Menemui Dad

1501 Kata
Kami segera menuju ke mobil Roy. Ana sebelumnya memberikan aspirin kepadaku. Dia memastikan jika kepalaku akibat benturan baik-baik saja. Namun, dia juga lega tidak ada sesuatu hal yang sangat serius di sana. Hanya luka luka kecil akibat benturan ringan. "Midas, kau tidak mengalami luka serius. Ah, aku sangat lega. Aspirin ini akan menghilangkan rasa nyeri sementara," ucap Ana dengan pelan. Kami segera masuk ke dalam mobil. Kami masih saling memandang dari kaca spion. Aku baik-baik saja. Aku sangat beruntung memiliki kekasih seorang dokter yang sangat hebat. Terima kasih Ana. Kami saling melempar senyuman. Roy hanya menggelengkan kepala saat melihat kami. "Baiklah, kita berangkat!" ucapnya sedikit keras. Aku dan Ana hanya diam memandang Roy. Roy segera melesatkan mobilnya. Aku sangat heran dia mengetahui alamat di mana tempat pertarungan itu berlangsung. Padahal aku tidak mengatakan sebelumnya. Ternyata dia memang pernah ikut andil dalam pertarungan itu. Seharusnya dia tidak melakukan hal itu. Aku terus tersenyum ke arah Ana dari kaca spion. Aku duduk di sebelah Roy yang masih sangat serius mengendarai mobilnya. Hingga dalam beberapa menit, kami telah sampai di parkiran. Mobil pengunjung sangat banyak. Aku harap Dad tidak menghabisiku sebelum aku berbicara kepadanya. Dia pasti akan sangat marah saat melihatku. Aku sebaiknya bersiap untuk mengjadapi kemungkinan buruk yang akan terjadi. "Midas, kita akan turun dan menuju ke pintu belakang. Tidak mungkin aku bersamamu masuk dari pintu depan. Dia akan segera menghabisi kita tanpa memberikan kesempatan untuk berbicara. Kali ini pasti dia akan sangat marah. Namun, sepertinya dia tidak akan marah ketika melihatku. Karena aku pelanggan tetap di sini." Aku mengernyit, ketika mendengar perkataan Roy. Yah, dia sepertinya sangat mengenal situasi ini dan aku tidak pernah mengetahuinya. Kau sepertinya benar-benar sangat mengetahui semuanya. Bahkan kau mengenal mereka. Jangan kau katakan jika dirimu sering ke sini, Roy! "Tentu saja aku sering ke sini. Bahkan, aku bersama dengan teman wanita. Ayolah! Aku membutuhkan sesuatu yang bisa membuatku terhibur. Dan, melihat pertarungan itu sesuatu yang sangat menyenangkan. Tapi aku kini sadar. Ternyata sangat menakutkan. Apalagi ternyata kau yang berada dalam ring itu. Argh, ini benar-benar sangat menyebalkan. Sudahlah, aku tidak perlu menjelaskan semuanya kepadamu. Apa kau lupa jika kita ini berasal dari keluarga kaya raya? Tentu saja hal seperti ini tidak akan asing bagi semua kelas atas." "Apakah kalian akan memperdebatkan suatu hal yang tidak penting seperti ini? Kita ini sudah mengalami hal yang sangat membahayakan. Jadi, aku mohon kalian berkonsentrasilah. Aku ini perempuan dan tentu saja aku memiliki ketakutan yang lebih tinggi dari kalian. Sekarang katakan kepadaku, apa yang harus aku lakukan? Kalian tahu, aku sangat shock mendengar kalian sudah masuk ke dalam hal seperti ini. Jika kau tidak memiliki uang, kenapa kau tidak meminta padaku?" Ana menatapku dengan penuh penghakiman. Aku tidak mungkin meminta uang darinya. Aku adalah laki-laki, dan sangat pengecut jika aku bergantung pada wanita. Ana, tidak mungkin aku minta kepadamu. Aku ini laki-laki. Aku harus berusaha sendiri. Kita sebaiknya segera turun dan mengikuti Roy. Dia sudah tahu ke mana kita harus pergi melewati pintu belakang. Roy, kau sebaiknya menceritakan semuanya setelah aku menyelesaikan semua masalah ini. Aku membuka pintu mobil, segera keluar diikuti Roy dan Ana. Roy berjalan mendahuluiku dan Ana. Dia masuk mendekati pintu belakang dan segera menelusuri semua lorong-lorong yang sudah pernah aku lewati bersama para wanita penghibur itu. Sekarang aku jadi teringat oleh perlakuanku. Tentu saja pasti Ana akan sangat marah. Saat kami berjalan, aku tidak percaya dengan penglihatanku. Para wanita seksi itu melotot saat aku berada tidak jauh dari posisi mereka. Parahnya, mereka dengan cepat menghampiriku. "Midas, bukankah kau petarung yang sudah kami bantu untuk keluar? Kenapa kau kembali lagi? Hei, apa kau ingin mati berada di sini kembali?" tanyanya sambil terus menatapku. Aku sangat resah. Ana melirikku sinis. "Midas, kenapa kau kembali? Katakan kepada kami," ucapnya sekali lagi. Kali ini aku benar-benar akan tamat. Salah satu wanita itu mengetahui keberadaanku dan membuat semua wanita lainnya mengerumuniku. Tentu saja Ana melotot sambil berkacak pinggang. Dia mengamatiku dengan sangat tajam. "Kau tahu. Setelah kepergianmu, kami berkumpul di dalam kamar itu. Tentu saja Dad dan Abdul memarahi kami abis-abisan. Untung saja kami tidak diperlakukan apa pun, karena ada tamu yang menginginkan kehadiran kami. Dan ... ternyata kau kembali lagi. Kau sama saja tidak menghargai pertolongan kami, Midas. Kau bisa saja kembali ke kamar itu, dan kehilangan nyawa." "Kamar? Apa maksudmu dengan kamar?" Ana sangat marah. Dia menarik lenganku, lalu mengangkat kedua tangannya sambil melotot. Aku tidak tahu harus berkata apa, karena situasi seperti ini sangat mendadak. Membuatku tidak tahu harus berbuat apa. Tapi, aku harus menunda untuk mengatakan semuanya kepada Ana. "Midas, kau ke dalam kamar ... lalu mengenal semua wanita ini? Lihatlah, banyak sekali wanita yang ternyata mengagumimu di belakangku. Apa kau melakukan sesuatu kepada mereka?" ucapnya dengan nada kesal. Namun, salah satu dari mereka tidak terima. Dia menarik Ana dengan mendadak. Aku spontan mencegahnya dan menggelengkan kepala. Aku tidak ingin mereka melibatkan Ana dalam hal ini. Jangan melibatkan dia. Aku tidak akan membiarkannya. Perkataanku tidak mempan. Mereka mengabaikan aku. Mereka masih saja mengamati Ana dan semakin mendekat. Aku akan tetap melindungi Ana dari mereka. "Hei, kami cuma membantu dia. Walaupun sebenarnya kami meminta sedikit bibirnya. Tentu saja kami harus membantu mengeluarkan dia dari sini. Tapi, tidak ada sesuatu yang gratis. Kau sangat beruntung memiliki pacar yang sangat tampan. Jangan pernah kau memarahinya seperti itu. Apalagi di hadapan semua orang. Simpan saja kecemburuanmu itu. Dia sangat setia denganmu." "Oh Tuhan. Ini benar-benar sangat luar biasa. Kalian memperdebatkan suatu hal seperti ini. Sedangkan kita dalam bahaya. Sebaiknya hentikan. Yah, kita akan melanjutkan perdebatan ini nanti. Sekarang aku harus menemui pemimpinmu. Di mana dia dan katakan dengan cepat." Roy sudah menyelamatkanku. Aku sangat lega mendengarnya. Aku tidak perlu melakukan apa pun untuk menjelaskan kepada Ana dan aku akan menundanya nanti. Terlebih, semua wanita ini akhirnya mendekati Roy karena memberikan kedipan mata. Dia benar-benar play boy. "Jadi kalian benar-benar akan masuk ke dalam pertarungan itu lagi? Ini tidak mungkin. Tapi, baiklah. Aku akan mengantarmu menuju ruangan pemimpin, dan tentu saja dia sangat marah. Kau harus bersiap. Kau tidak akan pernah keluar dari ruangan itu hidup-hidup," ucap salah satu wanita itu dengan sangat serius. Aku bersama Ana saling menolehkan pandangan. Roy berkacak pinggang menatapku dengan sangat tajam. Kami sudah seperti orang yang kehilangan nyawa. Walaupun belum benar-benar terjadi. Aku akan melindungi Ana dan Roy. Bagaimanapun nanti keadaanku di dalam. Aku meminta bantuan kalian sekali lagi. Tolonglah, jangan mengungkit masalah yang kemarin. Aku benar-benar sangat minta maaf. Tapi, jika aku pergi dan terus selalu berlari, aku akan menjadi buronan mereka. Kehidupanku tidak akan tenang. Itu adalah alasanku kenapa aku harus kembali ke sini. Aku harap kalian mengerti dan tetap membantuku. Tapi, aku tidak bisa memberikan apa pun. Kalian tahu sendiri  aku memiliki kekasih. Semua wanita itu yang kira-kira berjumlah enam orang, menggelengkan kepala dan saling menatap. Aku sebenarnya sangat kasihan kepada mereka. Aku sudah melibatkan mereka sekali lagi ke dalam bahaya. Namun, dengan siapa lagi aku meminta bantuan, kalau tidak bersama mereka. Dan, sebaiknya mereka akan membantuku. "Baiklah, aku akan membantumu. Ikuti aku!" Wanita itu akhirnya membantu. Aku sangat lega melihatnya. Aku kembali menarik lengan Ana. Aku tidak akan pernah melepaskan genggamanku ini. Roy menarik napas panjang dan berjalan mengikut di para wanita yang sangat seksi itu. Dalam wajahnya, dia sangat resah. Begitu juga denganku. Apalagi Ana. Yah, wajahnya sangat berkeringat. Kami sampai di ruangan dan aku sangat mengenali ruangan itu. Ini adalah ruangan yang biasanya Dad dan Abdul tinggali sebelum pertarungan dimulai. Aku bener-bener gemetar. Namun, sebaiknya yang masuk ke dalam sendirian. Ana dan Roy harus menunggu di luar. Mereka tidak akan aku biarkan ikut masuk ke dalam sana. "Yah. Ini adalah ruangan dari pemimpin. Kau tinggal mengetuknya lalu masuk ke dalam. Ingatlah. Dia sangat marah. Kau sebaiknya, jangan membantah atau mengatakan sesuatu sebelum dia berkata. Oke semoga kau berhasil. Selamat tinggal. Kita masih banyak memiliki urusan." Para wanita itu tersenyum. Mereka berlalu meninggalkan kami yang masih menyimpan ketakutan. Kalian berdua tinggallah di luar. Hanya aku yang akan masuk ke dalam, dan ini tidak perlu diperdebatkan. Aku akan berjanji keluar dengan hidup-hidup. Kalian tidak perlu mencemaskan hal apa pun. "Midas! Bagaimana jika mereka melakukan sesuatu hal buruk kepadamu?" Ana meneteskan air matanya. Da tidak tahu harus berkata apa. Dengan membiarkan aku masuk ke dalam sana, sama saja dengan membiarkan aku mati. Sebaiknya aku harus menenangkannya terlebih dahulu. Ana, aku mohon jangan mempersulit hatiku. Aku membutuhkan kekuatan. Bukan tangisan seperti itu. Aku Mohon kepadamu. "Baiklah. Ana akan aku jaga. Dan, kau sebaiknya segera masuk ke dalam. Karena kita tidak memiliki banyak waktu lagi." Roy menarik lengan Ana. Dia menunjukkan jemarinya tepat di gagang pintu yang harus aku tekan. Aku menganggukan kepala dan segera menekannya ke bawah. Tanpa berpikir panjang lagi, aku segera masuk ke dalam dan menutupnya sangat rapat. "Apa? Ini tidak mungkin! Dia datang kembali?" kata Dad terperanjat. Dad dan Abdul sontak berdiri dari duduknya. Mereka tidak percaya melihatku muncul kembali di hadapan mereka. Aku hanya berdiri tegak dan akan menerima semua konsekuensi dari mereka. "Jadi kau kembali lagi? Haha. Apakah kau ingin aku menghabisi nyawamu sekarang juga?" teriak Dad dengan sangat kencang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN