas kursi perak yang tak mampu mengimbangi panjang kakinya. Hal yang sama juga terjadi pada Dante. Keduanya duduk di kursi terpisah yang mengelilingi meja bar. “Apa ini? Bar?” Dante baru sadar. “Yup, tidak ada minuman keras di Saturn Gallant, tenang saja. Kau dan Eyn Mayra bisa memenuhi rak di sana dengan air mineral.” ujar Kapten berkelakar. “Ide bagus, mungkin minuman khas bangsa Eyn lebih baik. Semuanya herbal, semacam itu.” “Benarkah?” “Ya. Lalu, kaitannya tentang Al Hadiid?” “Kami tidak pernah memata-mataimu. Aku dan Central hanya mengamatimu. Situasi pelik antara calon saudara ipar antara kau dan Al Hadiid sudah pasti terjadi. Central bilang supaya kau mesti hati-hati. Al Hadiid sudah diangkat sebagai panglima perang kerajaan Eyn dan bermain otak denganmu adalah perkara sepele baginya. Sekali kau melayaninya, hubunganmu dengan Eyn Mayra terancam kandas.” “Kau dan Central mengamatiku sampai sejauh itu?” “Jelas, sebab kau adalah aset. Eyn Mayra pernah memperingatkanku agar berhenti bersitegang denganmu, atau bangsa Eyn akan memilikimu. Kau pikir Central tidak tahu itu? Pada dasarnya, dia merestuimu, tapi tidak mau kehilanganmu. Jadi pikirkan sendiri, bagaimana Central membereskan masalah kecilmu, orang di Space DJ Legacy yang berniat macam-macam denganmu. Membayangkannya saja aku tidak mau.” “Dan … pertunjukan hanggar? Ide Central juga?” “Tidak. Soal itu bukan urusanku. Ray hanya minta izin dariku dan kukabulkan, itu saja. Kru Soundbuzzter Club bekerja sama dengan para pekerja proyek untuk mewujudkan itu. Mereka rela bersusah payah memulihkan stigma negatif warga Saturn tentang dirimu. Cara itu berhasil. Semuanya selesai dalam waktu semalam. Hebat. Itu sebabnya aku kagum padamu. Tapi, ada satu masalah yang belum terungkap hingga sekarang.” “Serangan di sayap barat. Hanya fasilitas dek yang rusak?” “Shiva, tampilkan layar.” perintah Kapten, dan saat itu juga layar virtual muncul. “Lihat, mereka pemburu profesional. Ninja. Menyerang dan menghilang. Dugaanku, beberapa orang masih hidup dan berbaur dengan warga, bahkan sempat menambah anggota. Entah apa yang mereka cari di dek sayap barat namun satu hal pasti … aku tidak ingin mereka mengotori kapalku dengan darah para staf keamanan. Cari dan habisi mereka, Dante. Bukankah spesialisasimu tidak jauh dari itu? Tidak seorang pun yang mampu melacak mereka dalam waktu cepat sebaik dirimu. Aku mengandalkanmu.” “Tidak bisa. Aku sibuk.” “Apa?” “Pekerjaan di proyek dan Ray sudah memberiku jadwal manggung. Tolong hargai juga privasiku bertemu Eyn Mayra. Aku … butuh kencan.” pinta Dante sedikit memelas. Bola mata Kapten Skivanov berputar. Itu hanya alasan. “Baiklah. Sayang sekali. Padahal ini adalah perintah Central. Bila kau sukses, seragam Saturn Gallantmu akan diganti ke level premium. Seragam premium sama dengan kenaikan status dengan level yang sama. Itu artinya tak seorang pun yang akan berani macam-macam denganmu. Tapi berhubung kau menolak …. ” Ia bangkit dari kursi, berharap Dante berubah pikiran. “Oke, aku setuju. Aku melakukannya bukan demi status, melainkan Central. Aku melakukan ini untuknya.” Kapten Skivanov diam sesaat, taktiknya berhasil. “Tentu. Lakukan saja tugasmu dan kabari aku bila berhasil menemukan sesuatu.” Fasilitas baru sekaligus tugas tambahan yang menantang. Dante memandang ke sekitar ruangan setelah kepergian atasannya. Bagus, lebih mewah daripada kamar lamanya. Meresapi kenyamanan dan kehangatan tempat ini menyadarkannya bahwa ia tidak bisa menikmatinya sendirian. Seorang pengantin, dan wanita itu adalah Eyn Mayra. Eyn Mayra yang selalu setia menunggunya sambil berlinang air mata. Kira-kira, bagaimana kabarnya sekarang? Setelah berminggu-minggu berkutat dengan urusannya di Saturn, seharusnya Eyn Mayra tidak keberatan jika ia menghubunginya. Mata Dante terpejam. Telepati atau kekuatan pikiran jarak jauh menghubungkan dirinya