Berhasil Terbebas

1351 Kata
"Jadi kau tidak percaya kepadaku? Aku sendiri yang memeriksanya. Midas sudah tidak bernyawa. Bahkan ada wasit yang berada di sebelahnya. Untuk apa kau tidak percaya kepadaku, Dad? Kau pikir aku sudah berbohong padamu?" "Ayolah Abdul. Jika kau tidak bersalah, untuk apa kau takut? Aku hanya ingin memastikan saja. Bagaimana keadaan mayat itu. Karena aku melihat dengan jelas peluru itu tidak mengenainya." Aku mendengar seseorang mulai membuka pintu truk ini. Apa yang harus aku lakukan. Tidak mungkin dia akan memeriksa aku. Kali ini aku benar-benar akan tamat. Jika dia sudah masuk dan melihatku masih bernapas, aku akan kembali di bawanya untuk ke dalam. Aku tidak akan pernah terbebas dari pertarungan ini! "Midas! Aku ingin menemuimu. Biarkan aku ke dalam dan memeriksanya. Dia pasti masih hidup. Dia pasti tidak mati. Aku sangat yakin. Aku tidak ingin kehilangannya. Tolonglah! Kalian, jika kalian tidak mau membuat aku menemuinya, aku akan membuka mulutku dan menceritakan semua keadaan yang ada di sini!" Aku mendengar suara Ana dengan sangat jelas. Namun, aku sangat resah. Kenapa dia sempat mengancam Dad seperti itu? Ini akan sangat membahayakan bagi nyawanya. Semoga saja Roy bisa menangani hal ini di luar. Aku benar-benar tidak bisa berbuat apa pun. Jika aku berlari dari sini ini, aku malah akan menjadi buronan. Saat dia benar-benar membuka pintu truk ini, lebih baik aku diam dan menunggu. "Ana, apa yang sudah kau katakan? Sudah jelas-jelas Midas terkena tembakan. Lukanya terlihat sangat jelas. Aku tadi sudah mendekatinya. Untuk apa aku bohong. Kau bisa menanyakan kepada Abdul dan Wasit itu. Mereka melihatnya. Peluru itu sangat kecil. Tidak mungkin kita bisa melihatnya dengan jelas. Walaupun kita tidak menembaknya dengan tepat, namun peluru itu telah mengarah ke jantung Midas. Tentu saja dia pasti sudah mati. Kau harus menerimanya, Ana." Ucapan Roy yang dengan jelas aku dengar. Namun, aku tidak mendengar suara yang lain. Apakah mereka diam dengan perkataan Roy? Apa Dad tetap ngotot untuk memeriksa aku? Itu adalah sesuatu yang tidak boleh terjadi. Kenapa Abdul diam saja dan tidak mengatakan sesuatu? Perasaanku sangat tidak enak. Ayolah, siapa pun. Katakan sesuatu! "Tapi, aku sangat mencintainya, Roy. Kenapa kalian sangat tega kepadanya? Dan kau yang memiliki tempat ini. Lihatlah! Dia sudah memenangkan dua pertandingan berturut-turut. Pasti uangmu sudah sangat banyak masuk ke dalam rekening. Kenapa kau masih saja mengungkitnya? Padahal dia sudah tidak bernyawa. Biarkan aku membawa mayat itu. Kau tahu sendiri aku tidak akan pernah berani untuk mengungkap identitas kalian, karena pasti kalian juga akan menghabisiku. Tapi, aku mohon. Aku ingin mengubur jasad Midas dengan sangat baik. Hal itu juga tidak akan merugikan kalian!" Ana kembali berteriak kencang. Aku sangat bergemetar. Semoga saja Ana baik-baik saja dan tidak mendapatkan kemarahan Dad. Tapi aku sedikit heran dengan perkataan Ana barusan. Sepertinya Ana dan Roy telah merencanakan sesuatu untuk membuat Dad tidak membuka pintu truk ini. Aku sangat yakin Abdul sudah mengatakan kepada mereka, jika ini adalah salah satu rencananya. Aku bisa bernapas lega jika itu yang terjadi. Dan, sepertinya memang benar. "Ayolah Dad. Apa yang dia katakan memang benar. Untuk apa kau mendekati mayat yang sudah sangat bau seperti itu? Kau sendiri tahu. Jika kau melihat mereka, kau pasti akan mual dan muntah. Sekarang kau pasti memiliki uang yang sangat banyak, karena uang dari semua yang bertaruh Itu otomatis masuk ke dalam rekeningmu." Akhirnya Abdul mengatakan sesuatu. Ini semakin membuatku lega. "Baiklah, aku tidak akan mengurusi masalah yang sangat ribet seperti ini. Argh, masih banyak petarung hebat diatas Midas yang bisa aku dapatkan. Aku akan membalas Bram. Yah, lelaki itu yang sudah membuat gedung pertarunganku ini hancur dalam sekejap. Cepatlah pergi dan kembalilah dengan cepat, karena kau tau sendiri, Abdul. Aku tidak suka menunggu!" Kali ini aku bisa benar-benar bernapas lega. Mereka berhasil membuat Dad pergi dan petugas itu sudah mulai menyalakan mesin. Aku merasakan getaran dan pastinya truk ini sudah melesat di jalanan. Di dalam truk aku terdiam. Tidak aku sangka kini aku terbebas. Setelah ini, aku memiliki tugas dan beban yang lebih berat dari pada semuanya. Mengurusi tunangan Ana yang sudah menjebaknya dengan sangat menjijikkan. Lalu aku akan kembali mencari Dokter Alberth agar dia membantuku kembali masuk ke dalam universitas itu untuk membantuku menyelesaikan kuliah yang sudah dia janjikan kepadaku. Semua tidak akan mustahil. Pasti aku bisa meraihnya. Truk dalam sekejap berhenti. Aku kembali memejamkan kedua mataku sambil tengkurap. Kedua petugas segera membuka pintu truk dan menyeret tubuhku begitu saja. Aku sedikit mengintip keluar. Ternyata aku berada di dalam hutan. Namun, aku tidak melihat siapa pun. Apakah Roy Ana, dan Abdul sudah mengikuti truk ini? Atau mereka tidak melakukannya? Yang terpenting aku sudah terbebas dan aku akan segera berlari ketika petugas itu benar-benar pergi. Mereka melempar tubuhku begitu saja di dalam air yang berada tidak jauh dari sungai. Ternyata aku melihat beberapa mayat yang tergeletak di sini. Jadi ... ini adalah pembuangan mayat yang ternyata sering mereka lakukan? Hah sangat mengerikan! Tidak aku sangka mereka benar-benar kejam. Aku melihat semua mayat ini sangat mengerikan di sini. Apakah aku harus melaporkan ini semua ke kantor polisi? Tapi, bagaimana dengan nasib Abdul? Dia sudah berhutang budi banyak kepadaku. Tapi, jika aku membiarkannya. Apakah sungai ini akan dipenuhi mayat lagi? Aku segera pergi setelah kedua petugas itu meninggalkanku. Aku berjalan dengan perasaan yang sangat gelisah. Tidak aku percaya ada orang yang sangat kejam seperti Dad. Dia menghalalkan semua cara untuk mendapatkan uang yang sangat banyak. Apakah aku berhak menggunakan uang itu? Kini aku merasa bersalah. "Midas! Kau ternyata ada di sini? Aku mencarimu ke mana-mana!" teriak Ana berlari dengan cepat, lalu memelukku. Roy yang di belakangnya, mengatur napasnya yang terengah-engah. Aku sangat senang sekali melihat mereka. Namun aku tidak melihat Abdul bersama mereka. "Kau tahu, jantungku hampir saja keluar dari tubuhku ini ketika melihatmu tergeletak seperti itu. Padahal awalnya aku tahu jika kau sebenarnya tidak terkena oleh lesatan peluru itu. Untung saja Abdul menceritakan semua rencananya saat berada di ruangan, dan dia memang benar-benar orang yang bisa dipercaya.Yang terpenting kau sudah terbebas Mudas. Dan, jangan pernah menunjukkan dirimu lagi di depan Dad. Atau semua orang yang berhubungan dengan pertarungan itu. Kau sebaiknya mendengarkan apa yang aku katakan," ucap Roy dengan tegas sambil memberikan pelototan tajam. "Midas apa yang dikatakan Roy itu benar. Sebaiknya kita pergi dari sini. Ayo kita masuk ke dalam mobil." Ana menarik lenganku dengan sangat kuat. Aku mengikutinya, dan kali ini kami berdua duduk di belakang. Sementara Roy mengendarai mobil dengan sangat serius. Dia menambah kecepatan sangat tinggi. Mungkin dia ingin cepat-cepat sampai di apartemen dan terbebas dari ini semua. Ana segera membuka tas ranselnya dan mengeluarkan kapas yang dia berikan sedikit cairan steril. Dia mengusapkan ke semua tubuhku yang sudah terluka. Cairan itu sangat perih. Aku harus menahannya. Aku semakin menatap wajah Ana. Dia membersihkan semua luka ini dengan wajah sendunya. Ana, aku masih selamat dan aku sudah terbebas dari pertarungan mengerikan itu. Tolong jangan memberikan aku pandangan seperti itu. Karena aku tidak bisa melihatnya. Kau adalah orang yang sangat cantik yang aku cintai. Perlihatkan senyuman untuk membuat hatiku bahagia kali ini. "Bagaimana bisa aku memberikan senyuman, sementara kau mengalami hal tragis seperti ini. Sebaiknya kau menunda untuk melihat senyuman yang ada di wajahku," balasnya dengan sangat kesal. Dia melanjutkan mengusap semua lukaku ini. Aku memegang tangannya. Dia kini menatapku kembali.dengan sangat serius. Ana, aku akan memberikan pelajaran kepada tunanganmu itu. Namun kita akan memberikan pelajaran dengan cara halus. Aku akan mendatangi kedua orang tuanya dan mengatakan, jika dia sudah berani melecehkanmu. Sebelumnya kita harus menceritakan itu kepada kedua orang tuamu. Mereka pasti akan memutuskan hubungan. "Apakah yang kau katakan itu akan berhasil? Tapi sebelumnya aku ingin memeriksa dulu kesucianku ini. Harus aku lihat. Roy, bisakah kau antar aku ke dokter wanita itu sekarang juga?" "Ini sudah sangat malam. Kita sebaiknya ke sana besok saja. Untuk pergi ke sana?" jawab Roy masih dengan sangat serius mengendarai mobilnya. Sementara mengernyit, sangat kesal Roy menolaknya. "Roy, mana bisa aku aku bertahan dengan situasi seperti ini? Aku mohon. Bawalah aku ke sana. Aku ingin melihat diriku. Lagi pula di sana pasti banyak sekali obat. Dia juga bisa menolong Midas dengan semua lukanya." "Kenapa aku tidak bisa menolak apa yang diminta oleh wanita? Baiklah kita akan pergi ke sana." Ana merasa lega mendengar Roy menyetujuinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN