Aku berlari bersama Roy untuk menghindari anak buah petarung yang sudah Roy bius itu. Dan, aku hanya menatap ke depan tidak menolehkan pandangan sama sekali. Kami terus berlari sekuat tenaga untuk menghindar. Entahlah kami harus menuju ke arah mana. Yang penting kita terus berlari.
"Kenapa kau selalu saja memberikan ide yang sangat buruk? Lihatlah! Kita akan dapat masalah baru. Argh, jumlah mereka ada lebih dari sepuluh orang. Tidak kusangka petarung itu ternyata Bos preman yang berada di sekitar sini."
Aku tidak menanggapi perkataan Roy. Kami terus berlari begitu saja. Namun, kami sepertinya berhasil menghindar dari mereka. Hanya saja mobil Roy masih tertinggal di sana, dan kami kini tidak memiliki kendaraan apa pun.
"Kita sebaiknya berada di dalam gudang itu. Agar tidak tertangkap oleh mereka," ucap Roy dengan terpatah-patah. Dia masih mengatur napasnya yang terengah-engah. Aku pun juga merasakan hal yang sama.
Aku mengikuti Roy berjalan, menuju gudang itu. Namun, sepertinya terkunci. Tanpa berpikir panjang lagi, aku segera menendangnya, "Brak!"
Hingga membuat pintu itu rusak. Sepertinya ini adalah gudang yang terbengkalai dan tidak masalah jika aku melakukannya.
"Ayo kita masuk dan segera tutup kembali pintu ini." Dengan cepat aku masuk ke dalam. Roy segera mengikutiku.
"Kenapa kita selalu mengalami semua masalah. Hah, masalah satu belum selesai harus menghadapi masalah yang lainnya. Sekarang kita tidak bisa keluar dari sini ini. Gudang ini sangat kotor. Apa yang harus kita lakukan?" gumam Roy tanpa henti. Aku paham dengan perasaannya.
Perlahan aku mendekatinya, kemudian menepuk pundak sebelah kanannya. Dia seketika menatapku dengan kedua mata yang lebar.
Kita akan keluar dari sini setelah tenaga kita kembali lagi. Kita akan kembali ke sana. Aku akan menghajar mereka satu persatu. Kau tidak perlu kawatir. Aku yang akan bertanggung jawab.
"Kau pikir aku akan membiarkan hal itu terjadi? Tentu saja tidak. Apa pun resikonya, kita harus menanggungnya bersama. Karena itu adalah yang terbaik," balas Roy sembari menggeleng. Aku hanya tidak mau Roy terlibat. tapi, aku memang sudah melibatkan dirinya dalam hal apa pun. Jika dia keluar, sepertinya itu sudah terlambat.
Kami mengamati semuanya dan ternyata keadaan semakin membaik.
Roy, keadaan semakin baik. Sebaiknya kita keluar dari sini. Percayalah padaku. Tidak akan pernah ada yang akan mengganggu kita. Jika pun ada, aku akan menghajarnya!
"Entahlah, Midas. Kau ya, memang sangat tidak waras. Tapi sepertinya aku memang harus percaya kepadamu. Jika kita terus sembunyi di sini, kita tidak akan pernah bisa keluar. Lebih baik kita menampakkan diri dari pada harus menyerah dan sengsara di sini.
Ya sudah. Kau ikuti aja aku dari belakang. Jangan pernah lepas dari tubuhku, karena jika ada sesuatu padamu aku akan merasa kerepotan.
"Hei, bukankah kau yang selalu merepotkanku? Berarti sekarang kau harus membalas budi kepadaku. Jangan pernah seperti itu," balasnya dengan menepuk pundakku cukup keras. Pandangannya sangat tajam. Aku hanya sedikit tersenyum kepadanya.
Kami pun perlahan kembali melihat semua arah, dan ternyata memang sangat sepi. Semoga saja mereka tidak mengejar.
"Spertinya aman, Midas. Ayo keluar!" Roy semakin menarikku. Kami segera keluar dari gudang ini dan terus mengendap. Hingga melihat mobil Roy yang tidak jauh dari posisi kami.
"Argh! Untungnya mobilku baik-baik saja. Sepertinya memang mereka tidak ada dan menyerah. Kita harus menuju ke sana. Ayo, jangan buang waktu lagi."
Saat Roy akan segera melangkahkan kakinya, aku menarik lengannya dengan cepat. Aku merasakan hawa yang tidak enak. Sepertinya mereka mengintaiku bersama Roy diam-diam, dan akan muncul ketika kita mendekati mobil itu. Ini adalah jebakan dan sebaiknya aku bersama Roy tidak memperlihatkan diri.
"Midas, apa yang kamu tunggu? Kita keluar saja. Aku sudah tidak tahan ingin menuju ke mobil dan merebahkan punggungku yang sangat sakit ini. Kau tau sendiri aku baru saja melakukan dengan dokter wanita itu selama dua kali. Ah, lututku rasanya kaku. Apalagi ditambah lari tadi. Hmm, semua tulang di tubuhku ini benar-benar seperti batu. Sangat kaku dan tidak bisa pecah!"
Aku segera menutup mulut dengan jariku. Roy mengernyit, melihatku. Dia masih tidak mengerti apa yang sedang aku lakukan.
"Midas, kau ini ini kenapa? Apakah ada yang mengintai kita?"
Dengarkan! Roy, ini adalah jebakan. Jadi jangan pernah ribut. Lihatlah, aku melihat semua para preman itu bersembunyi di dalam ruangan yang berada tepat tidak jauh dari posisi mobilmu. Aku melihat salah satu dari mereka berdiri di sana, lalu kembali menunduk. Mereka akan keluar ketika kita mendekati mobil itu, dan kita akan tertangkap. Sebaiknya kita meninggalkan mobilmu saja. Kau akan mengambilnya, atau kau akan membelinya yang baru.
"Aku benar-benar sangat celaka. Tidak aku sangka, aku akan menemuimu dengan semua masalah rumit yang sudah kualami ini. Ah, padahal saat kau meninggalkan rumah, aku pikir kau akan menjadi seseorang yang gelandangan atau kau apalah. Ternyata, kau menjadi buronan dan aku salah satu dari buronan itu. Ini sangat menyebalkan."
Aku hanya diam tidak menanggapi perkataan Roy. Yang jelas, aku menariknya untuk pergi dari sana. Roy terus mengikutiku. Kami terus berjalan ke depan dan mencari cara untuk segera pergi dari sini. Hingga aku melihat halte bus.
Roy, ada halte bus di sana. Kita menaikinya segera. Ayo!
Aku menarik lengan Roy, berlari mencegah bus itu yang akan segera melesat.
"Tunggu!" teriak Roy keras. Dia sepertinya membuat bus itu berhenti.
Kami naik tepat pada waktunya. Tidak aku percaya. Setelah aku menolehkan pandangan kebelakang, ternyata aku melihat mereka berlari dan mengangkat tinggi kayu yang sudah mereka pegang untuk memukul kami sebelumnya.
"Ah ... kali ini kita beruntung, Midas. Jika tidak, kepala kita pasti akan ... Argh! Aku tidak mau membicarakannya. Kita sebaiknya mencari tempat duduk saja. Untung di dalam bus ini sepi penumpang."
Kami akhirnya duduk dengan wajah yang pucat pasi. Namun, hati kami lega. Kami sudah terbebas dari pukulan mereka semua.
"Kita tidak bisa menemukan petarung keempat dan kelima. Bagaimana kita bisa mencegah pertarungan itu? Yah, kita tidak bisa kembali ke mobil itu, karena alamat yang kita tuju berada di sana," ucap Roy menatapku dengan sangat serius.
Tidak masalah. Sebaiknya kita pergi ke pertarungan itu saja. Tidak perlu menggunakan cara curang seperti ini. Aku anggap ini tidak benar. Makanya kita mengalami hal seperti ini.
"Kau ini seperti orang yang paling jujur saja. Hei, di dalam sana tidak ada yang seperti itu, Midas. Tapi, ya sudahlah. Mau bagaimana lagi. Kita tidak bisa berbuat apa pun selain benar-benar pergi ke sana."
Saat aku melihat jalanan, ternyata aku menatap sesuatu yang sama sekali tidak aku duga.
Ana? Kenapa kau ada di sana? Apakah itu memang benar dia?
Kenapa ada Ana duduk di salah satu halte bus dengan menangis, dan mendudukkan kepala? Apakah karena diriku dia melakukan itu?
"Midas! Bukankah itu Ana. Yah, tidak salah lagi. Memang itu benar dia. Lihatlah dia! Ana menangis seperti itu di depan halte bus. Apa gara-gara dia sudah menunggumu? Kau sebaiknya menemuinya, Midas."
Aku berdiri segera mendekati sopir. Aku menunjukkan jalan agar sang sopir berhenti. Untung saja dia mengerti dan menghentikan bus itu. Roy mengikutiku dengan cepat.
Aku terus berlari untuk menemuinya. Aku tidak ingin melihat dia seperti itu. Aku sangat mencintainya. Aku tidak mau membuat dirinya bersedih gara-gara diriku. Memang aku salah. Aku tidak menghubunginya. Aku tidak bisa melakukan hal ini!
"Midas, kau berada di sini? Apakah ini memang dirimu, atau aku hanya membayangkannya? Karena aku sejak kemarin mencarimu dan tidak menemukan dirimu sama sekali. Apakah ini memang benar-benar dirimu? Aku menganggapmu sudah mati. Atau, apakah aku yang sudah mati?"
Ini memang aku, Ana. tolong jangan seperti ini. Aku mau minta maaf. Aku tidak akan pernah mengulanginya lagi. Ini memang benar diriku.
"Midas ..."