Roy dan Ana terkejut mendengar aku mengatakan sebuah rencana yang sudah aku lontarkan. Dia menggelengkan kepalanya. Kini dia mengurut pelipisnya. Aku mendekatinya, menarik lengannya agar dia menatapku.
Kali ini aku sangat bersungguh-sungguh dengan rencanaku. Aku dan Abdul tadi sudah membicarakannya. Ini satu-satunya kesempatanku untuk keluar dari sini. Kenapa kau malah memperlihatkan ekspresi seperti itu? Ayolah, Roy. Jangan membuatku semakin frustasi. Paling tidak, lihatlah dulu rencanaku ini.
"Kau, jadi memiliki rencana lagi, dan kita tidak mengetahuinya? Kau hanya mengatakan rencana itu kepada lelaki yang baru saja mengantar kita? Apakah yang aku katakan itu memang benar, Midas? Hei, kau jangan bermain-main api dengan mereka. Yah, mereka itu semua para mafia dan bermuka dua. Semua yang kau rencanakan pasti akan dia beritahukan kepada pemimpin mereka. Kau ini jadi laki-laki jangan terlalu polos."
Roy mengatakan dengan nada yang cukup keras sambil mengangkat kedua tangannya. Tentu saja tatapannya semakin tajam ke arahku. Ana juga melakukan hal yang sama. Dia menepuk pundakku dengan cukup keras, "buk!" Lalu aku segera menolehkan pandangan ke arahnya. Dia menepuk jidatnya. Sepertinya dia sangat kesal denganku, hingga dia menyandarkan tubuhnya di kursi sofa dan sangat pasrah dengan apa yang akan aku lakukan.
"Aku tidak mengerti apa yang ada di dalam otakmu itu. Kau mengatakan sebuah rencana kepada orang yang akan menghabisi kita," ucapnya lemas. Ana kembali mengangkat tubuhnya dan menatapku semakin serius. "Midas, yang dikatakan Roy itu benar. Mereka para mafia, dan tentu saja akan membuatmu terperangkap sendiri ke dalam rencana yang sudah kau rencanakan. Seharusnya kau diam saja dan mengatakan kepada kami, tidak kepada mereka! Kenapa kau selalu melakukan hal di luar sepengetahuan kita, dan itu selalu salah!" lanjutnya dengan tatapan tajam.
Ana semakin marah. Dia kini beranjak dari duduknya, meninggalkanku dan memalingkan wajahnya. Aku yakin Abdul tidak akan pernah mengkhianatiku. Aku sudah mengenalnya pertama kali walaupun dalam waktu sangat singkat. Namun, aku benar-benar tidak akan salah dengan apa yang aku rasakan.
Dia tidak seperti yang kalian kira. Abdul akan membantuku. Sudahlah, jangan kalian pikirkan. Jika kalian tidak ingin mendengarkannya ya sudah. Aku tidak akan mengatakan apa pun. Hanya aku dan Abdul yang akan mengetahuinya.
Roy semakin melotot ketika melihat tanganku mengatakan hal itu. Dia menarik Ana yang akhirnya membalikkan tubuhnya. Aku kembali melihat dia menangis dan itu semakin membuatku menderita.
Roy sepertinya kesal melihat Ana. Awalnya dia ingin mengatakan kepada Ana apa yang aku katakan barusan mengenai Abdul. Tapi, dia malah melotot melihat Ana menangis.
"Ayolah, Ana. Kenapa kau selalu menangis? Kau ini, jangan memberi beban kepada kita. Aku tahu kau ini seorang wanita. Tapi jangan seperti itu. Tegarlah dan kuat. Jangan menambah penderitaan yang akan Midas alami. Dia kalau tidak bisa bertarung, kita akan benar-benar habis!" bentaknya keras. Ana hanya diam menahan hatinya.
Aku berdiri dari dudukku dan memberikan pelototan tajam kepada Roy. Aku tidak ingin dia memperlakukan Ana seperti itu. Bagaimanapun juga, aku harus paham dengannya. Dia seorang wanita yang sangat rapuh, dan tentu saja dia akan terus menangis, jika mengetahui seseorang yang dicintainya akan mengalami sesuatu kondisi yang sangat berbahaya seperti ini.
Bisakah kau berkata dengan pelan terhadap seorang wanita? Hei, bagaimanapun juga dia adalah kekasihku dan kau tidak berhak untuk membentaknya!
"Midas, kau tahu sendiri. Kita sudah mengalami suatu hal yang sangat mengerikan seperti ini. Kenapa harus ada wanita yang selalu menangis? Itu akan menjadi beban berat bagi kita. Udahlah, aku tidak mau membahas ini. Sebaiknya kau katakan kepada kekasihmu itu, dia harus diam. Simpan saja air matanya. Sekarang katakan apa rencana yang sudah kau katakan kepada Abdul. Aku harus tahu!"
Aku menghampiri Ana dan menariknya. Aku mengarahkan tanganku, agar dia duduk di kursi sofa. Aku menggelengkan kepala, hingga dia dengan cepat mengusap air matanya. Kini ia tersenyum, dan itu adalah hal yang paling terindah yang aku rasakan sekarang.
Dia mengatakan sebuah rencana kepadaku sebelum aku mengatakan sesuatu.
"Dia? Apa maksud kamu Abdul? Kau memang benar-benar sangat membingungkan. Kau baru saja mengatakan jika itu adalah rencanamu. Tapi kenapa kau mengatakan sekarang itu rencana Abdul? Apa yang sebenarnya terjadi?"
Roy sudah sangat emosi ketika mendengar aku mengatakan hal itu. Aku kini berdiri dan semakin menatapnya untuk menceritakan semuanya. Abdul sangat cerdas dan dia pasti bisa membantuku menyelesaikan masalah ini.
Aku hanya bisa keluar dari sini Jika aku aku kalah dengan pertarungan itu.
Roy mengernyit. Dia mengurut pelipisnya.
"Kau kalah, kau berarti sudah kehilangan nyawamu. Apa kau sudah tidak waras? Hah, rencana Abdul benar-benar tidak bisa aku terima!"
Ana segera mendekatiku. Dia memegang pundaku dan sedikit menggerakkan dengan tangannya.
"Midas, kenapa kau harus kalah? Aku tidak ingin kehilangan kamu. Midas, kau jangan terlalu polos dengan semua orang. Tolonglah. Jika kau kalah, maka kau akan mati. Aku mau kita kabur lagi. menjadi buronan tidak masalah. Paling tidak, kita akan selamat. Ayo kita pergi," ucap Ana sembari menarikku. Aku menahan tubuhku.
Dengarkan aku dulu. Lihatlah semua tanganku ini. Aku akan memenangkan semua pertarungan itu, lalu aku akan kalah di pertarungan terakhir. Aku akan berpura-pura mati. Jika aku selalu menang, mereka akan menggunakanku dan aku tidak akan pernah keluar dari sini. Hanya itu satu-satunya cara yang bisa aku lakukan. Abdul akan membantuku dan aku percaya kepadanya.
"Midas, pertandingan sudah akan dimulai. Cepatlah keluar!"
Kami bertiga sangat terkejut ketika Abdul sudah meneriakkan namaku di luar ruangan. Tanpa berbicara lagi aku mengganti pakaianku, karena aku belum sempat melakukannya. Aku masih saja berdebat kepada Roy dan Ana tentang rencana yang akan aku lakukan. Mereka sama sekali tidak mempercayai Abdul. Tapi aku benar-benar yakin jika dia sangat tulus membantuku.
"Midas. Ingatlah! Kau kalah, berarti kau kehilangan nyawamu. Hei, pikirkanlah itu. Jika kau kehilangan nyawa, maka kami pun juga akan mengalami hal yang sama. Aku ini belum nikah. Kau jangan lupakan itu!" bentak Roy sangat keras.
"Midas, yang dikatakan Roy benar. Aku ... aku harus mengatakan apalagi kepadamu? Aku akan mati jika kehilanganmu. Tolonglah ...," ucap Ana pelan.
Aku memeluknya dengan erat dan memberikan sedikit senyuman kepadanya. Ingin sekali aku mencicipi permukaan bibirnya. Namun, aku tahan. Aku tidak ingin membuat dia semakin terhanyut dengan hal itu, karena aku ingin dia kuat.
Aku akan baik-baik saja. Percayalah kepadaku.
Roy berkacak pinggang hanya memandangku dalam diam. Dia sudah sangat pasrah. Ana pun terlihat seperti itu.
