Aku semakin terpaku. Rasanya tubuhku tidak bisa bergerak. Bram dalam beberapa detik akan menekan pelatuk itu. Aku harus bertindak. Tidak mungkin aku diam saja dan menerima peluru itu menembus jantungku. Dengan cepat aku melompat ke arah Wasit dan menggelundung ke bawah.
Dor!
Suara letusan terdengar sangat keras. Aku spontan melakukan hal yang benar. Segera menghindar sebelum dia benar-benar melesatkan peluru itu.
Keributan semakin terjadi. Suara lesatan yang sangat keras itu membuat semua penonton berhamburan keluar dari gedung. Dad sangat kebingungan dan memegang kepalanya. Sementara Roy dan Ana berlari mendekati ring. Namun, beberapa petugas mencegah mereka untuk masuk ke dalam kecuali Abdul. Dia menarik tubuhku agar terpisah dari tubuh wasit itu yang masih saja aku tindih.
Saat Abdul menarik tubuhku, dia segera mengoleskan cairan merah tepat di jantungku. Aku tidak mengerti dengan perlakuannya. Apakah dia akan membuat aku seolah-olah terkena tembakan itu? Dan, mereka semua mengira jika aku sudah mati?
"Midas, dengarkan. Kau harus berpura-pura mati. Ini sudah aku persiapkan. Apa kau mengerti? Aku tadi berusaha mempengaruhi lelaki itu agar melesatkan pelurunya saat kau memenangkan pertandingan ini. Dan, dia melakukannya. Ini bagian dari rencanaku. Dari pada kau akan mengalami kekalahan di pertandingan ketiga, lebih baik kau kehilangan nyawa dengan cara seperti ini. Sekarang tutup kedua matamu dan jangan bernapas jika semua orang mendekatimu." Abdul meninggalkanku dengan cepat setelah berbisik.
Aku segera memejamkan kedua mataku. Aku akan mengikuti perkataan Abdul. Tapi, apakah dia sudah mengatakan semua rencananya kepada Roy dan Ana? Karena aku melihat mereka sangat panik. Bahkan Ana terus berteriak memanggil namaku. Bagaimana jika mereka mengira aku benar-benar mati?
"Biarkan aku masuk! Aku hanya ingin menemui Midas. Pasti dia sudah terkena peluru itu. Aku ingin masuk. Kenapa kalian tidak mengizinkan aku?" teriak Ana dengan sangat kencang.
Roy segera menariknya agar menjauh dari ring yang dipenuhi dengan kawat berduri itu. Apalagi semua petugas sudah melotot ke arahnya dan melarang.
"Kalian berdua percuma berteriak. Tidak akan bisa menyelamatkan petarung itu yang sudah kehilangan nyawa. Kalian ikut denganku. Tidak perlu ada yang harus kalian lihat karena ini adalah aturan," ucap Abdul membuat Ana terkejut.
"Apa? Jadi Midas benar-benar terkena peluru itu? Aku ini seorang dokter. Aku bisa mengambil peluru itu dari tubuhnya. Aku yakin dia masih hidup. Aku tidak akan pernah membiarkannya. Roy, lepaskan aku dan biarkan aku masuk ke dalam!"
Ana terus meronta. Dia tetap memaksa untuk masuk ke dalam. Roy memaksanya agar tidak melakukan hal itu dan tetap mendekapnya erat. Aku sebenarnya sangat cemburu ketika dia sangat dekat dengan Ana. Tapi aku harus menahan rasa itu dan tetap berpura-pura mati.
Aku melihat Abdul mengarahkan Roy agar memasukkan Ana ke dalam ruangan, lalu dia mendekati Dad yang segera menghampiri Bram. Dia sangat marah dan dia sudah tidak peduli lagi jika Bram adalah pelanggan yang selalu memberikan taruhan sangat banyak di pertandingannya.
"Apa kau sudah tidak waras memainkan senjata api di sini? Lihatlah semua penonton itu! Yah, mereka semua sudah pergi. Tidak ada yang tersisa di sini. Kau seharusnya tidak melakukan itu. Kau sekarang tidak akan pernah bisa masuk ke dalam sini, karena aku tidak akan pernah membiarkannya. Kau sudah membuatku rugi sangat banyak. Padahal aku selalu menyambutmu saat datang. Apa yang sudah kau lakukan? Dasar laki-laki tidak tahu diri!"
"Jaga ucapanmu! Bagaimanapun juga, aku ini adalah pelangganmu yang sangat setia. Aku juga bisa membuat semua pertandingan ini berhenti. Atau, membuat dirimu bangkrut. Jangan pernah membentakku seperti itu!" balas Bram dengan sangat keras sembari menunjukkan jemarinya tepat di wajah Dad yang segera menampiknya.
"Hahaha. Sangat lucu. Kau, silakan saja. Lakukan apa yang barusan kau katakan! Karena aku akan menghabisi nyawamu, sebelum kau melakukannya." Dad masih saja menatap Bram sangat tajam.
"Ingatlah! Jika kau bermacam-macam denganku. Aku akan benar-benar membuatmu menyesal!" ancam Bram sebelum dia berlalu bersama para pengawalnya. Sementara Dad terus memegang kepalanya. Dia sangat frustasi melihat semua penonton dalam sekejap hilang dari gedung pertarungan ini. Apalagi semua pelanggannya yang sudah datang jauh-jauh dari Rusia juga menghilang.
"Aku benar-benar bangkrut dan ini sudah membuatku kehilangan semuanya. Aku sangat rugi miliaran rupiah," gumamnya terus mengamati semua arah. Lalu kedua matanya menatapku yang masih berada di dalam ring sambil tengkurap. Sementara wasit yang semula ada di sebelahku, sudah pergi entah ke mana.
"Dad, sebaiknya aku membawa mayat Midas keluar. Tidak baik jika dia ada di sini. Karena lesatan peluru itu pasti akan terdengar dari luar. Aku sangat takut jika seseorang memanggil aparat kepolisian dan ke sini. Kita akan benar-benar masuk ke dalam penjara. Kau tidak akan bangkrut lagi, tetapi akan terpuruk di sana karena kesalahanmu. Pasti akan sangat banyak hukumanmu. Pertandingan ini ilegal."
Dad terdiam setelah mendengarkan perkataan Abdul. Mereka berada di luar ring tidak jauh dari posisiku sekarang. Suara mereka cukup jelas. Aku masih terdiam sambil tengkurap, hingga akhirnya Dad melambaikan tangannya kepada beberapa petugas. Pasti mereka ditugaskan untuk mengangkut tubuhku keluar dari sini. Aku berharap itu yang dia perintahkan.
"Baiklah, cepat angkut mayat itu dan singkirkan. Aku akan kembali memikirkan cara untuk membuat pertandingan ini kembali beroperasi." Dad segera pergi dari sana.
Aku melihat Abdul menarik napas panjang. Dia sepertinya. Dia sudah sangat berhutang budi kepadaku. Dan, dia berkali-kali menolongku. Aku tidak tahu harus membalasnya bagaimana. Namun, aku tetap harus melakukannya.
Beberapa petugas kembali masuk ke dalam ring. Mereka sudah mengangkat tubuhku keluar, lalu memasukkannya ke dalam truk. Baunya sangat busuk. Ada bekas cairan merah yang masih sangat segar. Bau itu pasti milik para petarung yang sudah tidak bernyawa. Entahlah mereka akan membuangku ke mana.
"Roy, aku tidak mau kehilangan Midas. Aku hanya ingin mau bersamanya. Lihatlah, dia terkena peluru itu dan mengeluarkan cairan merah di tubuhnya yang sangat banyak. Aku sangat yakin dia pasti masih bisa tertolong. Biarkan aku bersamanya," ucap Ana yang semakin jelas aku dengar. Ternyata mereka berada di sebelah truk yang sudah mengangkutku. Tapi, apa yang harus aku lakukan agar mereka mengetahui Aku di sini?
"Sudahlah, Ana. Kita akan pergi ke tempat yang sudah Abdul berikan. Kau jangan berpikiran macam-macam. Karena aku yakin Midas baik-baik saja. Sekarang masuk ke dalam mobil dan kita akan menunggu ke sana."
Jadi Abdul sudah memberitahukan mereka tentang keberadaanku nantinya? Hah, syukurlah akhirnya aku sudah terbebas dari pertarungan mengerikan ini. Dan ... ini memang benar-benar berkat rencana Abdul.
"Bawalah truk ini segera pergi. Jangan pernah berhenti seperti biasanya karena itu bisa sangat mencurigakan," ucap Abdul kepada petugas yang mengendarai truk ini. Dia pasti menepukkan tangannya di pintu truk ini sebagai tanda untuk berangkat. Suaranya sangat keras.
"Tunggu Abdul! Aku harus memeriksa keadaan Midas sekali lagi. Aku baru saja melihat kamera cctv. Aku tidak melihat Bram menembus jantung Midas. Tapi kenapa dia terluka seperti itu? Abdul! Apakah kau akan menjelaskan sesuatu kepadaku?"
Apa? Kenapa Dad bisa mencegah seperti itu? Bagaimana jika dia masuk ke dalam lalu mengetahui aku masih hidup? Apa yang harus aku lakukan? Ini tidak boleh aku biarkan terjadi. Aku harus memikirkan cara untuk segera kabur dari sini!