Aku memeluknya erat. Aku sangat merindukannya. Aku bersalah. Ana ternyata sangat menderita.
Ana, jangan seperti ini. Aku hanya menghilang dua hari saja. Kenapa kau seperti ini, Ana. Aku mohon, jangan ...
Ana menatapku dengan sendu. Kedua matanya mencembung air mata. Aku tidak tahan melihatnya.
"Kalian sebaiknya membicarakan masalah ini di tempat pribadi. Lihatlah. Semua mata memandang. Hmm, kalian butuh kamar dan berbicara."
Saran dari Roy memang benar. Kita membutuhkan ruangan pribadi. Aku tidak mau Ana terlihat menyedihkan seperti ini.
Di mana mobilmu, Ana?
Ana menunjukkan ujung jalan. Aku menggendongnya. Semua orang memandang kami. Aku tidak mempedulikannya. Mungkin ini bagi mereka adalah adegan romantis seperti di dalam film.
"Kalian seperti pangeran dan putri kerajaan dalam negeri dongeng. Hmm, kau ternyata sangat romantis. Baiklah, kita akan menuju apartemenku. Sepertinya itu yang terbaik."
Aku duduk di kursi belakang masih memeluk Ana. Dia tidak berkata apa pun. Aku pun masih diam.
Roy terus melesatkan mobil Ana. Terkadang dia menatap kami kaca spion. Dia menggelengkan kepala ke arahku saat aku membalas tatapannya. Aku tahu. Dia pasti sangat menyayangkan perbuatanku ini. Wanita sangat rapuh. Aku seharusnya menyadari itu.
Dalam sekejap mobil sampai di apartemen Roy. Kami mengamati sekitar. Semoga saja tidak ada yang menemukan kami.
"Midas, sepertinya aman. Kita akan masuk ke dalam."
Roy membuka pintu mobil. Dia berlari menuju pintu masuk apartemen. Aku melakukan hal yang sama. Ana aku tarik, ikut berlari denganku.
Kami bertiga segera memasuki lift, menuju lantai kamar Roy. Tanpa menolehkan pandangan ke mana pun, kami segera masuk ke kamar Roy.
Aku terpaku melihat kamarnya. Benar-benar sangat berantakan. Aku merapikan sofa cokelat yang penuh dengan baju kotor.
Roy hanya meringis sambil membantuku.
"Maafkan aku. Kau tahu sendiri. Aku hidup sendiri, dan inilah laki-laki. Hehe," ucapnya sambil menatapku. Senyumannya sangat mengesalkan.
Kau selalu saja seperti ini dari dulu. Berantakan, dan susah diatur.
Roy menggaruk-garuk kepalanya yang tidak terasa gatal. Itu adalah ekspresi yang selalu dia lakukan jika melakukan kesalahan.
Aku mendekati Ana yang masih berdiri. Aku menariknya, hingga dia duduk di kursi sofa.
"Baiklah, aku akan masuk ke dalam kamar dan mandi. Argh, aku sangat gerah. Kalian selesaikan masalah di sini. Aku harap kalian bisa menyelesaikan dengan baik."
Roy melambaikan tangan, kemudian masuk ke dalam kamar. Aku melirik Ana yang masih saja menundukkan kepala. Entahlah aku harus memulai dari mana untuk berbicara kepadanya. Aku hanya ingin memeluknya saja. Dan, itu yang aku lakukan sekarang.
Aku mendekapnya erat sambil mengelus-elus punggungnya.
"Kenapa kau meninggalkanku, Midas. Aku menunggumu sangat lama. Aku mencarimu ke mana-mana. Kau sama sekali tidak memberiku kabar."
Ana berbicara dengan terisak. Aku semakin hancur melihatnya. Baru kali ini aku menyakiti wanita. Apalagi aku sangat mencintainya.
Aku memegang kedua pipinya. Memberikan tatapan lembut. Entahlah aku harus berkata apa. Namun, aku harus tetap akan mengatakan sesuatu.
Ana. Maafkan. Aku ... tidak tahu harus menjelaskan apa. Tidak tahu harus memulai dari mana. Tapi, aku memang harus jujur.
"Katakan semuanya Midas. Aku juga akan mengatakan hal buruk denganmu. Aku ... hampir saja," ucap Ana tiba-tiba terhenti.
Aku mengernyit, menatapnya serius. Perkataannya barusan membuatku sangat cemas. Hal buruk apa yang terjadi dengannya? Hatiku rasanya kaku seketika. Apalagi Ana semakin menangis dan menutup wajah dengan kedua tangan.
Aku menarik tangannya. Aku mau dia menatapku. Aku tidak mau dia seperti ini. Aku hanya mau dia menjelaskan semuanya.
Ana, kenapa? Apa yang sebenarnya terjadi? Ana, katakan kepadaku.
Kedua mataku melotot. Melihat tanda merah di lehernya. Aku benar-benar sangat takut. Tanda itu seperti pukulan seseorang. Apakah ada yang melakukan tindakan kasar kepadanya? Astaga, apa yang terjadi?
Ana, kenapa dengan lehermu. Kau dipukul seseorang? Ana, aku mohon. Jangan menyembunyikan apa pun kepadaku. Aku tidak mau kau terluka. Katakan! Siapa yang melakukan itu, Ana!
Ana semakin menangis. Aku kebingungan. Aku spontan berdiri, memegang kepalaku. Aku mengatur hatiku yang meluap karena rasa marah. Aku tidak akan pernah memaafkan siapa pun yang menyakitinya!
Aku kembali mendekati Ana. Dia menatapku dengan wajah sembabnya.
Katakan, Ana. Kenapa dengan dirimu. Aku mohon. Aku akan membalas siapa pun yang melakukan ini kepadamu.
"Waktu itu aku mencarimu ke kampus saat malam. Aku ...," ucapnya terhenti lagi. Dia menarik napas panjang sebelum akhirnya melanjutkan perkataannya, "Aku bertemu tunanganku. Dia menarikku, Midas! Memasukkanku ke gudang! Aku ....," ucapnya terhenti lagi.
Dia, sudah melecehkan Ana. Dan itu kenyataannya. Aku sangat bergemetar. Apakah dia sudah mengambil kesucian Ana? Jika itu terjadi, aku akan benar-benar menghabisinya!
Ana, katakan yang sebenarnya!Jangan pernah menghentikan ucapanmu itu. Cepat katakan apa yang terjadi, Ana! Apakah dia sudah melakukannya hingga berhasil memiliki kesucianmu? Tolonglah, jangan menangis! Cepat katakan yang sesungguhnya! Apakah dia berhasil melakukannya, Ana?
Aku menatapnya dengan sangat tajam. Dia semakin menangis dan menundukkan kepalanya. Kini aku yakin. Apa yang dilakukan tunangan Ana memang sangat kejam! Yah, sudah jelas-jelas dia yang melecehkan Ana dan melakukan hal itu kepadanya. Aku tidak akan pernah membiarkannya. Aku akan membuat dia membayar apa yang sudah dilakukan kepada Ana sekarang juga!
Aku berlari menuju pintu kamar. Aku ingin keluar dan segera menemuinya, lalu menghajarnya sampai habis! Aku tidak peduli akan masuk penjara jika aku sudah menghajarnya. Dan, itu yang akan aku lakukan.
"Midas! Kau sebaiknya harus bersikap sopan kepada wanita. Aku mengintipmu, dan aku melihat kau sangat marah kepada kekasihmu. Apa yang terjadi?" ucap Roy. Dia tiba-tiba keluar dari kamar. Namun, dia tiba-tiba terdiam melihat Ana menangis seperti itu. Aku menghentikan langkah dan spontan menendang meja yang ada di hadapanku.
Brak!
"Oh Tuhan, Midas. Apa yang kau lakukan? Meja itu aku pesan khusus di luar negeri. Kenapa kau menghancurkan begitu saja? Adakah yang bisa menceritakan apa yang terjadi?" ucap Rou sembari mengangkat kedua tangannya.
"Midas, tunggu!"
Roy semakin terkejut saat Ana berdiri dari kursi sofa. Dia mengamati leher Ana yang sudah lebam. Kedua bola matanya tampak membesar tak percaya. Dia menggelengkan kepalanya sembari menarik napas panjang.
"Apakah itu pukulan dari seseorang? Apakah kau mengalami pelecehan dari seseorang? Midas! Jelaskan kepadaku! Siapa yang sudah melakukan itu kepada Ana!" teriak Roy semakin terkejut. Dia juga tidak suka melihatnya. Roy menarik napas panjang.
"Midas, kau sebaiknya bersabar. Hadapi ini dengan tenang. Aku tahu kau emosi. Tenang!" Roy berusaha menenangkanku. Namun, hatiku sangat terbakar!
Ana menghampiriku dan menarikku. Dia menggelengkan kepala. Dia tidak ingin aku pergi, namun tidak bisa mengungkapkannya. Dia masih saja menangis. Sementara Roy diam, mengamatiku dengan pelototan yang sangat tajam.
"Midas, maafkan aku. Kita tidak bisa bersama lagi. Kau benar! Dia berhasil melakukannya. Aku, sudah tidak ..."
Brak!
Aku membuka pintu kamar. Aku berlari dalam tangisan. Aku akan benar-benar menghajarnya! Aku tidak akan memaafkannya. Tidak peduli apa pun, aku aka. menbuatnya membayar semua yang dia lakukan! Dia harus bertanggung jawab.
Bagaimana jika Ana mengandung? Apakah aku harus merelakannya? Dia adalah wanita impianku. Kenapa aku tidak bisa menjaganya? Aku benar-benar hancur. Ana, aku sangat mencintaimu. Ana!
"Mas, awas!"