Bram ternyata ada di sini. Apa yang terjadi? Kenapa dia bisa baik-baik saja seperti itu? Padahal tadi aku sudah menghajarnya sampai habis. Bahkan dia bersama petarung wanita itu sangat tidak berdaya ketika aku meninggalkannya. Dia sekarang bisa tersenyum menatapku seperti itu. Aku benar-benar sudah sangat hancur. Hah, dia berhasil menemukanku!
Suara penonton semakin bergemuruh memanggil sebuah nama. Itu pasti adalah petarung yang akan aku lawan hari ini. Semoga saja dia tidak petarung yang cukup besar dan sangat hebat. Atau, berpengalaman seperti petarung sebelumnya. Jika dia memang seperti itu, akan membuatku kalah di pertandingan awal. Dan ... aku sangat berharap itu tidak akan terjadi kembali.
Apa? Aku akan tamat!
Ini memang benar-benar sangat luar biasa. Aku melihat seseorang bertubuh sangat tinggi, tegap, seperti pilar yang sangat kokoh Bahkan tingginya melebihi diriku. Kini aku benar-benar terlihat sangat payah.
Petarung itu mengamatiku dengan tersenyum sinis. Dia sudah bersiap untuk menghajarku sampai habis. Aku menarik napas panjang, bersiap untuk mencari titik kelemahannya kembali. Hanya itu yang bisa aku andalkan. Jika tidak, aku akan benar-benar kalah sebelum pertarungan terakhir. Itu tidak boleh terjadi!
"Kalian berdua tidak boleh bertanding sebelum aku memberikan aba-aba. Jangan pernah melanggarnya, karena aku tidak akan pernah menerima sebuah pelanggaran," ucap sang wasit dengan sangat tegas. Aku menganggukan kepala, sementara lawanku hanya terdiam terus menatapku dengan senyuman sinis. Aku seperti seorang mangsa yang akan diterkamnya dalam seketika!
Bel ring sudah dengan sangat kencang berbunyi. Petarung itu tidak memberikanku kesempatan. Dia berjalan dengan cepat menghampiriku dan menghantamku, "buk!" Hingga aku terhempas ke kiri.
Argh. Aku tidak boleh kalah!
Aku segera menahan tubuhku agar tidak mengenai pagar ring ini yang dipenuhi dengan kawat berduri. Dengan cepat aku melangkah maju ke depan.
"Midas! Jangan sampai kau kalah. Cepat lawan dia! Cepat cari titik kelemahannya seperti yang kau lakukan sebelumnya!" teriak Abdul dari luar ring. Aku hanya menganggukkan kepalaku. Namun, sebaiknya dia tidak meneriakkan hal itu. Karena akan didengar oleh lawanku. Gawat! Dia akan mengetahui apa yang aku rencanakan.
"Midas! Jangan pernah kalah!" teriak Abdul sekali lagi. Roy dan Ana yang berada di sebelahnya menatapku dengan pucat pasi. Mereka sangat tegang.
"Jadi kau akan mencari kelemahanku dan mengajarku? Hahaha. Itu tidak akan pernah aku biarkan."
Sudah terlambat! Apa yang sudah diteriakkan Abdul didengarnya. Aku hanya terus menghindar darinya. Aku seperti mangsa yang terus dikejarnya tanpa ampun! Ketika aku memukul wajahnya, dia sama sekali tidak bergerak!
Buk!
Pukulan yang sudah aku lontarkan itu tetap saja tidak membuatnya dia bergeser sedikit pun. Dia sangat kuat. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana mengatasi lawanku ini!
Buk!
Kini tangannya yang sangat kekar itu berhasil mengenai perutku sebelah kanan.
Argh!
Aku menekannya dengan sangat keras. Rasanya sangat sakit. Bahkan aku hampir saja kehilangan pandanganku. Aku segera mengerjapkan kedua mataku berkali-kali agar aku tetap tersadar. Aku harus fokus! Aku tidak boleh kalah. Aku akan mencoba menghindar dan memukul tengkuk lehernya. Siapa tahu dia bisa kalah jika aku melakukannya.
"Kau, akan mati sekarang juga! Aku tidak akan memberikan kesempatan!" teriaknya sangat keras. Dia terus menyerangku bertubi-tubi. Aku berusaha menghindar.
"Kau pengecut! Hanya menghindar? Hahah, kau wanita!" teriaknya sambil memakiku berkali-kali. Aku tetap menghindar.
Tidak akan aku biarkan dia memukulku. Aku harus memukul tengkuk lehernya.
Dia akan menyerang perutku sekali lagi. Aku menunduk cepat. Lalu memukul perutnya.
Buk!
Aku berlari kembali menghindarinya.
"Dasar kurang ajar!" teriaknya kesal. Dia kembali berjalan cepat ke arahku. Dia sangat kesal setiap pukulan yang mengarah ke wajahku meleset.
"Kurang ajar!" teriaknya kembali.
Aku menghindar saat dia mau menendangku. Aku kembali memukul perutnya. Dia sedikit menunduk dan lengah. Aku berlari ke belakang tubuhnya. Dengan cepat aku berhasil merencanakan pukulanku. Aku melompat, mengepalkan telapak tanganku sebelah kanan. Sangat keras aku memukul tengkuk lehernya.
Buk!
Tengkuk lehernya terkena pukulanku dengan keras.
"Argh!" teriaknya keras.
Tidak kusangka dia tumbang seketika. Aku melotot, terus terpaku melihatnya. Dia sama sekali tidak bergerak. Apakah dia mati? Hah, aku tidak ingin menghabisi siapa pun. Aku harus segera memeriksanya. Dengan cepat aku menghampirinya, lalu menekan hidungnya. Hah ... Untung saja napas itu masih saja aku rasakan. Aku menarik napas panjang, sangat lega. Aku benar-benar tidak mau menghilangkan nyawa siapa pun.
Wasit yang membungkuk terus menghitung sampai sepuluh di sebelah petarung itu, akhirnya berdiri. Dia segera mendekatiku. Aku spontan menatapnya. Aku masih sangat terkejut.
"Biarkan saja dia. Jangan pernah menyentuhnya," ucapnya kepadaku. Dia segera melambaikan beberapa petugas. Dengan cepat mereka masuk ke dalam ring dan mendekati wasit itu. "Cepat bawa dia keluar dari pertarungan ini!" ucap wasit. Semua petugas menganggukkan kepala, segera mengangkat tubuh petarung itu keluar dari ring.
Wasit itu kembali menatapku. Aku masih terpaku di tempat.
"Berikan senyumanmu ketika aku mengangkat tanganmu. Kau adalah pemenangnya. Jangan sampai membuat semua penonton yang sudah mempertaruhkan dirimu kecewa."
Aku hanya menganggukkan kepalaku saat wasit itu mengatakan semuanya. Aku tidak mengerti, kenapa aku senang dengan kemenangan ini. Semua penonton itu bertepuk tangan ketika wasit mengangkat tangan kananku dengan sangat tinggi. Aku melihat mereka semua sangat senang sambil mengangkat beberapa lembar uang yang sudah mereka menangkan saat bertaruh.
"Segeralah keluar dari ring ini, lalu bersiap untuk pertandingan kedua. Kau akan melakukan tiga pertandingan saja. Setelah itu kau akan memenangkan sebuah pertarungan. Kau akan menjadi sangat kaya. Persiapkan dirimu dengan baik," ucap wasit itu sembari menepukkan jemarinya di punggungku.
Wasit itu meninggalkanku setelah berkata. Aku masih saja mengatur detak jantungku yang sangat hebat ini. Bahkan lebih hebat berkali-kali lipat dari sebelumnya. Aku ingin segera keluar dari ring ini dan menemui Ana bersama Roy. Aku harap mereka baik-baik saja di sana.
Dengan cepat aku berjalan, lalu mengedarkan pandanganku. Ana pun kembali tersenyum saat dia melambaikan tangan ke arahku. Dia berlari dan memelukku di hadapan semua orang. Aku sangat tahu dia sebenarnya ingin menangis tapi menahannya. Dia tidak ingin mendapatkan kemarahan Roy sekali lagi.
"Midas, syukurlah kau menang. Aku hampir saja pingsan saat melihat lelaki besar itu memukulmu." Ana terus memelukku.
"Midas, kita akan beristirahat di ruangan. Cepat ikuti aku," kata Abdul sekali lagi. Aku segera berjalan mengikutinya. Namun, aku tidak melihat Roy. Ke mana dia?
Aku terus berjalan hingga aku benar-benar melihat seseorang dengan beberapa pengawal di belakangnya sambil bersedekap menatapku dengan sedikit senyuman yang sangat sinis.
"Hahaha tidak aku sangka ternyata calon seorang dokter bisa melakukan pekerjaan seperti ini. Memang sangat luar biasa. Ternyata kau melakukan sesuatu yang sangat licik dengan menghabisi semua petarung sebelum bertanding. Bukankah itu yang kau lakukan, lelaki bisu?"
Aku menarik tubuh Ana agar dia berada di belakangku. Lalu aku tiba-tiba melihat Roy. Dia juga tidak percaya melihat Bram ternyata ada di hadapanku.
"Oh. Jadi kalian bekerja sama dengan anak seorang jutawan yang sangat kaya raya ini? Apa kau tidak tahu, Midas. Dia juga sering berada di sini dan melakukan pertaruhan. Ternyata kalian sama saja. Sangat ... sangat licik."
Bram melangkah mendekatiku. Dia semakin menatapku dengan tajam.
"Hmm, apa yang harus kau lakukan saat aku mengatakan semua rahasia ini kepada pemimpin pertarungan ini? Jika, seseorang yang sangat hebat dalam bertarung dan memenangkan semuanya, ternyata menyelidiki satu-persatu para petarung agar bisa memenangkan semuanya. Atau, bagaimana jika aku akan menyiarkan di layar yang sangat besar itu. Agar semua penonton mengetahui bagaimana rencana licikmu."
"Bagaimana jika aku mengatakan kepada kekasihmu itu, jika kau sudah berselingkuh dengan semua wanita. Hmm, karena aku mempunyai gambar itu. Ya. Aku sudah mengabadikannya di ponselku. Kau, tidak akan pernah dipercaya oleh wanita itu lagi. Kau akan kehilangan semua harta kekayaan yang sudah kau incar itu," balas Roy tiba-tiba. Spontan Bram terpaku. Wajahnya berkeringat. Bahkan napasnya terdengar keras saat mengendus.
Aku tidak percaya Roy sangat-sangat pintar. Dia bisa mengambil situasi dengan sangat cepat. Aku sedikit menarik napas lega ketika mendengarnya, mengatakan suatu hal yang sedikit bisa membuat Bram terdiam pucat pasi.
"Kenapa diam? Hmm, takut? Kau seharusnya harus takut. Kau jangan lupa telah berhadapan dengan siapa lelaki tidak tahu diri. Aku akan segera membongkar semua kedokmu itu. Ah, bagaimana rasanya jika wanita itu mengetahui ternyata lelaki yang sudah bersamanya dan sangat dia percaya melakukan sesuatu hal yang sangat menjijikkan," lanjut Roy sembari tersenyum sinis.
"Hahaha. Kau pikir dengan caramu seperti ini bisa membuatku kalah? Aku tidak akan pernah membiarkanmu menang. Kau tidak akan pernah bisa mencegahku untuk mengambil kekayaan Amelia. Aku akan sangat kaya. Baiklah! Teruslah bertarung. Kali ini kau akan kalah petarung. Selanjutnya, petarung sangat hebat akan masuk ke dalam ring itu. Kau akan segera kehilangan nyawamu," ucap Bram sembari menunjukkan jemarinya tepat di wajahku, sebelum akhirnya dia berlalu bersama para pengawalnya.
"Kenapa di mana pun selalu ada dirinya? Argh, dia seperti hantu saja. Selalu datang dengan tiba-tiba. Midas, sebaiknya kita menghabisi dia seketika ini juga. Aku tidak suka melihatnya," ucap Roy sembari mengepalkan kedua tangannya.
"Jadi kalian sangat mengenal dengan lelaki itu? Hei, dia memiliki uang yang cukup banyak untuk melakukan pertaruhan. Dia adalah tamu kesayangan Dad. Jadi kalian jangan pernah menyentuhnya. Aku tidak ingin menambah masalah," kata Abdul dengan ekspresi yang sangat serius. Roy mendengus kesal saat mendengarnya.
"Sudahlah. Ikuti aku kembali ke ruangan istirahat. Kau harus mempersiapkan dirimu, Midas. Petarung selanjutnya, bisa membuatmu kalah. Dia sangat hebat. Tapi, aku juga tidak akan meremehkanmu. Kau sama sekali tidak diduga," ucap Abdul masih berjalan. Kami bertiga hanya diam mendengar ucapannya.
Kami terus berjalan menuju ruangan. Abdul membuka pintu, lalu mengarahkan kepalanya. Kami segera masuk ke dalam kembali. Aku harus mempersiapkan untuk pertarungan selanjutnya. Bram akan memasukkan petarung hebat. Aku resah saat mengingatnya.
"Midas, aku mohon. Jangan pernah kalah. Aku tidak mau," ucap Ana dengan lirih. Suaranya sudah mulai menghilang. Dia menahan tangisannya. Aku kembali memeluknya. Sementara Roy hanya diam memandang kami. Dia tidak berani berkomentar apa pun.
Waktu berjalan cukup singkat. Abdul kembali memanggilku. Ana semakin menarik napas panjang.
"Midas, selesaikan semuanya dengan cepat," kaya Roy sebelum aku keluar.
"Midas, uang ratusan juta sudah masuk ke rekening ini." Abdul memberikan sebuah kartu. Aku sangat lega menerimanya. "Aku mengenal beberapa orang di dalam bank. Mereka membuat kartu Atm itu. Buku tabungan bisa kau ambil di alamat yang aku tuliskan ini. Kau hanya berikan kartu identitasmu, dan masalah beres," lanjutnya.
Terima kasih Abdul. Aku tidak tahu harus bagaimana mengucapkan rasa terima kasihku. Kau sudah banyak sekali berhutang budi kepadaku.
"Aku menyelamatkan uangmu. Aku resah jika kau akan mengalah di pertarungan terakhir. Jadi ... aku dengan cepat melakukan ini. Aku mengenal banyak orang. Walaupun aku tinggal di rumah kumuh, itu hanya untuk menutupi semuanya. Aku ini juga sangat kaya. Aku melakukan ini karena kau, berbeda dengan semua petarung itu yang hanya ingin uang dan wanita. Baiklah, segera masuk ke dalam ring itu. Tunjukkan kemenanganmu sekali lagi."
Aku tersenyum, segera berjalan mendekati Ring. Aku masuk, dan kembali berdiri di lingkaran seperti biasanya di dalam ring. Kali ini semua penonton lebih dari sebagian, memuji namaku dengan sangat keras. Bahkan, mereka yang awalnya memaki, mulai menyukaiku dan ini adalah pertanda yang sangat baik.
Seperti yang dikatakan Bram. Lelaki dengan tubuh tegap berwajah blasteran Rusia, masuk ke dalam ring. Dia terus memukul kedua telapak tangannya ke depan untuk menakut-nakutiku. Dan, memang aku sangat takut. Tidak mungkin aku akan mengalahkan lelaki yang seperti ini!
Hah, dia menekan bawah rahang sebelah kiri. Dan, itu tepat di sebelah jantung. Apakah dia pernah terluka di sana? Bahkan napasnya terdengar keras. Aku ... aku tahu kelemahannya!
Aku dengan cepat menghindarinya, saat dia bertubi-tubi menyerangku. Aku terus mengamatinya. Dia, benar-benar kelelahan.
Baiklah, aku akan mengakhiri pertandingan ini!
Buk! Buk!
Dua kali pukulanku mengenai atas jantungnya, membuat dia sempoyongam dan akhirnya tumbang. Abdul terkekeh sambil berkacak pinggang di luar ring. Dad mendapatkan selamat dari semua pihak.
Seperti biasanya pertarungan itu aku selesaikan dengan sangat baik. Aku kembali memenangkannya walaupun Bram mengatakan aku pasti akan kalah. Namun, aku tetap memenangkannya. Dia sangat marah. Dari kejauhan, Bram berdiri dan menatapku dengan tajam.
Wasit kembali mengangkat tanganku dengan sangat tinggi. Tenagaku sebenarnya sudah di ambang batas. Tapi, senyuman Ana di luar ring selalu membuatku kembali bersemangat.
Roy mengusap wajahnya, dan menhembuskan napas panjang. Dia juga tersenyum ke arahku.
Hingga aku melihat Bram mengambil senjata api di dalam saku jasnya, dan akan mengarahkan tepat di kepalaku. Dia benar-benar mengarahkannya. Jemarinya sangat tegas saat memegang senjata api itu. Senyuman sinis dia perlihatkan kepadaku. Aku semakin terpaku saat dia mulai akan menekan senjata itu dan melesatkan pelurunya!
Ini tidak mungkin. Dia akan menghabisiku saat ini juga!