Aku segera membuka pintu dan keluar. Abdul mengamatiku dengan menganggukkan kepala.
"Jadi, bagaimana perasaanmu sampai saat ini? Hmm, akan ada empat pertarungan. Entahlah apa yang sudah terjadi dengan dua petarung yang tiba-tiba menghilang dan tidak datang ke sini. Mungkin saja mereka melakukan hal yang sama denganmu. Perlu kau ketahui, semua pesuruh Dad mencari mereka dan akan menghabisi mereka. Argh, aku benar-benar tidak paham dengan semua petarung termasuk dirimu."
Sejenak aku menarik napas panjang. Aku yang paling bersalah dengan semua petarung itu jika celaka. Hah, aku sudah tamat dengan semua kesalahanku. Musuhku akan semakin banyak. Tapi, aku akan mengabaikan itu dulu. Aku akan memastikan dengan bantuan yang akan dia berikan kepadaku.
Apa kau akan membantuku melakukan semua rencana yang kita bicarakan di dalam? Kau tahu, aku harus melakukannya. Aku sangat percaya denganmu, Abdul.
Abdul menarik napas panjang. Dia tahu jika membantuku, dia akan mendapat kemarahan Dad.
"Apakah kau benar-benar akan berpura-pura mati? Bagaimana jika dirimu benar-benar kehilangan nyawa? Karena, peraturan yang sudah ditetapkan, yang kalah akan kehilangan nyawa. Pikirkan itu."
Aku tidak akan pernah menghilangkan nyawa mereka. Aku akan memukul di salah satu titik tubuh mereka yang bisa membuat mereka pingsan seketika.
Abdul terkekeh ketika melihat tanganku mengatakan hal itu. Dia menggelengkan kepalanya tidak percaya. Roy yang berada di sebelahnya spontan menepuk jidatnya. Mereka sepertinya menganggap aku sangat tidak waras.
"Midas kau bisa membuat mereka pingsan. Tapi, bagaimana dengan dirimu sendiri?" ucap Ana sambil mengernyit. Kali ini yang dia menarik napas panjang. Tubuhnya sangat bergemetar. Bahkan, wajahnya dipenuhi keringat.
Akan aku pikirkan itu nanti. Yang terpenting, sekarang aku harus menuju ke ring itu. Sepertinya semua penonton itu sudah menunggu pertarungan yang mereka nantikan. Ayo, jangan membuat mereka kecewa.
Abdul melambaikan tangannya kepada beberapa pengawal. Mereka mengajakku untuk masuk ke dalam ring. Aku melihat Ana menahan tangisan. Roy juga terlihat sangat pucat pasi. Aku harus mengabaikan hal itu. Ini adalah pertarungan yang sangat penting bagiku, dan aku harus memenangkannya di awal.
Suara penonton semakin bergemuruh. Mereka meneriakkan namaku. Namun, seperti biasanya. Ada yang memanggilku dengan tidak jelas, dan memakiku. Aku terus mengatur hatiku. Jantungku berdebar sangat hebat. Aku tidak ingin terlihat lemah di hadapan mereka.
"Masuklah ke dalam ring dan diam di lingkaran yang sudah ada di sebelah wasit itu. Jangan pernah melakukan apa pun sebelum sang wasit memberitahukan isyaratnya. Kau harus melakukannya! Paham!"
Aku menganggukkan kepala saat petugas penjaga ring itu mengatakan semua peraturan yang harus aku taati. Aku sudah sangat hafal dengan peraturan itu. Aku berjalan menuju ke lingkaran. Aku berdiri, mengamati semua penonton yang terus menyuarakan suaranya. Aku sangat penasaran dengan siapa aku akan bertanding. Semoga saja aku memiliki lawan yang tidak cukup kuat dan bisa membuatku mudah untuk memenangkan pertandingan ini.
Aku mengamati semua arah, hingga aku melihat sosok yang memberikan tatapan tajam ke arahku, sambil tersenyum sinis. Dia sangat tidak asing bagiku. Bagaimana bisa dia berada di sini? Sementara aku sudah menumbangkannya saat pagi tadi dengan petarung wanita itu. Ini benar-benar tidak aku percaya.
Kenapa dia berada di sini?