Lamaran Midas

1603 Kata
Seseorang memanggilku dengan sangat mendadak. Aku menolehkan pandanganku ke belakang. Namun aku terkejut benda yang cukup keras melesat dengan kencang dan menabrak tubuhku hingga membuatku terpental sangat jauh. Buk! Aku merasa berada di alam lain. Aku berada di dalam bayangan yang sama sekali tidak terlihat dengan jelas. Sepertinya aku kembali mengalami sakit yang luar biasa. Lebih tepatnya lagi, aku mengalami kecelakaan. "Aduh bagaimana ini? Adakah yang bisa membantuku? Tolonglah! Dia tidak sadar. Mas! Apakah kau baik-baik saja? Aduh, ini benar-benar tidak baik. Apa yang harus aku lakukan?" Seseorang sudah membantuku. Tapi aku tidak tahu itu siapa. Aku hanya mendengar suaranya. Aku tidak berada di rumah sakit, itu yang melegakan hatiku. Aku hanya merasakan kepalaku sangat pusing. Aku mengalami benturan ringan. Namun, cukup keras. "Apakah kau baik-baik saja, Mas? Katakan sesuatu! Maafkan, aku tadi mengebut dan tidak tahu arah. Aku hanya ingin sampai di dalam rumah. Seseorang menghubungiku agar aku cepat sampai di rumah. Dan, aku tidak melihat dirimu di jalanan. Tolong katakan sesuatu. Mas, bangunlah!" Aku masih mengatur napasku dengan baik. Kedua mataku yang kabur perlahan kembali normal. Aku tidak boleh melawan rasa lemas ini dengan tenagaku. Aku akan benar-benar kehilangan semua tenaga yang masih tersimpan di dalamnya jika aku melakukannya. Jadi aku harus pelan-pelan untuk tersadar sepenuhnya. "Midas! Oh Tuhan, apa yang terjadi? Kenapa kamu seperti ini?" Roy tiba-tiba datang. "Apa kau menabrakya? Kau benar-benar sangat menyebalkan! Lihatlah, kau harus bertanggung jawab!" Aku mendengar suara Roy sangat kesal. Tapi, aku melihat Ana menangis berada di sebelahnya. Yang membuat aku lega, sepertinya tubuhku tidak pernah parah. Memang aku tertabrak ujung sepeda motor itu. Untung saja kepalaku baik-baik saja. Namun, rasa pusing masih saja kurasakan. "Maafkan saya, Mas! Saya benar-benar tidak melihat tadi ada seseorang di tengah jalan. Saya akan bertanggung jawab dan membawanya ke rumah sakit," ucap lelaki yang menabrakku dengan cemas. Apalagi Roy menatapnya dengan marah. "Sebaiknya kau memang lakukan itu. Karena ini murni kesalahanmu. Aku pasti akan membuatmu bertanggung jawab. Kau sudah membuat saudara sepupuku ini tergeletak seperti ini. Ah, Midas. Sebaiknya aku akan membawanya kembali ke dalam kamar." "Maafkan aku, Midas. Hah, gara-gara aku kau mengalami hal yang sangat buruk. Aku tidak ingin kau marah. Tapi aku harus mengatakanya." Aku menatap Ana dengan senyuman. Kini aku benar-benar tersadar. Dengan jelas aku mulai menerima uluran tangan Roy yang menarikku, kemudian memapahku. "Mas, aku akan bertanggung jawab. Sudahlah, biarkan aku mengobatinya." Seseorang yang sudah menabrakku berusaha menarikku dari tangan Roy. Dia sangat cemas. Wajahnya pucat pasi. Dengan cepat aku menggelengkan kepala. Dia harus segera pulang karena ada seseorang yang membutuhkannya. Aku tidak akan pernah mengikatnya untuk bertanggung jawab. Lagi pula aku sudah baik-baik saja. Aku menghentikan langkah, kemudian menatap Roy tang sepertinya sangat kesal dengan lelaki yang sudah menabrakku itu. Dia akan memaksanya untuk bertanggung jawab. Roy. Dia memiliki urusan yang sangat penting. Sudahlah. Biarkan saja dia pergi. Lagi pula aku baik-baik saja. "Hei. Ini tidak bisa aku terima. Lihatlah, dirimu sangat berantakan seperti itu. Yah, dia tetap harus bertanggung jawab. Midas, semua kesalahan harus dipertanggungjawabkan. Hei, kau jangan menjadi orang yang terlalu baik. Gara-gara perasaanmu yang halus itu, kau selalu saja mendapatkan masalah," ucapnya dengan sangat kesal. Aku tetap menggelengkan kepalaku. Aku tidak tega melihat lelaki itu yang berusaha meminta maaf. Namun, semakin mendapat