dengan pikiran Eyn Mayra namun gagal. Seharusnya tidak begini, maka jalan terbaik adalah menemuinya langsung melalui teleportasi atau kemampuan berpindah tempat dan roh pedang Zeal sangat mampu mewujudkan itu. Dengan masih mengenakan seragam Saturn Gallant, Dante mengendap-endap di istana kekasihnya sendiri. Alasannya sederhana, ia tak mau terlihat oleh Al Hadiid yang juga tinggal di istana Eyn Mayra untuk menjaganya. Dugaannya tidak meleset. Sore itu Eyn Mayra sedang bersama adik laki-lakinya itu di teras istana. Sepertinya Al Hadiid hendak pergi. Ia pamit dan langsung berjalan menghilang melalui teleportasi. Tanpa Al Hadiid, siapa yang menjaga Eyn Mayra? Lalu muncul laki-laki lain. Orang berserban itu lantas berlutut di depan Eyn Mayra, menghormat padanya. Siapa? Beragam pertanyaan muncul silih berganti di kepala Dante hingga ia memutuskan untuk mencari tahu sendiri. Ia harus lebih dahulu mencapai kamar Eyn Mayra namun serombongan pasukan Eyn menghentikan niatnya. Salah satu dari mereka melapor pada pria yang menggantikan tugas Al Hadiid menjaga Eyn Mayra. Dante mencuri dengar dari tempatnya bersembunyi. “Tuan Ramshad, seluruh pasukan siap. Yang Mulia? Silakan.” “Baik, tapi hanya sebentar. Aku tidak akan sanggup menonton pertunjukan pertarungan Ramshad.” Eyn Mayra berdalih. Busananya memang lain dari biasanya, tanda akan mengikuti suatu acara. “Tentu, kehadiran Anda saat awal upacara sudah cukup.” terang sang pengawal bernama Ramshad tersebut. Tanpa menunggu lama, keduanya bergabung dengan pasukan, sementara sang putri naik kereta kuda yang tertutup. Dante berpikir cepat. Ia harus bicara dengan Eyn Mayra walau sebentar sebab waktu yang terbatas. Tugas baru dari Kapten Skivanov juga menunggu sedangkan ia benar-benar rindu. Ramshad dan seluruh bawahannya naik kuda yang terbuat dari logam. Mengenakan zirah, ia terlihat gagah. Sayang, Al Hadiid Sang Panglima Perang berhalangan hadir sehingga untuk sementara digantikan kakaknya. Kudanya mengiringi kereta kuda Eyn Mayra. Perjalanan masih cukup jauh menuju halaman istana raja ketika tiba-tiba mereka dikejutkan suatu suara. Pohon berukuran sedang tiba-tiba ambruk tanpa alasan, menghalangi perjalanan. “Singkirkan, kita tak punya waktu mencari tahu penyebabnya.” perintah Ramshad. “Baik, Tuan!” Maka seluruh pasukan pengiring turun dari kuda, bekerja sama mengikatkan pohon dengan kuda mereka agar tidak lagi merintangi jalan. Saat itu pulalah, kala mereka lengah, Dante naik dan masuk ke dalam kereta kuda Eyn Mayra dan langsung menutup pintunya. “Dante! Apa yang kau lakukan? Ramshad akan membunuhmu!” Eyn Mayra nyaris berteriak histeris. “Ssstt! Aku hanya akan menciummu, setelah itu pergi.” “Tidak! Sudah kubilang, pernikahan …. ” Eyn Mayra berjuang sekuat tenaga agar rahang itu tak menyentuh kulitnya, apalagi bibir lelaki itu yang sangat ingin mencumbunya. Walau demikian, ia tahu bahwa Dante hanya pura-pura. Mereka menahan tawa, tapi guncangan halus kereta mana mungkin luput dari kewaspadaan Ramshad. Pintu kereta dibuka dan ia mendapati junjungannya hendak diperlakukan tidak hormat oleh seorang pria asing yang datang entah dari mana. “Ramshad, ia bukan …. ” bela Eyn Mayra menengahi. “Turun! Beraninya kau! Untuk perbuatanmu ini, kau harus mati!” teriak Ramshad tak peduli, apalagi mendengarkan kata-kata Eyn Mayra. Pedang besarnya sudah terhunus ke leher Space DJ itu. “Baik, aku turun.” Sesaat sebelum menginjakkan kaki ke tanah, Dante sempat mengedipkan mata pada kekasihnya. Eyn Mayra benar-benar tak habis pikir mengapa Dante senekat itu hanya demi menemuinya. Sedikit demi sedikit, hatinya mulai luluh. Benarkah bahwa segala ketakutan menikah dengan pria itu tidak beralasan? Ia sungguh cemas, Dante belum tahu dengan siapa dia berhadapan. Pintu kereta ditutup. Selanjutnya, Eyn Mayra bisa merasakan kereta kuda kembali bergerak. Kira-kira, apa yang akan dilakukan kaki tangan Al Hadiid itu terhadap Dante? Sepanjang perjalanan, ia cuma bisa berdoa. Sampai di halaman istana raja, suasana sangat ramai. Rakyat hanya diperkenankan melihat upacara pengangkatan Ramshad dari batas luar istana. Sementara di halaman, ratusan pasukan telah siap mengikuti jalannya upacara. Turun dari kereta, Eyn Mayra cemas, Dante tak terlihat di manapun jua. Kehadiran raja memulai upacara. Acara demi acara dilalui dengan khidmat. Semula ingin pulang cepat, Eyn Mayra membatalkan niatnya. Ia harus tahu, ke mana Ramshad membawa kekasihnya, dan pertanyaan itu terungkap sudah. Mendadak tubuhnya lemas seketika. Dante terlihat digiring menuju arena pertarungan. Sesuai tradisi, seorang pengawal yang naik pangkat seperti Ramshad harus menunjukkan kemampuannya. Ia harus menang bertarung dengan musuh pilihannya. Kebetulan, ‘musuh’ kali ini memang pantas dijadikan sasaran empuk. Carlo Dante, siapa yang sanggup menahan keinginan untuk bertarung dengannya? Di tempat duduknya, Eyn Mayra gusar. Ditatapnya Eyn Rasyid lalu berdiri menghormat padanya. “Yang Mulia, itu Dante.” ucap Eyn Mayra gugup, jarinya menunjuk-nunjuk. Emosinya nyaris meledak, namun apa daya, ia  hanya wanita biasa. “Aku tahu, tapi Dante setuju tawaran Ramshad.” jawab Eyn Rasyid tenang. “Tawaran? Itu ancaman! Ramshad berniat menghukum Dante!” “Atas tuduhan apa?” Eyn Mayra terdiam. Dalam hal ini, Dante memang bersalah, begitu bodoh karena tak mampu menahan hasrat berjumpa dengannya. Sedangkan Eyn Rasyid yang menangkap kebingungan Eyn Mayra, berusaha menenangkannya. “Bila Dante menang, tidaklah sulit meyakinkan rakyat bahwa dia adalah kesatria Eyn yang memiliki kekuatan roh pedang Zeal. Sekarang, semua tergantung padanya.” Mendengar ucapan kakaknya, Eyn Mayra kembali duduk. Lututnya lemas. Mengapa ini harus terjadi? Pertarungan pun dimulai, ia hanya sanggup menyaksikan ‘pembantaian’ itu melalui sela-sela jemarinya. Ramshad memang cerdas dan kuat. Itu sebabnya kariernya cepat melesat sehingga dikukuhkan menjadi pengawal terbaik istana. Dengan demikian, posisinya langsung berada di bawah sang panglima perang. Dalam waktu singkat, serangannya menyasar beberapa bagian tubuh Carlo Dante tanpa kenal ampun. Ciri khas serangan bertubi jelas tak disangka-sangka. Setelah cukup lama mengalah, giliran Dante menyerang balik. Tentu saja, tanpa menggunakan kekuatan Zeal. Ia benar-benar menikmati pertarungan ini. “Busanamu sudah tidak layak. Kau boleh menggantinya bila mau.” kata Ramshad bijak. “Huh, satu-satunya yang kupikirkan hanya memberimu sedikit luka kenang-kenangan pada hari istimewamu ini. Lagi pula, Kapten bilang aku boleh menghajar seseorang. Seragam ini adalah kebanggaan. Ayo maju!” Ramshad melakukan seruan Dante yang sedikit oleng. Ternyata itu cuma taktik! Dante justru dalam kondisi terbaiknya. Kecepatan serangan baru terasa setelah Ramshad lengah hanya sekian detik. Kaki jenjang Dante menendang perut, lalu jurus hantaman tumit bersarang di d*ada dan lutut. Ramshad tersungkur, tetapi masih bisa bangkit. Membetulkan kembali untaian serbannya yang terlepas dari wajahnya. Tepuk tangan riuh penonton riuh terdengar. “Yang Mulia Al Hadiid memberitahuku agar tak segan-segan melukaimu bila bertemu denganmu. Kini aku tahu, mengapa dia menghormatimu sebagai lawan tanding. Kau memang luar biasa, Carlo Dante.” Malas mendengar nama itu, Dante juga sedang tak berminat membangun percakapan. “Kita lanjutkan. Aku tidak butuh pujian menyesatkan!” Betapapun Ramshad mencoba menyerang Dante dari segala arah, usahanya sia-sia. Ia sengaja dibiarkan menang pada awal pertarungan supaya Dante membaca gaya dan waktu serangan. Sayang, saat Ramshad menyadari itu, semua telah terlambat. Kesadarannya sontak lumpuh ketika Space DJ Saturn Gallant itu menghempaskan tinju sikunya. Ia pun ambruk.   **** 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN