Aku hanya diam bergemetar menerima teriakan Dad yang sangat kencang hingga menembus gendang telingaku. Dia berjalan cepat mengambil senjata apinya yang tergeletak di atas meja.
"Aku tidak akan pernah memaafkan seseorang yang sudah menipuku seperti dirimu! Apalagi dia melarikan diri dari apa yang sudah aku janjikan. Apa kau tidak tahu aku harus menghadapi semua klienku, dan mengganti uang mereka sebanyak miliaran karena dirimu!" teriaknya sangat kencang. Kini dia menodongkan senjata api itu tepat di kepalaku. Aku hanya terdiam sambil memejamkan kedua mataku. Aku pasrah. Namun, aku tidak akan pernah membiarkan dia menghabisiku. Aku harus mencari akal agar dia mengerti dan kembali memaafkanku.
"Hai, Dad. Tenanglah. Yah, paling tidak kita biarkan dia untuk berbicara terlebih dahulu. Dia sudah kembali dan dia tidak lari, itu adalah kenyataannya. Dia pasti memiliki alasan, dan kau tau sendiri dia satu-satunya petarung terhebat yang kita miliki. Uangmu akan kembali, Dad."
Perkataan Abdul yang sudah dilontarkan dengan sangat pelan, membuat Dad mengernyit. Namun, Dad masih dia.
"Dad, lepaskan," ucapnya kali ini tegas, memberikan penekanan kepada Dad agar dia mengurungkan niatnya untuk menembakkan senjata api itu kepadaku. Aku hanya bisa pasrah. Semoga saja dia menuruti apa perkataan Abdul barusan.
"Kenapa aku harus menurutimu, Abdul. Jangan lupa kau berbicara dengan siapa," balas Dad masih menatapku tegang. Tangannya semakin menekan ujung pistol itu. Sekali tekanan saja, aku akan habis.
"Kau tahu, kedatangan Midas bisa menguntungkan kita sekali lagi. Hei, kita kedatangan tamu yang sangat spesial dari Rusia. Dan, dia pasti akan memberikan taruhan yang sangat banyak untuk Midas."
Dad masih saja memikirkan perkataan Abdul. Hingga selang beberapa menit, dia perlahan menurunkan senjatanya. Dia kemudian membalikkan tubuh, berjalan menuju ke lemari es dan mengambil beberapa minuman untuk menyegarkan dirinya. Sebuah minuman mahal yang terbuat dari anggur dan tentunya itu sangat langka
"Baiklah, kali ini kau memang benar. Betul, kita membutuhkan dirinya. Jika aku menghabisinya, aku malah akan mendapatkan suatu hal yang sangat merugikan. Tapi, ingatlah, Midas. Aku tidak akan pernah memberikan kesempatan kedua kalinya. Kau harus melakukan apa yang aku katakan."
Dad menuangkan minuman anggur itu ke dalam gelas menjulang tinggi terbuat dari kaca yang sangat mahal. Dia meneguknya dan menuangkan sekali lagi. Lalu kembali meminumnya. Dia menarik napas panjang dan berusaha mengatasi hatinya. Aku sangat tahu dia kini sangat marah kepadaku, sekaligus sangat lega dengan perasaannya sendiri karena kedatanganku.
Aku perlahan melangkah mendekati Dad. Dia spontan membalikkan tubuhnya dan memberikan tatapan tajam.
"Apa maumu? Kenapa kau mendekatiku seperti ini? Kau tau sendiri aku sangat marah. Jadi aku tidak ingin mendengarkan semua alasanmu yang sangat menyedihkan itu. Apa kau paham dengan apa yang aku katakan?" ucapnya dengan nada kesal. Dia berjalan melewatiku begitu saja.
Abdul menarik napas melihatnya. Dia segera menghampiriku yang masih bergeming.
"Adakah suatu hal yang kau sampaikan?"
Abdul mengamatiku. Dia yang sangat paham dengan apa yang ada di dalam ekspresi wajahku. Hal itu membuatku sangat lega. Kali ini aku benar-benar berhutang budi kepadanya. Dia sudah menyelamatkanku dari kemarahan Dad.
Yah, ada satu hal yang aku harus sampaikan kepadamu. Aku sebenarnya harus mengatakan itu kepada Dad. Namun, sepertinya dia tidak ingin mendengarkan apa pun dari diriku.
"Baiklah, kau bisa mengatakan kepadaku. Apa yang harus aku ketahui? Tapi, kali ini tolonglah, Midas. Kau mengertilah dengan situasi yang ada di hadapanmu sekarang. Kau tidak bisa seperti ini. Kau sudah miliknya Dad, dan kau harus tahu itu. Dia bisa melakukan apa pun kepadamu. Bahkan dia tahu kau memiliki kekasih dan menyembunyikan seseorang yang berada di suatu tempat"
Aku semakin melotot saat mendengarnya. Aku tidak percaya secepat itu dia mengetahui semua informasi yang ada di dalam kehidupanku. Untung saja aku kembali ke sini. Jadi semua yang mendekatiku tidak akan pernah mengalami hal yang sangat berbahaya.
Abdul, aku tidak bisa melanjutkan pertarungan ini terus-menerus. Aku hanya ingin menyelesaikan malam ini saja. Kau tahu, aku harus menjadi seorang dokter dan aku harus kembali ke universitas itu. Aku kembali ke sini karena aku tidak ingin menjadi buronan para mafia. Hanya itu alasanku. Walaupun sebenarnya aku membutuhkan cukup uang untuk membiayai kehidupanku.
Abdul masih terdiam. Dia berkacak pinggang, terus mengamatiku. Dalam pikirannya, aku tahu dia memikirkan cara untuk membebaskanku dari ini semua. Namun, sepertinya dia tidak sanggup. Aku terus berharap dia bisa membantuku untuk terbebas dari ini. Karena aku juga berjanji kepada Ana untuk melamarnya. Aku tidak mungkin mengingkari semua itu. Aku juga harus membalas dendam dengan semua yang sudah menyakitiku. Semoga saja Abdul bisa membantuku.
"Kau tahu, Midas. Itu sangat sulit. Aku harus memastikan kau akan memenangkan pertarungan itu semua. Dan, pasti kau akan terus bertarung. Tapi ...," ucapnya tiba-tiba terhenti. Dia sedikit melirik Dad, lalu kembali mendekatiku saat Dad menyandarkan tubuhnya dan memejamkan kedua matanya. "Kecuali jika kau kalah. Tapi, kau akan mati jika kalah. Karena kita akan membuang petarung yang sudah kalah. Aku memiliki sebuah cara. Hmm, aku tidak bisa mengatakannya. Kau tau sendiri. Dad bisa mengamati kita. Dia pasti mengira aku sudah membujukmu untuk kembali ke pertarungan itu," lanjutnya sambil berbisik.
Abdul memiliki sebuah cara yang cukup menarik. Dia berbicara kepadaku sambil terus menampakan wajah dengan sedikit senyuman, agar Dad tidak mencurigai apa yang sudah kita bicarakan.
Bagaimana jika aku akan memenangkan pertarungan itu sampai detik terakhir? Lalu aku akan mengalah di pertandingan yang terakhir. Apakah itu bisa membuatku cukup memiliki uang dan terbebas dari ini semua?
Abdul menganggukan kepala. Dia membuatku sangat lega. Aku kini memiliki jalan keluar yang sangat baik. Walaupun aku seperti orang yang sudah kehilangan nyawa di saat pertarungan terakhir dan mengejutkan semua orang. Namun, itu satu-satunya jalan yang harus aku tempuh. Aku harus berakting kehilangan nyawa. Abdul benar-benar memiliki saran yang sangat bagus.
"Baiklah kau akan bertarung sebentar lagi dan persiapkan dirimu segera. Aku akan membawamu ke tempat seperti biasanya. Kau jangan pernah melarikan diri lagi. Lihatlah ketua! Dia sangat resah denganmu. Dia kehilangan banyak sekali uang saat kau melarikan diri dari semua ini. Jangan kau ulangi lagi."
Dad spontan terduduk setelah mendengar ucapan Abdul. Wajahnya terlihat cerah dengan sedikit senyuman. Aku sedikit lega melihatnya. Aku kali ini benar-benar selamat.
"Bisu, sebaiknya kau mendengarkan semua perkataan yang sudah katakan Abdul. Sudahlah, keluar sana! Aku tidak ingin melihatmu! Abdul, segera persiapkan Midas untuk bertarung dan aku harap kau memenangkan semua pertarungan itu tanpa ada cacat sedikit pun. Kau harus mengembalikan semua uangku, atau aku benar-benar akan melesatkan peluru ini menembus jantungmu," ucapnya sambil menunjukku dengan jemarinya yang cukup tegas itu.
Aku segera keluar dari ruangan itu diikuti Abdul. Kamo menuju ruangan persiapan. Abdul sedikit terkejut ketika melihat Roy dan Ana yang mengikutiku. Dia kembali menggelengkan kepalanya. Dia sebenarnya tidak ingin aku membawa siapa pun ke dalam pertandingan ini. Itu sama saja aku menyetorkan nyawa mereka pada para mafia itu.
"Tidak aku sangka kau membawa seluruh keluargamu berada di sini, Midas. Kau tau sendiri keadaan di sini sangat berbahaya. Argh, kenapa kau harus membawa mereka?" ucapnya sembari terus berjalan hingga kita sampai di ruangan yang tidak terletak jauh dari ruangan Dad. Abdul membukanya dan melambaikan tangannya, agar aku segera masuk ke dalam.
"Kau pasti Ana, kekasih Midas. Kau sangat beruntung. Padahal Dad ingin sekali menculik dan membawamu ke sini sebagai pancingan agar Midas bisa datang. Ternyata tidak kusangka pacarmu sudah datang ke sini dengan sendirinya."
"Apa? Jadi kalian akan merencanakan itu kepadaku?" balas Ana dengan melotot. Dia sangat terkejut.
Aku spontan menarik Ana dan menggelengkan kepala. Aku tidak ingin dia berkata apa pun kepada Abdul. Aku tidak ingin menambah situasi semakin rumit.
Abdul, aku akan bersiap-siap. Segera panggil aku jika pertarungan itu sudah akan dimulai.
Abdul segera keluar dari ruangan. Ana sangat lemas sambil berjalan menuju kursi sofa. Dia duduk di kursi sambil mengatur hatinya. Aku segera mendekat dan memeluknya erat. Kemudian aku melepaskan pelukanku dan menatapnya, untuk memberikan dia keyakinan agar harus kuat jika ingin mengikutiku dalam rencana ini.
Ana aku mohon. Kau jangan lemah seperti ini. Ya aku tahu keadaan seperti ini akan sangat membahayakanku dan kita semua. Kau sudah dengar mereka tahu tentang dirimu. Bagaimana jika mereka menyerang semua keluargamu juga? Aku harus menyelesaikan ini semua, dan kau harus mendukungku.
"Bagaimana aku bisa tenang? Katakan caranya. Kau ini sangat mengejutkanku. Aku tidak menyangka, saat kau menemukanku di halte itu. Aku pikir, kita akan hidup baik-baik. Walaupun aku mendapatkan pelecehan. Ternyata ... ini sangat buruk," ucap Ana sembari menunduk. Dia menutup wajah dengan kedua tangannya.
Aku menarik tangan itu agar dia memandangku kembali.
Kita sudah berjodoh. Kau berlari tanpa arah, dan aku menemukanmu. Itu bukan tanpa sengaja. Itu karena kita sudah ditakdirkan bersama. Aku yakin yang dikatakan Roy benar. Tunanganmu itu tidak akan berani melakukan itu. Walaupun jika iya, aku tetap akan bertanggung jawab.
"Aku sangat takut, Midas. Ini adalah hal pertama kali bagiku mendapat masalah rumit bersamaan. Aku hanya ingin ... tidak mau kehilanganmu. Ring itu sangat menakutkan. Bagaimana jika kau kalah?" balas Ana sembari menarik napas panjang.
Ana, percayalah aku akan menang. Kau sebaiknya tenang. Setelah ini, kita akan memeriksamu. Dan, aku akan membalas lelaki tidak tahu diri itu.
"Perkataan Midas memang benar. Sudahlah, sekarang kau lebih baik bersiap-siap. Gantilah bajumu dengan baju yang sudah disiapkan itu. Kita harus keluar dan memenangkan pertarungan itu."
Tapi aku memiliki rencana dan ini adalah rencana yang sangat bagus.
"Apa?" ucap Ana dan Roy bersama-sama.