kemarahan dari Roy. Roy. Aku tidak mau ada seseorang yang mengikutiku, dan itu adalah yang terbaik. Sudahlah, lebih baik kita kembali ke apartemen saja. Biarkan dia pergi. Akan lebih rumit jika dia nantinya akan bersama kita. Bagaimana jika tiba-tiba ada musuh datang. Yah, dia akan terlibat. Kau jangan lupa. Kita ini buronan. "Buronan? Apa maksud kalian?" tanya Ana terkejut. Aku dan Roy hanya diam saja, tidak memberikan respon kepada Ana yang masih menunggu jawaban dari kami. "Jadi, kalian tidak menjawab? Baiklah, aku akan menanyakannya lagi nanti," ucap Ana sembari berkacak pinggang. "Maafkan. Aku sama sekali tidak mengetahui bahasa isyarat. Tapi, sepertinya kau akan memaafkanku bukan? Aku harus pergi. Orang di rumah sangat membutuhkanku. Nanti, aku akan mencari kalian dan bertanggung jawab." "Baiklah, pergilah sana! Dan, jangan pernah terlihat lagi di sini! Hei, jika aku sampai melihatmu, kau akan termakan oleh kemarahanku. Jangan sampai kau terlihat!" ucap Roy membuat lelaki itu tersenyum dan menganggukkan kepala. Dia segera berlari menuju motornya dan berlalu begitu saja. Roy kembali memapahku hingga sampai ke dalam apartemen. Kami langsung masuk ke dalam kamarnya. Aku sangat lega. Kamar itu ternyata bersih. "Baiklah, kalian akan aku tinggalkan. Katakan apa yang harus kau katakan, Midas. Kau tak sendiri, Midas. Semua masalah jangan kau selesaikan dengan kepalamu yang dipenuhi amarah itu. Argh, inilah akibatnya. Sekarang kau tidak bisa berbuat apa pun. Bahkan kau tidak bisa bertarung." "Bertarung? Apa maksudmu, Roy? Apa maksud dengan perkataanmu barusan? Aku sama sekali tidak mengerti.Tapi kini aku sadar setelah mengamati ini semua, dan sepertinya dia mengikuti pertarungan jalanan. Katakan jika itu tidak benar!" bentak Ana menatap kami kesal. "Kalian buronan, dan sekarang petarung jalanan?" Ana memegang kepalanya. Dia pasti sangat frustasi. Roy mengatakan sesuatu. Dengan tidak sengaja dia membuka rahasia aku di depan Ana. Tapi memang aku berencana untuk mengatakannya. Aku tidak akan pernah menyembunyikan apa pun darinya. Aku sangat takut jika mengakui bahwa mereka semua sudah pernah menikmati bibirku. Namun, aku menjunjung kejujuran dan dia sebaiknya tahu hal itu. "Baiklah, kau sebagai mengaku, Midas! Tidak ada yang perlu kau sembunyikan lagi kepadanya. Kau harus mengatakannya, atau aku yang menjelaskan semuanya kepada Ana. Tapi sebaiknya sekarang kami harus mengobatimu dan kita tidak membutuhkan dokter. Karena sekarang ada dokter di sini. Ana, sebaiknya kau mengobatinya. Aku memiliki kotak pengobatan dalam lemari itu. Aku akan meninggalkan kalian berdua. Jangan pernah bertengkar dan selesaikan masalah ini dengan baik. Terutama kau, Midas!" Roy keluar dari kamar dan membiarkan kami berdua saja. Ana segera mengambil kotak obat dan mulai membersihkan sedikit luka-luka yang berada di kepalaku dan tanganku. Aku mengamatinya dengan saksama. Aku sangat takut mengungkit kejadian mengerikan yang barusan dia alami itu. Tapi aku juga harus mengetahuinya. "Jadi kau melakukan pertarungan jalanan? Midas, untuk apa? Apakah kau tahu pertarungan itu sangat membahayakanmu? Kau bisa kehilangan nyawa. Kini aku baru tahu kenapa kau tidak mau menghubungiku. Ternyata kau melakukan hal seperti itu, dan itu sangat mengecewakan diriku." Aku segera menatap Ana ketika dia selesai mengobati diriku. Aku hanya ingin dia menceritakan kejadian yang sebenarnya. Ana, ceritakan yang sebenarnya. Aku ingin mengetahuinya. Ana terdiam. Dia kembali menundukkan kepalanya. "Dia memaksaku, Midas. Aku tak kuasa melawannya. Dia menutup mulutku dengan obat bius. Aku pingsan. Ketika aku bangun ..." Ana kembali menghentikan ucapannya. Aku semakin menahan amarah. Tega-teganya lelaki itu melakukan sesuatu hal buruk kepada Ana. Dia memang tidak tahu diri! Ana, katakan semua. Aku harus mengetahuinya. "Ketika aku terbangun, aku sudah tidak berpakaian! Kau puas! Aku sudah dinodainya, Midas! Aku sudah tidak suci lagi!" teriaknya keras. Aku menarik dan memeluknya. Dia menangis dalam dekapanku. Aku kembali menatapnya, dan menghapus air mata yang membekas di wajahnya. Tapi, aku harus membuat lelaki itu bertanggung jawab. Aku harus memutuskan sesuatu yang sangat berat. Mungkin aku harus melepaskan Ana, karena sudah jelas tunangannya yang harus bertanggung jawab kepadanya. Jika aku mengambil Ana, itu tidak adil. Jika dia mengandung, anak itu tidak akan pernah mengetahui siapa ayahnya yang asli. Walaupun aku masih tidak yakin. Apakah Ana akan mengandung atau tidak. Yang jelas, siapa yang berbuat, harus yang bertanggung jawab. Hal itu membuat hatiku sangat hancur! Aku menariknya, dan kembali mendudukkannya di ujung ranjang. Aku segera duduk di sebelahnya. Kami harus berbicara dengan kepala dingin. Ana. Jika dia sudah melakukannya kepadamu. Kau harus bersamanya. Dia akan bertanggung jawab jika kau mengandung. Ana terdiam, terpaku menatapku. Dia segera beranjak dari duduknya dan berkacak pinggang di hadapanku. Dia sangat marah kepadaku. "Jika dia sudah membuatku mengandung, aku tetap akan menghindar. Dia tidak akan pernah menjadi ayah dari anakku. Apakah kau tahu itu? Dan, jika kau pun tidak menginginkan diriku, aku akan menerimanya. Aku akan menjadi wanita dengan kuat, membesarkan anakku sendirian. Kau tidak perlu repot memikirkan hal itu!" Ana membuang semua perban yang masih berada digenggamannya. Dia segera berjalan keluar dari kamar. Aku segera bangkit dan berjalan cepat menariknya sebelum dia keluar dari kamar. Aku memandangnya, dan tidak tahan melihat wajah sendu itu. Aku segera mendaratkan bibirku dan memberikan sesuatu yang sangat hangat kepadanya. Dia pun membalasnya. Kami melakukan dengan sangat mesra. Kami saling menikmati penyatuan bibir ini. Dengan perlahan, tanpa sadar. Aku sedikit menyentuh punggungnya. Hal itu membuatnya semakin memelukku. Aku tidak akan pernah meninggalkannya. Walaupun dia nantinya benar-benar mengandung, aku yang akan bertanggung jawab. Aku tidak bisa hidup tanpa Ana. Kami masih melakukan penyatuan ini dengan sangat dahsyat. Hingga aku benar-benar tidak bisa menahan hasratku. Aku menggendongnya, membawanya menuju ranjang. Aku merebahkan tubuhnya sambil terus menikmati bibir merekah miliknya. Aku benar-benar ingin memilikinya. Tidak peduli bagaimana statusnya. Ana masih saja menikmati belaianku. Entahlah, dia menerima sentuhanku begitu saja. Bahkan, ketika aku membuka kancing bajunya satu persatu. Aku mulai menyentuh sesuatu yang sangat menggunung dengan indah itu. Hasratku tidak bisa terbendung lagi. Benar kata Roy. Lelaki tidak bisa menahannya. Dan, aku merasakannya. "Midas. Jika kau mau memilikiku, aku akan memberikannya sekarang juga. Aku hanya mau kau yang melakukannya. Midas, miliki aku. Aku sangat mencintaimu," bisik Ana dengan tangisan. Aku menghentikan bibirku yang sudah mulai menelusuri lehernya. Aku menatapnya. Tidak seharusnya aku menikmati tubuh Ana sebelum benar-benar sah dengannya. "Jika kau tidak mau melakukannya, paling tidak kita melakukannya sekali sebelum berpisah," ucapnya sekali lagi. Tidak aku sangka. Dia mau menyerahkan dirinya begitu saja kepadaku karena rasa cintanya. Ana. Aku ingin kita menikah. Ya. Kita harus menikah. Tidak perlu kau katakan apa yang sudah dilakukan tunanganmu itu kepadamu. Kita akan menikah dan aku akan menemui kedua orang tuamu. Tapi, aku harus menyelesaikan pertarungan itu. Aku mohon, kamu harus mengerti. Setelah semua selesai, terimalah lamaranku. Ana, maukah kau menikahiku?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN