Ana tersenyum mendengarnya. Dia sangat bahagia dengan apa yang aku ucapkan barusan. Aku segera menarik tubuhnya, membenarkan beberapa kancing yang sudah aku lepaskan tadi. Lalu aku sedikit menyisir rambutnya dengan kelima jariku sebelah kanan.
Kau sangat cantik, Ana.
"Apakah yang kau katakan itu sangat serius? Midas, kau tahu sendiri aku sangat bahagia. Jangan sampai kebahagiaanku hikang begitu saja. Kau tahu aku sedang mengalami nasib yang sangat buruk."
Aku tidak pernah mengatakan sesuatu hal yang tidak serius, dan aku benar-benar melamarmu. Tapi kau belum mengatakan, iya.
Ana semakin tersenyum. Senyumannya sangat cantik. Ini adalah wajah yang ingin aku lihat sejak dari tadi. Syukurlah perkataanku sudah membuatnya bahagia. Spontan dia berjinjit dan segera memelukku. Lalu membisikkan sesuatu yang sangat membuatku bahagia.
"Sudah jelas aku menerimanya. Untuk apa aku menolak seseorang yang sangat aku cintai melamarku?" Dia semakin tersenyum luar biasa.
Aku kembali menariknya untuk keluar dari kamar. Roy yang semula duduk di kursi sofa, terperanjat melihatku bersama Ana, keluar dengan wajah yang sudah semringah.
"Woi! Sepertinya kalian sangat bahagia. Hmm ... aku melihat sesuatu hubungan intim di sana. Karena ada salah satu kancing, yang belum kamu benarkan betul-betul, Midas," ucapnya sambil menunjukkan jemarinya di kemeja Ana. Sontak aku melotot dan segera membenarkan kancing itu.
"Bukan salahku jika aku sedikit melihatnya. Tapi, aku sangat bahagia jika kalian benar-benar telah menyelesaikan semua masalah kalian." Roy berjalan mendekati kami dan memeluk kami bergantian.
Roy, aku sudah melamar Ana. Kita akan menikah. Aku tidak peduli tunangannya sudah melakukan suatu hal yang sangat buruk kepadanya. Aku tidak akan membuat Ana sengsara. Aku sangat mencintainya, dan dia mencintaiku. Aku akan segera menemui kedua orang tua Ana dan melamarnya.
"Wow, sangat luar biasa. Aku tidak menyangka ternyata sepupuku memiliki istri sebentar lagi. Haha, padahal aku lebih tampan dan lebih play boy darinya. Baiklah, aku ucapkan selamat. Tapi ada satu hal yang aku tanyakan kepadamu, Ana."
Roy kembali menatap Ana. Dengan sangat serius kedua mata mereka saling bertumbukan tajam. Aku pun juga sangat resah. Tidak mengerti apa yang sudah ia akan tanyakan.
"Aku pikir tunanganmu tidak akan pernah berani melakukan hal itu kepadamu. Kecuali, dia menjebakmu. Apakah kau melihat tanda merah ada di sprei saat itu?" tanya Roy sembari menunjukkan kembali jemarinya tepat di wajah Ana. Dia spontan terpaku.
Kedua mata Ana mengernyit. Dia berusaha mengingat apa yang sudah terjadi saat itu. Aku pun resah, berharap Ana tidak melihat sesuatu yang sudah dikatakan Roy barusan.
"Hei, Ana! Ayolah! Kau sebaiknya mengingat apa yang sudah terjadi, saat kejadian yang kau alami itu. Kenapa aku mengatakan hal itu, karena dia akan menghancurkan karirnya sendiri sebagai seorang dokter di universitas itu. Jika berita itu menyebar. Dia sama saja terjun ke dalam jurang. Hmm, dia tidak akan pernah melakukan hal buruk seperti itu. Dan, aku yakin kau hanya dijebak olehnya. Dia ... itu licik."
Ana menarik napas panjang sebelum akhirnya dia berkata, "Aku sama sekali tidak memikirkan hal itu. Dan, aku sangat polos ketika mempercayainya. Aku saat itu menjerit dan segera mendorong tubuhnya. Aku memakai pakaianku, berlari cepat keluar dari kamar itu. Tapi, aku yakin tidak melihat noda merah yang tertempel di sprei itu."
Hatiku rasanya bergemetar lemas. Sekujur tubuhku yang kaku, sepertinya mulai longgar. Seharusnya aku bersemangat ketika mendengar Ana mengatakan hal itu. Tapi, ternyata aku semakin lega dan semakin lemas. Aku membutuhkan udara. Aku berjalan sedikit gontai menuju ke kursi sofa dan segera menyandarkan punggungku.
"Hahaha. Hei, dia laki-laki yang sangat kurang ajar. Beraninya menjebak seperti itu. Untung saja kau memiliki sepupu yang sangat berpengalaman seperti aku. Hah, jangan pernah percaya dengan apa yang dilakukan seorang pria tidak tahu diri kepadamu."
Roy berjalan mendekati lemari es. Dia mengambil dua botol minuman dingin, dan segera memberikanku salah satunya. Dengan cepat aku meneguknya hingga habis. Sungguh benar-benar aku merasa lega. Semoga saja Ana tidak mengalami hal yang sangat buruk seperti itu lagi.
"Aku kenal dengan dokter wanita yang bisa memeriksa bagian sensitif itu. Setelah Midas melakukan pertarungan, kita akan pergi ke sana dan memeriksa. Apakah dirimu masih suci, atau tidak. Dan, aku yakin kalau aku melihat dari bentuk tubuhmu, kau masih sangat suci seperti seorang Dewi."
Roy mengangkat botol minumannya tinggi, sebelum dia akhirnya meneguk sisanya sampai tidak tersisa. Dia tersenyum ke arah kami. Namun, kami berdua masih dengan tegang membalas tatapan yaitu.
"Untung saja kau dengan cepat memberitahukan hal ini kepada aku. Yah ... aku benar-benar tidak bisa berkata apa pun," ucap Ana lalu mendekatiku dan duduk di sebelah kami. Kami berpelukan kembali, membuat Roy menggelengkan kepala, kemudian menepuk jidatnya.
"Sudahlah, jangan bermesraan di depanku. Karena aku tidak suka. Kalian seperti putri dan pangeran saja dalam negeri dongeng. Sungguh menyebalkan. Sekarang kita lebih baik menuju pertarungan itu. Selesaikan masalahmu dengan baik. Jangan sampai kau menjadi buronan. Aku pun juga tidak suka menjadi buronan. Kita akan mulai membalas semua orang ... dan memperbaiki kehidupanmu."
Aku tidak tahu lagi harus berkata apa kepada Roy. dia sudah membuatku kembali bersemangat. Yang terpenting, aku dan Ana baik-baik saja.
Kita akan pergi sekarang. Aku akan menemui Dad dan Abdul. Aku harus memenangkan semua. Lalu aku akan menemui Dokter Alberth. Aku harus kembali ke universitas itu. Banyak sekali yang harus aku lakukan. Setelah semua selesai, aku akan menikahi Ana.
"Kau lupa satu hal, Midas." Roy kembali menatapku tegang. Aku menjadi tegang kembali. "Kau harus mengambil milikmu kembali. Walaupun dia ayahku, aku juga tidak ingin dia menguasai semua milikmu," lanjutnya.
Memang aku harus merebut hakku. Bukan karena kekayaan itu. Tapi, rumah sakit megah itu peninggalan ayahku. Paman tidak pernah ikut andil di dalamnya. Dia tidak menjadi dokter, dan dia saat itu membiarkan ayahku bersama Kakek membangunnya dari nol.
Sekarang aku akan membalas semua yang sudah mereka ambil. Aku akan merebutnya dengan cara yang lebih cerdas.
"Sebaiknya memang kau harus melakukan hal itu. Tapi ... pertarungan itu sangat mengerikan. Kita harus ke sana."
"Tapi, minumlah obat ini. Kau baru saja mengalami hal buruk. Kepalamu masih sakit. Bisakah kita menunda beberapa jam?"
Ana, kau akan memelukku di dalam mobil. Aku akan terlelap, dan kau membangunkan aku. Kita tidak bisa menunda ini.
"Aku membawa beberapa aspirin," jawabnya.
"Baiklah. Ayo kita selesaikan masalah ini."
Aku akan membalas mereka semua!